kumparan
20 Mar 2019 21:14 WIB

Kesbangpol Jateng Siap Pertanggungjawabkan Dana Apel Kebangsaan ke KPK

Suasana lapangan simpang lima semarang. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan
Pro dan kontra penyelenggaraan Apel Kebangsaan 'Kita Merah Putih' di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, Minggu (17/3), masih menjadi perbincangan banyak pihak.
ADVERTISEMENT
Bahkan, sejumlah advokat yang tergabung dalam Advokat Bela Keadilan (Abeka), hendak melaporkan penyelenggara acara itu ke KPK dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).
Acara Apel Kebangsan itu diinisiasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Dilansir dari sistem e-lelang Pemprov Jawa Tengah, kegiatan Apel Kebangsaan dimenangkan oleh PT. Potensindo Global. Pos dana diambil dari Satuan Kerja (Satker) Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jateng dengan nilai Rp 18 miliar. Itu artinya, acara tersebut menggunakan APBD.
Habib Ali Zaenal Abidin bersama Kanzuz Shalawat Azzahir menghadiri acara Apel Kebangsaan di lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jawa Tengah (Jateng), Achmad Rofai, mengaku siap jika seandainya nanti diperiksa KPK untuk mempertanggungjawabkan penyelenggaraan Apel Kebangsaan Kita Merah Putih.
“Kami siap-siap saja. Niat awal kami kan memang transparan, jujur, dan kredibel. Kenapa harus takut. Saya takut hanya sama Gusti Allah. se-Rupiah pun akan kita pertanggungjawabkan,” ujar Rofai saat dihubungi, Rabu (20/3).
ADVERTISEMENT
Menurut Rofai dana Rp 18 miliar untuk menggelar acara Apel Kebangsaan cukup sebanding. Apalagi tujuan dari digelarnya acara itu sangat bermanfaat, yakni untuk merawat kerukunan umat dan menjaga nilai-nilai kebangsaan masyarakat.
Meski Jawa Tengah, kata Rofai, saat ini sudah kondusif, tapi bukan berarti tidak perlu dirawat. Justru kondusivitas Jawa Tengah harus terus dirawat dan agar jangan sampai tercerai-berai karena pilpres.
Grup musik Letto, tampil pada acara Apel Kebangsaan Kita Merah Putih di lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan
“Kalau ada yang memuji, mencela, apalagi berkomentar miring, saya rasa wajar. Tapi, selama ini kita transparan dan tidak punya niat jelek. Nilai kebangsaan itu memang harganya sangat tinggi,” kata mantan Penjabat (Pj) Wali Kota Salatiga itu.
Kasus yang terjadi di Selandia Baru, dijadikan contoh oleh Rofai. Menurutnya dalam beberapa tahun terakhir, Selandia Baru terkenal sebagai negara yang kondusif dan selalu menjaga perdamaian, bahkan paling aman di dunia.
ADVERTISEMENT
Tapi, anggapan itu berubah drastis menyusul tragedi penembakan umat muslim di masjid di Chirstchurch pada Jumat (15/3).
Suasana Apel Kebangsaan di Simpang Lima, saat Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyapa warga. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan
“Apel Kebangsaan kemarin kita gelar untuk merapatkan barisan dan menyatukan komponen bangsa. Supaya tidak terjadi kesalahpahaman dan fitnah. Apalagi dinamika politik kita saat ini tengah tinggi,” kata Rofai.
Seperti diketahui, Apel Kebangsaan Kita Merah Putih yang digelar di Kota Semarang, Minggu (17/3), berlangsung meriah. Dalam acara setengah hari itu, tak tanggung-tanggung, ada empat panggung disiapkan dengan menghadirkan sederet artis nasional, mulai dari Slank, Letto, Armada, Virzha, hingga Nella Kharisma.
Selain artis, acara itu juga diisi orasi dari para ulama maupun tokoh lintas agama, seperti KH Maimoen Zubair, Habib Luthfi, Ahmad Muwafiq, Mahfud MD, dan Uskup Agung Semarang, Mgr Robertus Rubiyatmoko.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan