kumparan
1 Okt 2018 6:10 WIB

Keseruan Sobat Air ADES Selama 6 Hari di NTT

Sobat Air ADES di PLTMH Bea Muring. (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)
Selama 6 hari 5 malam, 10 Sobat Air ADES yang terpilih mengikuti rangkaian kegiatan Conservacation di Nusa Tenggara Timur. Tak hanya berlibur, para Sobat Air ADES juga belajar dan ikut berkontribusi dalam konservasi air di Nusa Tenggara Timur (NTT).
ADVERTISEMENT
Yuk, kita tengok, apa saja kegiatan seru para Sobat Air ADES di NTT!
Hari Pertama Mengunjungi Embung di Kupang
Sepuluh Sobat Air ADES dari berbagai wilayah di Indonesia telah berkumpul di Kupang, NTT. Sebelum memulai kegiatan, acara ini dibuka terlebih dahulu oleh Marketing Manager Hydration Coca Cola Indonesia, Mohamad Rezki Yunus.
"Karena kita produknya adalah minuman, dan air sebagai bahan baku produk kita, kita ingin bisa berperan serta aktif dalam memberikan air yang berkualitas," tutur Rezki di Hotel On The Rock, Kupang, Selasa (25/9).
Embung Cinta di Desa Tesabela, Kecamatan Kupang Barat. (Foto: amanaturrosyidah/kumparan)
Usai dibuka oleh Rezki, para Sobat Air ADES juga mendapatkan pelatihan menulis dari Wapemred kumparan, Rachmadin Ismail. Nantinya para Sobat Air ADES juga diberi tugas untuk menulis apa saja yang mereka bisa bagi dari acara Conservacation ini.
ADVERTISEMENT
Setelah itu, para Sobat Air ADES juga diajak untuk mengunjungi Embung Cinta yang diinisiasi oleh Kapten Budi Soehardi. Embung tersebut nantinya akan digunakan untuk membantu pertanian yang dikembangkan oleh mantan pilot yang berhasil menyulap tanah kapur yang tandus menjadi lahan hijau.
"Saya ingin menunjukkan kepada warga sekitar bahwa tanah yang tadinya disebut gersang ini bisa jadi subur. Dengan tanah yang bagus, hasil panen yang bagus, bisa sekolahkan anak lebih tinggi. Saya ingin ajarkan orang sini agar tak mudah putus asa," ucap Budi di Embung Cinta.
Hari Kedua Melihat Mata Air Kecil di Bea Muring
Sejak subuh, para Sobat Air ADES sudah bersiap untuk terbang menuju Pulau Flores, tepatnya ke Kabupaten Ruteng. Perjalanan yang ditempuh selama satu jam itu dilalui menggunakan moda transportasi pesawat kecil.
ADVERTISEMENT
Setelah tiba di Ruteng, para Sobat Air ADES lalu dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk masuk ke mobil menuju Bea Muring. Selama sekitar 3 jam, mereka harus menempuh medan yang berkelok tajam dan sangat rusak.
Sesampainya di Bea Muring, para Sobat Air ADES disambut begitu meriah oleh warga dengan upacara adat Kepok Tiba dan Tari Caci. Salah satu Sobat Air ADES, Made Arya, bahkan berkesempatan menjadi pembuka Tari Caci.
Sobat Air ADES mencoba menampung air bersih dari sumber mata air di Bea Muring, NTT. (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)
Usai makan siang bersama pastor paroki setempat, Romo Marsel, para Sobat Air ADES diajak mengeksplor mata air dan lahan pertanian warga. Mereka juga berkesempatan membantu mengangkut air dari mata air menuju lahan pertanian warga setempat melalui medan yang cukup curam.
"Kita bisa bayangkan betapa mereka bekerja keras untuk mendapatkan air dan menghidupi lahannya, dan dengan situasi seperti ini mereka tetap bertahan," kata Marsel saat menunjukkan aliran mata air yang begitu kecil.
ADVERTISEMENT
Beruntung, salah satu Sobat Air ADES, Evrina Budiastuti, sehari-hari berprofesi sebagai penyuluh pertanian. Sehingga, ia bisa menularkan ilmu dan sarannya kepada petani setempat untuk memanfaatkan keadaan lahan mereka yang sulit air.
Hari Ketiga Menyambangi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidrolik
Hari ketiga merupakan puncak dari rangkaian Conservacation Sobat Air ADES NTT. Pagi-pagi, mereka diajak menyambangi pembangkit listrik tenaga mikro hidrolik (PLTMH) yang digagas Romo Marsel.
"Sebelumnya warga di sini menggunakan diesel, dan itu biayanya sangat tinggi. Sekitar Rp 30 ribu perhari hanya untuk bahan bakarnya. Belum lagi polusi udara dan suara yang ditimbulkan," jelas Marsel.
Setelah melalui perjuangan yang cukup berat, di bawah komando Marsel, warga Bea Muring berhasil menerangi desanya dengan PLTMH. Namun, setelah 6 tahun, aliran air di PLTMH semakin kecil karena terhambat longsoran pasir.
ADVERTISEMENT
"Jika alirannya mengecil, itu berpengaruh pada aliran listriknya juga. Saat musim kemarau, listrik hanya bisa menyala 2-3 jam saja karena alirannya kurang deras," lanjutnya.
Untuk melihat rumah turbin yang berfungsi mengubah aliran air menjadi listrik. Para Sobat Air ADES harus melewati jalan setapak membelah hutan dengan jalur tracking yang sangat curam.
Setelah puas melihat dan mendapat penjelasan dari Marsel, para Sobat Air ADES kembali naik ke daerah aliran sungai untuk menanam pohon. Pohon-pohon tersebut diharapkan bisa mengurangi lonsoran pasir yang menghambat PLTMH.
"Daerah pinggir sungai ini yang penting untuk diselamatkan dengan tanaman, sehingga air hujan tidak langsung masuk ke sungai membawa longsoran pasir yang bisa menghambat," kata Koordinator Program Coca Cola Foundation Indonesia, Agus Priyono, di lokasi.
Sobat Air ADES menanam pohon di PLTMH Bea Muring. (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)
Usai menanam pohon, para Sobat Air ADES harus naik truk yang disulap menjadi transportasi umum, atau Bus Kayu. Dengan menggunakan kendaraan ini, mereka akan dibawa menuju Desa Leong untuk melihat sumber mata air mereka, Waelekem.
ADVERTISEMENT
"Tiga minggu lalu ada tim survei yang datang untuk melihat beberapa sumber mata air. Dari sekian sumber, hanya dua yang bisa digunakan untuk minum, Waelekem dan Naurutung," jelas Kepala Badan Permusyawaratan Desa Leong, Hilarius Papu, di lokasi.
Meski menjadi sumber air minum warga setempat, akses menuju ke lokasi tersebut cukup sulut dijangkau. Selain itu, alirannya juga snagat kecil, sehingga warga yang ingin mengambil air minum harus antre cukup lama untuk memenuji jerigennya.
Sobat Air ADES pun membantu membangun bak penampungan air bersih di desa tersebut. Jika sudah jadi, air dari mata air akan ditampung di bak tersebut. Sehingga warga tidak perlu berjalan kaki jauh menuju sumber mata air dan menunggu lama untuk memenuhi jerigen mereka.
ADVERTISEMENT
"Dengan adanya bantuan ADES ini, air ini bisa ditampung dan dibawa ke rumah masing-masing," ucap Hilarius.
Setelah beristirahat sejenak, Sobat Air ADES diundang ke rumah Romo Marsel untuk membagikan ide mereka untuk Bea Muring, khususnya soal konservasi air. Berbagai ide cemerlang dilontarkan oleh para Sobat Air ADES. Salah satunya adalah Taumy Alif Firman yang mengajarkan cara filtrasi air sederhana.
Puas melontarkan ide dan kekaguman mereka akan keramahan warga Bea Muring, para Sobat Air ADES diajak mengikuti Cultural Night. Acara ini sengaja dibuat oleh warga sekitar untuk memamerkan budaya dan atraksi yang mereka bisa suguhkan, serta produk-produk UMKM mereka.
Hari Keempat Meninggalkan Bea Muring Menuju Labuan Bajo
Setelah sarapan, Sobat Air ADES akhirnya harus berpamitan dengan warga sekitar yang telah menjadi keluarga selama dua malam. Air mata haru tampak terlihat dari wajah warga Bea Muring dan para Sobat Air ADES yang seolah tak ingin berpisah.
ADVERTISEMENT
Namun, Sobat Air ADES harus melanjutkan perjalanan mereka menuju Labuan Bajo. Perjalanan tersebut ditempuh melalui jalur darat selama sekitar 6 jam.
Sesampainya di Labuan Bajo, setelah beristirahat sebentar, para Sobat Air ADES diajak menikmati sunset dari atas Bukit Cinta. Lokasi tersebut menjadi favorit wisatawan dan warga sekitar karena panoramanya yang indah dengan perbukitan, hamparan laut, dan matahari yang warnanya semakin jingga.
Hari Kelima Berwisata di Taman Nasional Komodo
Setelah belajar banyak dari Conservacation, kali ini Sobat Air ADES diajak menikmati wisata sehari di Taman Nasional Komodo. Sekitar jam 5 pagi, mereka harus berkumpul di pelabuhan dan berpindah ke kapal pinisi.
Tujuan pertama adalah Pulau Padar yang jaraknya sekitar 3 jam dari Labuan Bajo. Dari puncak gunung, Sobat Air ADES bisa menikmati pemandangan indah dengan tiga pantai berbeda dari ketinggian.
ADVERTISEMENT
Sayang, salah satu Sobat Air ADES, Evrina Budiastuti, harus tumbang di awal jalur tracking. Dengan sangat terpaksa ia harus menjalani perawatan di dalam kapal agar tetap bisa menikmati destinasi berikutnya.
Berikutnya, Sobat Air ADES diajak menengok salah satu destinasi yang sempat menjadi kandidat keajaiban dunia, Komodo. Perjalanan menuju Pulau Rinca ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam perjalanan menggunakan kapal.
Sesampainya di pulau, dua ranger atau pawang komodo, setia menemani dan mengajak Sobat Air ADES melihat 'naga' dari dekat. Meski agak takut dengan hewan karnivora ini, namun Sobat Air ADES tampak sangat menikmati pengalaman baru tersebut.
Sobat Air ADES, Irfan dan Evrina, Mengabadikan Gambar di Pulau Padar (Foto: Amanaturrosyidah/kumparan)
Setelah puas berkenalan lebih dekat dengan kadal raksasa yang menjadi hewan endemik pulau tersebut, Sobat Air ADES harus kembali ke kapal dan melanjutkan perjalanan. Selanjutnya, mereka dibawa menuju Pulau Kelor untuk snorkling atau sekadar bermain air di pantai.
ADVERTISEMENT
Setelah senja tiba, para Sobat Air ADES harus kembali ke kapal. Meski merasa belum rela perjalanan tersebut berakhir, namun mereka harus kembali ke Labuan Bajo untuk beristirahat dan makan malam.
Acara makan malam tersebut juga diselipi pembagian hadiah menarik bagi dua Sobat Air ADES yang dinilai paling aktif. Kedua Sobat Air ADES terbaik tersebut, Evrina Budiastuti dan Dody Sanjaya, berhak mendapatkan travel kit senilai Rp 10 juta.
"Aku sih enggak nyangka sama sekali bisa dapet. Soalnya emang dari kemarin niatnya bukan buat menang, emang buat ikut dan belajar aja karena ini emang menarik," kata Dody yang mengaku kaget bisa menang.
Hari Keenam Menikmati Keindahan Gua Batu Cermin
Setelah sarapan, Sobat Air ADES diajak menikmati keindahan Gua Batu Cermin. Konon, gua tersebut sebelumnya berada di bawah laut dan baru muncul di daratan setelah ada gesekan magma ribuan atau jutaan tahun lalu.
ADVERTISEMENT
Di dalam gua, Sobat Air ADES bisa melihat fosil terumbu karang, ikan, dan penyu di dinding gua. Cahaya matahari yang menyeruak masuk dari celah atas gua juga menjadi spot foto favorit Sobat Air ADES.
Puas dengan Gua Batu Cermin, dalam perjalanan menuju Bandara Komodo, Sobat Air ADES diajak mencari oleh-oleh dan makan siang. Destinasi tersebut sekaligus menjadi pamungkas petualangan Sobat Air ADES di NTT.
Selamat kembali ke daerah masing-masing, Sobat Air ADES! Semoga petualangan sepekan bisa dijadikan dimanfaatkan oleh para Sobat Air ADES untuk menularkan semangat 'Cintai Air, Cintai Hidup'.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan