News
·
22 Juni 2021 4:44
·
waktu baca 2 menit

LIPI Berhasil Lakukan Whole Genome Sequencing COVID-19 Varian Delta

Konten ini diproduksi oleh kumparan
LIPI Berhasil Lakukan Whole Genome Sequencing COVID-19 Varian Delta (638587)
searchPerbesar
Ilustrasi Virus Corona. Foto: Shutter Stock
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil melakukan analisis whole genome sampling (WGS) virus COVID-19 varian Delta. Virus yang disebut lebih mudah menyebar dan memperparah penderita ini tengah mengakibatkan lonjakan kasus di beberapa daerah, seperti Bangkalan, Kudus, Karawang hingga Jakarta.
ADVERTISEMENT
LIPI melakukan WGS tersebut dari 104 sampel yang diterima, di mana 61 berhasil diidentifikasi dengan 44 merupakan varian delta. Sementara sampel varian delta, salah satunya didapat dari pasien COVID-19 asal Karawang. Sampel tersebut diserahkan oleh Balitbangkes Kemenkes, dan diteliti dengan platform dari Oxford Nanopore Technologies (ONT).
"Sementara ini kami baru mengidentifikasi sebanyak 61 sampel dan sisanya masih dalam proses sequencing dan diharapkan akan selesai dalam beberapa minggu ke depan. Dua jenis variant of concern (VOC) telah berhasil diidentifikasi yaitu B.1617.2 atau varian Delta sebanyak 44 sampel dan B.1.1.7 atau variant Alpha sebanyak 3 sampel,” ungkap Anik Budhi Damayanti, Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Senin (21/6).
Hasil tersebut pun sudah dimasukkan dalam GISAID (Global initiative on sharing all influenza data).
ADVERTISEMENT
LIPI menyebut, varian Delta ini adalah yang pertama ditemukan di Jawa Barat. Namun, bukan berarti varian tersebut baru saja muncul di Karawang.
LIPI Berhasil Lakukan Whole Genome Sequencing COVID-19 Varian Delta (638588)
searchPerbesar
Ilustrasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
“Proporsi kemunculan varian Delta memang cukup besar dari sampel-sampel yang sudah dianalisa genomnya, yaitu sekitar 72% dari 61 sampel. Namun, perlu hati-hati juga menginterpretasikan karena belum tentu sebanyak itu pula proporsi di lapangan terkait varian yang beredar,” terang Anggia Prasetyoputri, Peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI.
Anggia menjelaskan bahwa awal mula kemunculan varian Delta di Jawa Barat belum dapat dipastikan, sehingga diperlukan pemantauan terhadap pasien, penelusuran kontak, dan investigasi kasus lebih mendalam.
Virus corona varian Delta atau SARS-CoV.2 B.1.617.2 merupakan mutasi dari virus COVID19 yang selama ini mewabah (SARS-CoV.2 B.1.617). Virus ini pertama kali terdeteksi di India pada akhir 2020, dan resmi dinamakan varian Delta oleh World Health Organization (WHO) pada 31 Mei 2021, serta dikategorikan sebagai (VOC).
ADVERTISEMENT
“Saat ini ada empat VOC, yaitu Alpha (B.1.1.7), Beta (B.1.351), Gamma (P.1) dan yang terbaru adalah Delta (B.1.617.2),” ungkap Sugiyono Saputra, peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, yang juga merupakan Ketua Tim Riset WGS LIPI.
Sugiyono menyebutkan varian Delta yang termasuk dalam VOC ini memiliki tingkat infeksi yang cenderung lebih tinggi.
“VOC merupakan bagian dari variant of interest (VOI) yang melalui penilaian komparatif, mampu menyebabkan peningkatan penularan (transmisi), peningkatan virulensi atau gejala klinis, atau dapat menurunkan efektivitas dalam upaya penanggulangan seperti vaksin dan terapi,” tutup Sugiyono.