News
·
19 Desember 2017 15:20

Kisah Mathilda dan Dimitri, Pendaki Puncak Gunung Tertinggi di Dunia

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kisah Mathilda dan Dimitri, Pendaki Puncak Gunung Tertinggi di Dunia (27184)
searchPerbesar
Mathilda dan Dimitri di Puncak Denali (Foto: Dok. Tim WISSEMU)
Indonesia tak henti-hentinya melahirkan anak bangsa yang berprestasi dalam segala bidang. Bahkan, baru-baru ini dua wanita kelahiran Jakarta kembali mengharumkan nama bangsa karena berhasil bergabung dalam tim ekspedisi tujuh puncak tertinggi dunia di tujuh lempeng benua.
ADVERTISEMENT
Mereka telah menaklukan enam puncak gunung dan ekspedisi ketujuh akan ditutup pada Maret 2018 dengan menaiki puncak gunung tertinggi di dunia, yaitu Everest, Nepal.
Fransiska Dimitri dan Mathilda Dwi Lestari, mereka adalah dua wanita tersebut. Keikutsertaan mereka bermula ketika keduanya bergabung dalam organisasi mahasiswa pencinta alam (Mahitala) di kampusnya, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Mahitala memiliki misi ekspedisi ke tujuh puncak gunung tertinggi di dunia atau yang biasa disebut Seven Summits.
Fransiska Dimitri mengungkapkan, Unpar pada tahun 2011 awalnya sudah pernah mengirimkan tim pria sebanyak 4 orang untuk menyelesaikan Seven Summits tersebut, hingga mereka tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang menyelesaikan Seven Summits. Lalu pencapaian tersebut disusul oleh Wanadri, perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunung sebanyak 4 orang yang semuanya pria.
Kisah Mathilda dan Dimitri, Pendaki Puncak Gunung Tertinggi di Dunia (27185)
searchPerbesar
Dimitri dan Mathilda di puncak Elbrus (Foto: Instagram/@frandimitri)
Bahkan, sekitar 300 orang di dunia telah berhasil menyelesaikan Seven Summits dan menjadi Seven Summiters (nama gelar bagi mereka yang menyelesaikan Seven Summits. Melihat pencapaian tersebut, membuat Dimitri dan rekan-rekannya bertekad untuk membuktikkan kepada dunia bahwa seorang wanita juga mampu menyelesaikan Seven Summits dan bersaing di bidang pendakian .
ADVERTISEMENT
"Kami melihat fenomena ini bahwa Indonesia merupakan salah satu tuan rumah dari puncak yang akan dituju. Oleh karena itu, kami berpikir untuk unjuk gigi di pendakian Indonesia dan dunia internasional bahwa kita seorang wanita juga bisa bersaing dalam bidang pendakian," kata Dimitri kepada kumparan (kumparan.com), Senin (18/12).
Akhirnya Dimitri dan Mathilda berhasil bergabung bersama tim Seven Summits dan memulai ekspedisi pada Agustus 2014. Ada 10 orang dalam tim ini, terdiri dari 6 pria dan 4 wanita.
Selain mendaki gunung, tim ini juga memiliki misi lain yakni mengganti tali di jalur pemanjattan puncak Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) di Papua, Indonesia.
"Akhirnya dibuat tim dan ada misi lain,yaitu mengganti tali pemanjattan yang dilakukan oleh 10 orang, 4 perempuan 6 laki-laki," ucap Dimitri.
ADVERTISEMENT
Mei 2015, mereka melanjutkan Seven Summits di dua puncak gunung sekaligus, yaitu puncak Gunung Elbrus (5.642 mdpl) di Rusia pada 15 Mei 2015 dan puncak Gunung Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Tanzania (Afrika) pada 24 Mei 2015. Namun sayang, salah satu tim wanita harus mengundurkan diri karena tuntutan keluarga yang mengharuskan lulus kuliah dengan cepat.
"Kita mendaki Puncak Elbrus dan Kilimanjaro dalam satu trip, tanpa balik ke Indonesia dahulu. Jadi pada Mei kita sebulan dua gunung,"ujar Mathilda.
"Bukan 7 puncak di dunia sebenarnya, tetapi 7 puncak tertinggi di 7 lempeng benua. Karena 7 puncak tertinggi di dunia ada di Himalaya yang mdpl di atas 8000," sambung Mathilda.
Kisah Mathilda dan Dimitri, Pendaki Puncak Gunung Tertinggi di Dunia (27186)
searchPerbesar
Dimitri dan Mathilda istirahat di puncak Aconcagua (Foto: Instagram/@frandimitri)
Meski tim wanita tinggal tersisa Mathilda, Karolina, dan Dimitri, tetapi mereka harus tetap melanjutkan Seven Summits-nya. Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina adalah puncak gunung keempat yang harus mereka daki pada 1 Februari 2016. Namun, ketika hampir sampai puncak Gunung Aconcagua, Karolina sakit dan tak bisa ikut melanjutkan ekspedisi tersebut.
ADVERTISEMENT
Ketika sedang dievakuasi turun, ternyata sakit yang diderita Karolina lumayan parah sampai harus dirawat di Argentina selama kurang lebih satu bulan dan dibantu oleh Kedubes Argentina, Jonny Sinaga.
Meski begitu, Mathilda dan Dimitri tetap semangat melanjutkan ekspedisi itu, apalagi Presiden Joko Widodo turut memberikan apresiasi melalui media sosial.
"Selain Pak Jokowi memberi apresiasi pada saya dan Mathilda, beliau juga tetap mendoakan Karolina yang sedang dirawat di Argentina, " kata Dimitri.
Januari 2017, Mathilda dan Dimitri mendaki puncak kelima, yaitu di Gunung Vinson (4.897 mdpl) di Ellsworth Range (Antartika). Ekspedisi kelima ini mereka juga mendapat predikat sebagai perempuan pertama Indonesia yang menginjakkan kaki di Antartika dan sampai di puncak tertinggi di Benua Antartika.
ADVERTISEMENT
Kemudian Juli 2017, mereka berhasil mnginjakkan kaki di puncak gunung keenam, Gunung Denali (6.194 mdpl) di Alaska (Amerika Utara). Dan lagi-lagi keduanya mendapat apresiasi.
Usai berhasil mendaki enam puncak gunung tertinggi itu, Dimitri dan Mathilda mencari kesempatan agar bisa bertemu dengan Presiden Joko Widodo untuk menceritakan kisahnya selama melakukakan ekspedisi tersebut. "Aku sama Mathilda akhirnya bisa menceritakkan kisah ekspedisi ini meskipun singkat, mudah-mudahan Pak Jokowi notice dan tergerak untuk bergabung di ekspedisi yang terakhir, serta menginjakkan kaki di puncak tertinggi di dunia dan mengibarkan bendera merah putih oleh srikandi-srikandinya," kata Dimitri.
Kisah Mathilda dan Dimitri, Pendaki Puncak Gunung Tertinggi di Dunia (27187)
searchPerbesar
Jokowi foto bersama Mathilda dan Dimitri . (Foto: Instagram/@jokowi)
Dimitri berharap, ia dan Mathilda dapat menutup ekspedisinya yang terakhir di puncak Gunung Everest di Nepal. Serta menggenapkan timnya sebagai perempuan Indonesia pertama yang menyelesaikan Seven Summits.
ADVERTISEMENT
Harapan yang sama juga diungkapkan oleh Mathilda. "Sampai sekarang masih belum ada perempuan yang berhasil menyelesaikan rangkaian Seven Summits tersebut, semoga kita bercita-cita menjadi Seven Summits perempuan Indonesia yang pertama," kata Mathilda.