News
·
19 November 2019 13:32

Litbang Kompas Rilis Temuan Menarik saat Rekrutmen Anggota Polri

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Litbang Kompas Rilis Temuan Menarik saat Rekrutmen Anggota Polri (46952)
FGD Litbang Kompas terkait penerimaan Terpadu Anggota Polri tahun 2019. Foto: Andreas Ricky/kumparan
Divisi penelitian dan pengembangan Kompas (Litbang Kompas) memaparkan data mereka terkait hasil rekrutmen anggota Polri Tahun Anggaran 2019. Survei dilakukan di 6 Polda dan Akpol Semarang dengan 310 responden, yakni 30 Tamtama 30, 248 Bintara, dan 32 Taruna.
ADVERTISEMENT
Litbang menyebut, rekrutmen cenderung sudah berjalan bersih, artinya tidak ada kecurangan-kecurangan. Namun, Litbang masih menemukan catatan menarik di sejumlah Polda, salah satunya Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Papua.
Litbang Kompas Rilis Temuan Menarik saat Rekrutmen Anggota Polri (46953)
Polisi berbaris saat gelar pasukan. Foto: ANTARA FOTO/Didik Suhartono
"Masalah kesehatan jadi catatan khusus, yakni, minuman keras dan seks bebas. Ketika tes psikologi, ada salah satu Casis (Calon siswa) Tamtama yang mabuk, tidak bisa mengikat tali sepatu dan limbung. Lalu, ada yang tidak lolos tes kesehatan karena ukuran penis yang berubah, akibat penggunaan Daun Bungkus Papua untuk memperbesar alat vital," kata Bernardus Satrio, peneliti Litbang Kompas, di Hotel Grandkemang saat acara Focus Group Discussion terkait Rekrutmen Polri TA 2019, Selasa (19/11).
Selama penelitian, ada orang tua siswa yang merupakan anggota Polri dari Polda Nusa Tenggara Barat. Orang tua itu sempat mengkritik panitia rekrutmen yang menelepon anaknya, karena terlambat mengikuti tes.
ADVERTISEMENT
"Dia bilang bagaimana masa depan Polri kalau terlambat masih ditelepon dan diberi kesempatan. Maunya ya sudah gugur begitu," kata Bernardus.
Selain itu, Litbang juga menyoroti bagaimana rekrutmen bisa berlangsung sampai dini hari. Pasalnya, di beberapa Polda dengan jumlah peminat yang tinggi seperti Jawa Barat dan Sumatera Utara, tidak ditunjang fasilitas kesehatan yang cukup.
"Akibatnya, banyak pendaftar yang kurang prima saat seleksi tahap selanjutnya, karena kurang istirahat," kata Bernardus.
Untuk penerimaan dan rekrutmen di Akademi Kepolisian, Kompas melihat pola rekrutmen sudah sesuai SOP. Hanya saja, mereka memberi catatan untuk memfasilitasi orang tua calon taruna yang kerap menyaksikan anaknya mengikuti tahap seleksi.
"Mungkin juga perlu dibuat paguyuban antar orang tua, karena ini bisa jadi fasilitas sosialisasi tahap pertama," pungkas Bernardus.
ADVERTISEMENT