News
·
4 Januari 2021 15:16

Kisah Febri Diansyah Positif Corona: Isolasi di Hotel, Suara Mengaji, dan Tawa

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kisah Febri Diansyah Positif Corona: Isolasi di Hotel, Suara Mengaji, dan Tawa (121160)
Kabiro Humas KPK Febri Diansyah diperiksa suhu tubuh sebelum acara penandatangan kontrak kerja pejabat eselon I dan II. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Mantan Jubir KPK Febri Diansyah divonis positif corona. Peristiwa ini terjadi pada November 2020 lalu.
ADVERTISEMENT
Febri Diansyah kini sudah negatif corona dan berbagi kisah menjalani isolasi mandiri di hotel.
Febri bertutur, kala itu pertengahan November. Dia merasakan demam dan sedikit batuk. Bagi Febri, hal seperti ini biasa, bila dia kurang istirahat. Dia lalu mengkonsumsi obat penurun panas dan batuk.
"Tapi tidak lama kemudian indera penciuman saya hilang," jelas Febri Diansyah, Senin (4/12).
Febri sudah curiga, apalagi dia kerap bepergian. Maklum saja setelah tak lagi di KPK, dia menjadi pengacara dan bertemu banyak klien.
"Waktu sudah demam itu, sebenarnya sudah curiga. Saya sudah minta orang rumah tak mendekat, agar jaga jarak. Jadi isolasi mandiri di rumah," jelas dia.
Setelah tidak bisa mencium bau-bauan, Febri lalu melakukan swab PCR. Hasilnya dia positif corona.
ADVERTISEMENT
Sebagai warga negara yang baik, dia kemudian lapor ke Puskesmas Pasar Rebo. Pihak Puskesmas responsif dan menawarkan lokasi isolasi mandiri di luar rumah, Wisma Atlet atau ke hotel tempat isolasi yang disediakan Pemprov DKI.
"Alhamdulillah orang rumah, anak dan istri yang diswab negatif," jelas dia.
Febri bersyukur, pihak Puskesmas Pasar Rebo responsif. Dia akhirnya isolasi di hotel di kawasan Senen.
"Kamar 911, sebagian perjalanan di November 2020. lembar baru. berupaya berdamai dengan COVID-19, isolasi tubuh, bukan alienasi pikiran," ujar dia.
Febri bertutur, selama menjalani isolasi di hotel selama 14 hari, banyak pengalaman yang dia dapat.
"Hampir setiap hari di jadwal olahraga pagi dan jemur saya lihat selalu ada orang baru. Termasuk beberapa anak kecil yang jalan pagi di bawah mentari pagi dibimbing Nakes. Saya melihat ada aliran harapan setiap pagi juga sekaligus kecemasan. Orang-orang datang silih berganti di meja registrasi. Hampir setiap waktu dari kamar di lantai 9 terdengar nyaring deru ambulans," jelas dia.
ADVERTISEMENT
Suatu malam saya dengar lantunan suara orang mengaji, esoknya tawa dari kamar yang lain yang seperti berusaha saling menyemangati, namun lebih banyak hening. Setiap pagi, siang dan malam ada ketukan petugas mengantar makanan. diletakkan di meja-meja yang telah dinomori.
--Febri Diansyah
Pengobatan Corona
Febri rutin mengkonsumsi vitamin dan jus sirsak dan manggis. Soal vitamin dia meminum vitamin C dosis tinggi dan yang mengandung vitamin B Complex.
"Saya apresiasi juga untuk tenaga kesehatan dan dokter Puskesmas Pasar Rebo yang rutin mengecek kondisi saya," ujar dia.
Akhirnya setelah melewati masa pengobatan Febri kembali bugar. Penciumannya kembali normal.
"Yang pertama bisa saya cium bau pisang busuk," kata Febri bercerita soal pisang di kamarnya yang busuk karena tak keburu dimakan.
Setelah penciuman kembali normal, di hari ke-10 dia menjalani swab kembali dan dinyatakan negatif.
"Hari ke-11 sampai ke-14 saya isolasi di rumah, sudah negatif, cuma kata dokter harus tetap isolasi untuk pemulihan," jelas dia.
Tak lupa Febri berpesan kepada siapa pun terkait COVID ini. Sebagai penyintas dia meminta semua masyarakat tetap patuh protokol kesehatan.
ADVERTISEMENT
"Jaga kesehatan teman, saya juga tetap pakai masker, jaga jarak, dan cuci tangan," pesan dia.