Komnas Perempuan: Dugaan Pelecehan Seksual Putri di Duren Tiga dan Magelang Beda

1 September 2022 22:13
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi pelecehan. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pelecehan. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani menjelaskan kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami Putri Candrawathi. Menurut dia peristiwa yang dilaporkan terjadi di rumah dinas Ferdy Sambo berbeda dengan yang terjadi di Magelang, Jawa Tengah.
ADVERTISEMENT
"Itu bukan kasus yang sama ya. Karena yang dihentikan laporan awal yang tanggal 8 (Juli 2022), kalau ditanya alasannya apa, karena saat itu kan kita pemeriksaannya dalam kerangka keseluruhan seluruhnya, pelanggaran HAM atas kematian Brigadir J," kata Andy kepada wartawan, Kamis (1/9).
Dugaan pelecehan seksual pertama kali diungkap ke publik disebut dilakukan Brigadir Yosua di rumah dinas Ferdy Sambo. Peristiwa itu dikatakan menjadi pemicu baku tembak antara Brigadir Yosua dengan Bharada E alias Richard Eliezer yang berujung tewasnya Yosua.
Namun, setelah diselidiki oleh tim khusus Polri dipastikan dugaan pelecehan seksual di rumah dinas tersebut tidak pernah terjadi. Laporan polisi di Polres Jakarta Selatan terkait kasus itu pun gugur.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
"Yang dilaporkan ibu PC itu kan peristiwa yang di Jakarta, yang bagian dari rangkaian kasus obstruction of justice, yang kalau bahasa Komnas HAM membuat skenario tapi kan disampaikan bahwa, peristiwa kekerasan seksual itu sendiri diduga terjadinya di Magelang, nah itu kan dua kasus yang beda," kata Andy.
Ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani di Polda Metro Jaya, Rabu (13/7/2022). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani di Polda Metro Jaya, Rabu (13/7/2022). Foto: Dok. Istimewa
Menurut Andy dugaan pelecehan seksual itu berdasarkan keterangan Putri dan Sambo. Hal itu perlu untuk diselidiki polisi kebenarannya.
ADVERTISEMENT
"Berdasarkan UU TPKS terkait dengan kasus kekerasan seksual bukti petunjuk itu keterangan yang harus dibuktikan alat bukti lain berdasarkan perundangan-undangan," kata Andy.
"Dalam hal ini kami, batasannya hanya sampai pada pengambilan keterangan, sementara untuk bukti lain, misal untuk melihat TKP (tempat kejadian perkara) diserahkan kepada penyidik, itu mengapa agar rekomendasinya agar penyidik untuk melakukan pendalaman lebih lanjut," pungkasnya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·