kumparan
18 Apr 2018 8:58 WIB

Kisah Haru Putri Penggali Kubur yang Lolos Kedokteran Unpad

Inka Kusmayanti (Foto: dok. Inka Kusmayanti)
Selasa (17/4) jadi salah satu hari yang paling dinantikan para siswa SMA dan sederajat di seluruh Indonesia. Bukan pengumuman lulus ujian nasional, melainkan hasil pengumuman hasil Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2018.
ADVERTISEMENT
Dari total 586.155 orang yang mendaftar, sebanyak 110.946 peserta menerima kabar bahagia. Di antara ratusan ribu peserta yang lolos, terselip satu nama siswi asal Cimahi, Jawa Barat, yakni Inka Kusmayanti yang diterima masuk Universitas Padjadjaran (Unpad).
Menuntut ilmu di perguruan tinggi negeri memang jadi impian hampir seluruh pelajar SMA di Indonesia. Begitu juga, Inka. Tidak hanya berhasil lolos ke Unpad, Inka juga sukses masuk ke jurusan yang menjadi favorit, yakni Fakultas Kedokteran (FK).
Inka, siswi SMA 1 Cimahi ini tak menyangka dirinya bisa diterima di FK Unpad mengalahkan ribuan peserta lainnya. Terlebih ia berhasil masuk ke jurusan yang sangat ia idam-idamkan.
"Aku tuh emang pengin banget masuk FK, awalnya aku enggak terlalu optimistis untuk masuk FK. Tapi aku selalu ngomongnya ke orang-orang penginnya ke SITH (Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati) ITB atau ke pendidikan biologi," kata Inka saat berbincang dengan kumparan melalui sambungan telepon, Selasa (17/4).
ADVERTISEMENT
Inka memiliki alasan tersendiri untuk menyembunyikan keinginannya dari banyak orang. Ia merasa tidak sanggup menerima rasa pesimistis bila menceritakan keinginannya menjadi seorang dokter.
"(Jadi) dokter itu jarang aku omongin ke orang-orang, lebih sering yang (pengin) jadi guru. Karena aku itu paling enggak kuat kalau orang-orang ngomong,'Ah kamu mah enggak akan masuk,'," tutur Inka.
Gedung Rektorat Unpad Jatinangor (Foto: unpad.ac.id)
Di Cimahi, Inka tinggal dengan ayahnya. Sudah sejak lama ia tidak bertemu ibunya yang tinggal terpisah di Cianjur. Sehari-harinya, ayah Inka tidak memiliki pekerjaan yang jelas, apalagi di usia yang kian menua ayahnya menderita penyakit asma.
"Ayah saya enggak kerja. Beliau itu kerjanya apa aja, kalau lagi sehat itu kerjaannya yang agak berat, tapi kalau lagi sakit enggak bekerja," papar Inka.
ADVERTISEMENT
Berbagai pekerjaan dilakoni ayahnya, termasuk sebagai penggali kubur. Menurut Inka, pekerjaan sebagai penggali kubur dilakoni ayahnya apabila ada yang membutuhkan bantuannya, namun itu dilakukan bila sang ayah dalam kondisi sehat.
"Kalau bapak lagi sehat. Bapak kan sering ngobrol sama orang-orang di dekat makam. Kalau ada yang butuh bapak bantuin. Tapi biasanya bapak jarang sih ngebantuinnya, bapak kan punya asma jadi kalau kerja berat suka enggak kuat," jelasnya.
Meski begitu, Inka tidak pernah merasa kekurangan. Segala kebutuhannya termasuk biaya sekolah selalu terpenuhi. Ia merasa selalu diberi kemudahan melalui pertolongan yang diberikan keluarga maupun pihak sekolah.
"Enggak pernah (kekurangan). Alhamdulillah dari keluarga juga bantu," kata Inka.
Alasan yang membuatnya berani mendaftar di FK Unpad adalah berita yang ia dapatkan bahwa kuliah di jurusan kedokteran di kampus yang berlokasi di Jatinangor itu bebas biaya.
ADVERTISEMENT
"Kenapa aku berani nyoba masuk FK Unpad, karena aku sering baca artikel katanya Unpad itu gratis. Nah dari situ aku berani (daftar) walaupun enggak yakin masuk," lanjutnya.
Kini, setelah diterima di FK Unpad, ia tak menampik bila pada akhirnya tetap membutuhkan biaya perkuliahan. Satu yang ia yakini bahwa setiap kesulitan selalu memiliki jalan kemudahannya sendiri. Salah satunya dengan mencoba peruntungan melalui beasiswa bidikmisi.
"Insya Allah, Amin. Semoga kalau ada rezeki bisa dapet ya," tambah Inka.
Ia berharap, dengan diterima di FK Unpad, dirinya bisa menggapai cita-cita yang telah ia idamkan sekaligus membalas doa dan bantuan dari keluarga serta teman-temannya.
"Aku ingin ngebalas mereka pakai cara apa pun, meskipun dengan kesuksesan. Aku tuh yakin mereka tidak mau dibalas dengan uang, aku pengin coba balas dengan sesuatu yang lebih berharga," tutup Inka.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan