News
·
28 Juli 2021 10:32
·
waktu baca 3 menit

Komnas HAM soal 2 Anggota Pomau Aniaya Warga Merauke: Harusnya Lebih Humanis

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Komnas HAM soal 2 Anggota Pomau Aniaya Warga Merauke: Harusnya Lebih Humanis (86083)
searchPerbesar
Beka Ulung Hapsara (Komisioner Komnas HAM) Foto: Puti Cinintya/kumparan
Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara mengecam keras tindakan kasar dua orang anggota Polisi Militer TNI Angkatan Udara (Pomau) kepada seorang warga berkebutuhan khusus di sebuah warung makan di Merauke, Papua.
ADVERTISEMENT
Tak hanya merusak citra dari TNI AU, Beka menganggap tindakan kekerasan tersebut jelas akan makin mempersulit upaya semua pihak untuk mewujudkan rasa damai di bumi Papua.
"Komnas mengecam keras tindakan aparat kepada warga sipil tersebut, apalagi kemudian diketahui yang bersangkutan berkebutuhan khusus. Sudah banyak upaya untuk membuat papua damai. Peristiwa kemarin sedikit banyak memperumit upaya membangun Papua yang damai dan sejahtera," ujar Beka dalam keterangan tertulisnya, Rabu (28/7).
Tak hanya jauh dari standar dan norma hak asasi manusia yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, tindakan tersebut dipandang Beka jelas telah menyalahi aturan. Aturan yang dimaksud Beka yakni terkait konvensi anti penyiksaan PBB yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia.
Kendati pihak TNI AU telah bertindak tegas dengan menghukum kedua pelaku, Beka memastikan pihaknya akan memantau proses hukum yang dijatuhkan kepada pelaku. Pemantauan, kata Beka, juga akan dilakukan Komnas HAM terhadap kondisi korban dan pelaku pasca peristiwa kekerasan tersebut.
ADVERTISEMENT
"Kami melakukan pemantauan penanganan kasusnya yang sekarang sedang dilakukan oleh TNI AU. Bukan hanya soal hukumnya tetapi juga pemulihan korban dan keluarganya," ungkap Beka.
Terakhir, Beka berharap peristiwa ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi seluruh aparat penegak hukum untuk tidak berbuat sewenang-wenang sekalipun kepada pelaku pelanggar hukum.
"Saya kira peristiwa kemarin menjadi bahan evaluasi bagi aparat penegak hukum dan aparat keamanan untuk bertindak lebih humanis dan menghormati harkat dan martabat manusia khususnya di Papua," kata Beka.
Penganiayaan itu bermula saat dua anggota Pomau ingin membeli makan di rumah makan Padang di Jalan Raya Mandala-Muli, Merauke, Senin (26/7).
Namun, saat itu di sana mereka mendengar keributan di warung bubur yang lokasinya tidak jauh.
ADVERTISEMENT
Dua anggota tersebut lalu mendatangi warung bubur tersebut. Di sana pedagang bubur sedang cekcok dengan seorang pria yang diduga mabuk dan berusaha memeras pedagang dan warga di sana.
Melihat hal itu dua anggota TNI tersebut berusaha untuk melerai. Namun, cara mereka dinilai berlebihan dan kasar.
Dalam video, terlihat satu anggota memiting tangan pria tersebut. Ia juga menarik keluar pria itu dan menjatuhkannya di trotoar. Sementara anggota lainnya terlihat menginjak kepala pria yang diduga mabuk tersebut.

KSAU Minta Maaf

Komnas HAM soal 2 Anggota Pomau Aniaya Warga Merauke: Harusnya Lebih Humanis (86084)
searchPerbesar
Marsekal TNI Fadjar Prasetyo bersiap dilantik sebagai Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) di Istana Negara, Jakarta. Foto: Dok. Lukas - Biro Pers Sekretariat Presiden
Terkait kejadian ini, KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat atas tindakan anggota yang berlebihan. Dia memastikan kedua anggota TNI AU akan mendapatkan sanksi.
"Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan terkait dengan kejadian penganiayaan saudara kita oleh anggota TNI AU di Kota Merauke," kata Fadjar dalam keterangannya, Selasa (27/7).
ADVERTISEMENT
"Saya selaku KSAU ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada suluh saudara kita di Papua khususnya keluarga di Merauke, terkhusus lagi kepada korban dan keluarga," tambah dia.
Fadjar memastikan TNI AU akan melakukan evaluasi dan menindak tegas dua anggota Pomau itu. Ia berharap masyarakat Papua dapat memberikan pintu maaf atas kejadian ini.
"Kami akan mengevaluasi seluruh anggota kami dan juga akan tindak tegas terhadap pelaku yang berbuat kesalahan. Sekali lagi saya sampaikan permohonan maaf mohon dibuka pintu maaf," tutup Fadjar.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020