News
·
16 September 2020 16:55

Kisah Warga Solo yang Serahkan KTP untuk Dukung Paslon Penjahit-Ketua RW

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kisah Warga Solo yang Serahkan KTP untuk Dukung Paslon Penjahit-Ketua RW (235817)
Bagyo Wahyono dan FX Supardjo. Foto: Tim Bengawan News/kumparan
Seorang warga Solo bernama Aris Mulyatno (50) masih mengingat jelas saat rumahnya didatangi dua orang yang mengaku sebagai anggota ormas Tikus Pithi Hanata Baris. Tikus Pithi merupakan ormas yang mendukung pasangan bakal cawali dan cawawali, Bagyo Wahyono dan FX Supardjo di Pilwalkot Solo.
ADVERTISEMENT
Mereka bertamu meminta waktu untuk memberikan sosialisasi soal pasangan Bagyo-Supardjo yang akan maju Pilwakot Solo lewat jalur independen. Bersama istrinya, Aris mendengar penjelasan terkait kondisi Kota Solo yang dipimpin dari orang parpol, tetapi tidak ada perubahan sama sekali sehingga butuh calon alternatif dari independen.
"Mereka datang ke rumah saya minta KTP sebagai syarat dukungan pada bulan Mei 2019 lalu. KTP saya dan istri saya serahkan sebagai sodakoh (sedekah)," ujar Aris saat berbincang dengan kumparan, Rabu (16/9).
Kisah Warga Solo yang Serahkan KTP untuk Dukung Paslon Penjahit-Ketua RW (235818)
Aris Mulyatno, Warga Solo Pendukung Bagyo-Supardjo Foto: Dok. Istimewa
Warga Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo ini mengaku awalnya tidak mengenal sama sekali dengan pasangan independen Bagyo-Supardjo. Namun, setelah diberikan sosialisasi, mereka menjadi tahu bahwa Bagyo-Supardjo hanya berprofesi sebagai penjahit dan ketua RW.
"Jujur tidak ada pemberian apa pun setelah saya serahkan KTP pada tim Bajo," kata dia.
ADVERTISEMENT
Aris kemudian menjelaskan kenapa bersedia mendukung Bagyo-Supardjo. Menurut dia, keduanya adalah sosok orang kecil yang merintis dari bawah. Mereka dianggap dekat dengan wong cilik. Kelebihan ini yang tidak dimiliki lawannya, Gibran Rakabuming Raka.
Warga Solo lainnya, Danik (28), mengatakan tim Bagyo-Supardjo menghampirinya pada bulan Desember 2019 lalu untuk meminta KTP sebagai syarat dukungan maju jalur independen. Ia sempat meminta penjelasan mengenai sosok Bagyo dan Supardjo.
"Yang meminta KTP itu menantu dari Pak Bagyo (bakal cawali). Kebetulan saya ikut komunitas penjahit," kata Danik.
Kisah Warga Solo yang Serahkan KTP untuk Dukung Paslon Penjahit-Ketua RW (235819)
Danik (28), Warga Solo Pendukung Bagyo-Supardjo Foto: Dok. Istimewa
Danik yang berdomisili Kelurahan Jebres, Kecamatan Jebres, Solo ini diberitahu visi misi sandang, pangan, dan papan. Sampai akhirnya, ia luluh dan menyerahkan KTP sebagai syarat dukungan.
"Imbalan setelah serahkan KTP tidak ada. Saya mengenal Bajo sosok yang ideal dan senior untuk memimpin Solo dibandingkan rivalnya (Gibran)," kata Danik dia.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, Dian Sri Mayawati (42) warga Kelurahan Kerten, Kecamatan Laweyan, Solo, mengemukakan pertemuannya dengan tim Bagyo-Supardjo terjadi pada Agustus 2020. Saat itu, pasangan Bagyo-Supardjo butuh tambahan KTP syarat dukungan.
Tanpa pikir panjang, ia langsung menyerahkan KTP tersebut.
"Saya sebelumnya kenal dengan Pak Bagyo di organisasi kemasyarakatan. Karena sudah tahu sosoknya dan butuh bantuan, saya membantunya tanpa diberikan imbalan," kata dia.
Disinggung dengan kelebihan pasangan yang sering disebut Bajo ini dibandingkan rivalnya, ia menyebut Bajo lebih mahir dalam berorganisasi sehingga bisa dijadikan modal bagus menjadi wali kota.
Kisah Warga Solo yang Serahkan KTP untuk Dukung Paslon Penjahit-Ketua RW (235820)
Dian (42) Warga Solo Pendukung Bagyo-Supardjo Foto: Dok. Istimewa
Pengalaman hampir sama juga dirasakan Agus Raharjo (42) dan Eko Rini (40), warga Kelurahan Manahan Banjarsari, Solo. Keduanya mengaku didatangi tim Bajo pada Desember 2019 lalu untuk meminta KTP syarat dukungan maju independen.
ADVERTISEMENT
"Kami diberikan sosialisasi tentang Ormas Tikus Pithi dan pasangan Bajo mewakili wong cilik maju Pilwalkot. Kita tertarik dengan visi misinya, apalagi waktu itu belum ada lawannya," ujar Agus, yang juga diamini Eko.
Ia mengaku lebih percaya dengan sosok pemimpin orang tua yang lebih berpengalaman dalam berorganisasi dibandingkan anak muda yang belum terlihat pengalaman organisasinya dan hanya kenyang pada bidang bisnis belaka.