kumparan
31 Januari 2018 15:45

Kisah Nenek Sebatang Kara di Brebes yang Tinggal di Gubuk Tengah Sawah

Kondisi gubuk nenek Fatonah
Kondisi gubuk nenek Fatonah (Foto: Facebook/Yunus Hena Dena Dena)
Gubuk kecil beratap terpal dan beralas tanah itu berada di area persawahan Desa Ciampel, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Di dalam gubuk itu tinggal seorang nenek berusia 64 tahun bernama Fatonah.
ADVERTISEMENT
Sudah dua tahun lebih Fatonah hidup sebatang kara tanpa anak, suami ataupun keluarga. Sehari-hari dia habiskan waktunya dengan memulung rongsokan di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.
Kisah pilu Fatonah dibagikan oleh salah satu anggota Polsek Kersana, Brebes, Bripka Yunus Hena Dena melalui akun Facebooknya @YunusHenaDenaDena, Rabu (24/1) lalu. Hingga saat ini unggahan video tersebut sudah diputar sebanyak 75.856 kali dan dibanjiri komentar positif serta dukungan dari netizen.
"Hidup sebatang kara tinggal di gubuk tengah sawah sendirian. Ibu Fatonah dari Desa Ciampel Kec. Kersana, Kab. Brebes butuh uluran tangan pembuatan rumah layak huni. Yang penting layak huni kalau lahan kita sudah koordinasi dengan Kepala Desa setempat sudah menyiapkan, tinggal bantuan dana pembuatannya. Dia tidak punya anak maupun saudara," tulisnya dalam keterangan video.
ADVERTISEMENT
kumparan (kumparan.com) mengkonfirmasi soal kondisi Fatonah kepada Yunus, Rabu (31/1). Yunus mengaku awalnya mendapat informasi soal Fatonah dari salah satu warga.
Dia bersama tim Polsek Kersana, serta Kepala Desa setempat datang ke lokasi untuk melihat kondisi gubuk reyot yang berada di area persawahan tersebut. Tak hanya itu, ia juga membujuk nenek Fatonah agar mau dipindahkan ke panti jompo. Namun Fatonah menolak.
Demi menyambung hidup, sehari-hari Fatonah bekerja sebagai pemulung dengan penghasilan sekitar Rp 20.000 per minggunya. Padahal di usia yang senja, seharusnya ia habiskan bersama anak dan cucunya. Namun sayang, Fatonah tak memiliki siapa-siapa. n.
Di gubuk berukuran sekitar 2x3 meter, Fatonah menjalani hari-harinya. Tempat tinggal Fatonah jauh dari kata layak, ia tidur hanya beralaskan tikar dengan atap yang terbuat dari terpal berlubang. Serta tak ada dinding yang melindunginya dari dinginnya hujan dan panasnya terik matahari.
ADVERTISEMENT
Demi menyambung hidup, sehari-hari Fatonah bekerja sebagai pemulung dengan penghasilan sekitar Rp 20.000 perminggunya. Padahal di usia yang senja, seharusnya ia habiskan bersama anak dan cucunya. Namun sayang, Fatonah tak memiliki siapa-siapa.
Suaminya sudah meninggal puluhan tahun lalu dan anak satu-satunya pun meninggal di usia yang belum genap setahun. Sejak ditinggal suami dan anaknya, Fatonah memilih menjadi juru masak di Riau dan kembali ke kampung halamannya pada 2015 lalu. Lantaran rumah di Brebes sudah ia jual, akhirnya memutuskan untuk menumpang di rumah temannya. Tak bertahan lama, ia pun memilih meminta izin kepada pemilik lahan persawahan untuk mendirikan gubuk di sana.
"Buat makan saja tidak cukup dari hasil mulung, Nenek Fatonah sering puasa," ucap Yunus.
Rumah nenek Fatonah
Rumah nenek Fatonah. (Foto: Dok.Istimewa)
Mengetahui hal tersebut, masyarakat setempat kemudian mengadakan penggalangan dana untuk membantu Fatonah mendirikan rumah yang layak huni. Tak hanya itu, lahan yang akan dibangun rumah juga telah disediakan oleh pihak desa setempat. Pemerintah beserta Kapolres Brebes juga turut membantu agar bisa mewujudkan rumah tersebut.
Rumah nenek Fatonah
Rumah nenek Fatonah. (Foto: Dok.Istimewa)
Fatonah kini sudah dibuatkan buku rekening sehingga siapa saja yang ingin membantu bisa langsung mengirimkannya ke nomer rekening tersebut. Berkat bantuan dari para relawan, rencananya hari ini pembangunan rumah Nenek Fatonah sudah mulai tahap pengerjaan di Desa Ciampel, Kersana.
ADVERTISEMENT
"Saya sekarang di lokasi pembangunan rumah Ibu Fatonah," kata Kapolsek Kersana, Brebes, IPTU Agus Dwi Nugroho saat dihubungi kumparan.
Rumah nenek Fatonah
Rumah nenek Fatonah. (Foto: Dok.Istimewa)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan