Kisah Mereka Bahu Membahu Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 Desember 2025 9:31 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kisah Mereka Bahu Membahu Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera
Semua lini bergerak bahu-membahu membantu korban banjir Sumatera.
kumparanNEWS
Prajurit TNI dari Satuan Tugas (Satgas) Yonif 122/Tombak Sakti (TS) Kodam I/BB menyalurkan bantuan logistik di Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, Selasa (2/12/2025). Foto: Dok. Puspen TNI
zoom-in-whitePerbesar
Prajurit TNI dari Satuan Tugas (Satgas) Yonif 122/Tombak Sakti (TS) Kodam I/BB menyalurkan bantuan logistik di Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, Selasa (2/12/2025). Foto: Dok. Puspen TNI
ADVERTISEMENT
TNI menurunkan personel Denbekang I/2 A Kodam I/Bukit Barisan dalam rangka mendukung pemulihan layanan vital pascabencana di wilayah Sibolga dan Tapanuli Tengah.
ADVERTISEMENT
Begitu di lokasi, mereka bertugas menjadi petugas SPBU dadakan alias operator sementara di sejumlah SPBU yang terdampak pada Rabu (3/12). Langkah ini diambil setelah hampir 90% petugas operator SPBU di dua wilayah tersebut menjadi korban banjir.
Kondisi itu menyebabkan beberapa SPBU tidak dapat beroperasi secara normal dan berpotensi mengganggu ketersediaan bahan bakar bagi masyarakat-kendaraan bantuan.
Personel Denbekang yang diterjunkan langsung jadi operator di SPBU-SPBU yang mengalami kekurangan tenaga. Mereka memastikan pengisian berjalan aman, teratur dan sesuai prosedur.
"Kehadiran prajurit TNI tidak hanya membantu kelancaran distribusi BBM, tetapi juga memberikan rasa tenang bagi masyarakat yang membutuhkan layanan energi dalam masa sulit," kata Kabidpenum Puspen TNI Kolonel Laut (P) Agung Saptoadi.
TNI menegaskan, dukungan ini merupakan bagian dari tugas kemanusiaan untuk membantu pemerintah daerah memulihkan fungsi infrastruktur pelayanan publik yang sempat lumpuh.
ADVERTISEMENT
Selain mengerahkan Denbekang I/2 A Kodam I/Bukit Barisan, prajurit TNI dari Satuan Tugas Yonif 122/Tombak Sakti (TS) Kodam I/BB juga dikerahkan ke lokasi terdampak banjir.
Menghadapi medan berat serta akses jalan yang terputus total, prajurit bergerak menembus wilayah terisolir untuk menyalurkan bantuan logistik di Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, Selasa (2/12).
Untuk mencapai lokasi, prajurit harus memikul bantuan dan berjalan kaki puluhan kilometer dari titik terakhir yang masih dapat dilalui kendaraan.
Bawa Starlink, Polda Aceh Beri Layanan WiFi Gratis di Desa Terisolasi
Warga melintas di dekat mobil warga yang terbawa arus banjir di kawasan Desa Bukit Tempurung, Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (3/12/2025). Foto: Syifa Yulinnas/ANTARA FOTO
Polda Aceh terus bergerak menjangkau daerah-daerah yang terisolasi akibat banjir dan longsor sepekan lalu. Salah satunya adalah menyediakan jaringan komunikasi dan layanan internet ke Desa Pante Rambong, Kabupaten Aceh Timur, yang terdampak banjir.
ADVERTISEMENT
Tim dari Polda datang dan membawa perangkat WiFi Starlink. Akhirnya, warga setempat bisa mengakses jaringan internet.
"Kami atas nama pemerintah Pante Rambong, mengucapkan terima kasih pada Kapolda Aceh dan Kapolres Aceh Timur, yang sudah memfasilitasi atau menyediakan jaringan starlink atau wifi masuk desa, ini sangat-sangat membantu Pante Rambong pasca dilanda banjir beberapa hari yang lalu," kata seorang perangkat desa Pante Rambong, dikutip dari akun instagram resmi Polda Aceh, Rabu (3/12).
Pada video yang dibagikan, personel Polda Aceh menggelar perangkat starlink mereka. Lalu, warga mengitari perangkat tersebut dengan handphone-handphone mereka.
"Ada yang nangis terharu, terima kasih setingginya kepada Kapolda Aceh dan Kapolres Aceh Timur yang sudah menyediakan pelayanan wifi gratis atau starlink masuk desa ini," kata perangkat desa itu.
ADVERTISEMENT
Perjuangan 20 Pemuda Evakuasi Warga Terjebak Lumpur Setinggi Leher di Aceh Timur
Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky meninjau warga yang terdampak banjir bandang di Aceh Timur, Rabu (3/12/2025). Foto: Pemkab Aceh Timur
Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky menceritakan perjuangan 20 pemuda yang harus jalan memutar hutan lantaran lumpur imbas banjir dan longsor mencapai tinggi leher orang dewasa. Para pemuda itu berjuang mengevakuasi warga yang mengungsi di hutan.
Dia bercerita ada ratusan warga yang dilaporkan tidak bisa dikontak. Posisinya tidak bisa dilacak.
"Sebab akses kedua titik ini dipenuhi lumpur setinggi leher orang dewasa, panjang lumpurnya sejauh 8 km. Akses darat tidak bisa, akses hutan tidak bisa, kemudian akses sungai tidak bisa," kisah Iskandar saat dihubungi, Rabu (3/12).
"Dua hari yang lalu kita mengirim 20 orang pemuda desa tetangga dengan bekal beras apa adanya, berbagi tim, melacak keberadaan ratusan orang yang dilaporkan hilang kontak ini," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Pemuda ini tak bisa melalui lumpur. Maka mereka jalan kaki memutar di hutan.
"Tidak bisa sama sekali (aksesnya). Itu daerah yang sangat terpencil, jauh sekali. Perjalanan dari pusat kota di ibu kota itu menempuh tujuh sampai sembilan jam," jelasnya.
Iskandar mendapatkan informasi bahwa para warga masih hidup dan mengungsi di hutan.
Kemarin pagi tim kembali dipimpin oleh Dandim Aceh Timur dengan berbekal speedboat untuk mengevakuasi warga.
"Insyaallah kini kondisinya sudah bisa kita kendalikan," jelasnya.
Seminggu Mencari, Ayah di Deli Serdang Temukan Jasad Anaknya yang Terkena Banjir
Safarudin (62), ayah dari korban yang ditemukan di pinggir sungai, Medan, Rabu (3/12/2025). Foto: Amar Marpaung/kumparan
Selama tujuh hari, Safarudin (62) menyusuri bantaran sungai, lorong-lorong perkampungan, hingga ke belakang Polsek Sunggal. Ia mencari Ibrahim (33), anaknya yang hilang terseret arus banjir di Deli Serdang pada Kamis (27/11).
ADVERTISEMENT
Hujan deras dan luapan air sungai membuat rumah mereka di Gang Bersama, Kelurahan Sunggal Kanan, terendam diterjang banjir. Dalam situasi itulah Ibrahim hilang.
“Dari hari Kamis, sekitar jam 17.00 WIB (hilang), hilangnya itu saya dapat kabar hari Jumat,” ujar Safarudin saat ditemui di RS Bhayangkara Medan, Rabu (3/12).
Sejak itu, setiap sudut yang mungkin menjadi petunjuk ia datangi. Ia bahkan sempat mengikuti arahan paranormal demi menemukan jejak anaknya.
“Capek kita carinya, sampai ke Polsek Sunggal itu kita telusuri semuanya. Apa kata paranormal kita ikuti. Jadi pasrahkan diri lah,” tuturnya.
Ibrahim, yang bekerja sebagai pengantar ternak ayam, disebut hilang saat hendak menyeberangi jembatan bersama enam rekannya. Ketika kawan-kawannya telah sampai di ujung jembatan, Ibrahim tertinggal dan terseret derasnya arus.
ADVERTISEMENT
Cerita Kapolda Aceh Tembus Tamiang: Kami Singkirkan Mobil yang Bergelimpangan
Kapolda Aceh "Menerobos" Lumpur dan Banjir tiba di Tamiang. Foto: Dok. Polri
Kapolda Aceh, Irjen Pol Marzuki Ali Basyah membagikan pengalamannya menembus Kabupaten Tamiang, yang terisolasi akibat banjir-longsor. Kabupaten ini satu-satunya kabupaten di Aceh yang lumpuh pemerintahannya, sebab dilanda banjir-longsor.
Bantuan belum bisa masuk, sebab akses masih tertutup lumpur dan longsoran.
"Untuk Kabupaten Tamiang, untuk masuk ke wilayahnya masih banyak air. Dari Medan pun belum bisa tembus karena ada air sekitar 1 meter dan longsoran di jalan," kata Marzuki, dikutip dari akun Instagram resmi Polda Aceh, Rabu (3/12).
Marzuki tetap mencoba untuk menembus Tamiang. Mereka akhirnya berhasil tembus, namun dengan cara menyingkirkan mobil yang bergelimpangan di jalan.
"Kami bisa tembus kemarin, dengan dorong beberapa mobil, karena sepanjang jalan mobil bergelimpangan, di pom bensin mobil bergelimpangan," ucapnya.
ADVERTISEMENT