kumparan
29 November 2019 22:22

Maestro Lukis Indonesia Jeihan Sukmantoro Meninggal Dunia

PTR, Jeihan Sukmantoro, Atasi Amin
Suasana di rumah, Jeihan Sukmantoro. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
Pelukis kenamaan Indonesia, Jeihan Sukmantoro (81), meninggal dunia pada Kamis (29/11) sekitar pukul 18.15 WIB. Jeihan menghembuskan nafas terakhir di studionya yang terletak di Jalan Padasuka Nomor 143-145, Kota Bandung.
ADVERTISEMENT
Pantauan kumparan, puluhan kerabat dan pelayat terlihat mendatangi rumah duka.
Anak pertama Jeihan, Atasi Amin, menuturkan, Jeihan sebelumnya sempat menjalani perawatan di RS Borromeus sebelum pulang kembali ke studionya pada Rabu (17/11). Sebelum meninggal, dia ditemani oleh dua anak perempuan, istri, dan perawat.
"Kebetulan yang nunggu tuh ada anak yang perempuan dua-duanya dan ada ibu juga dan ada perawat dan suster. Tadi diketahuinya dipriksa oleh suster taunya bapak sudah enggak ada," kata dia ketika ditemui di lokasi.
Jeihan Sukmantoro, Atasi Amin
Suasana di rumah, Jeihan Sukmantoro. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
Atasi mengatakan, Jeihan meninggal dunia karena menderita kanker getah bening yang bersarang di tubuhnya sejak akhir 2018 lalu. Kanker tersebut sempat diangkat pada Januari 2019 lalu, sehingga kondisinya sempat membaik, namun masih bergantung pada obat-obatan.
ADVERTISEMENT
Sayangnya, setelah lebaran kondisi Jeihan menurun dan diketahui kanker justru menyebar ke bagian-bagian tubuhnya.
"Yang membuat ininya tuh kanker dari kanker itu jadi kemana mana setelah kanker diangkat itu badannya gak apa-apa setelah lebaran kondisi bapak menurun jadi kankernya sudah menyebar kemana-mana," ucap dia.
"Ternyata si kankernya itu menyebar gitu diketahuinya setelah lebaran iru bapak menurun kondisinya," lanjut dia.
Jeihan Sukmantoro, Atasi Amin
Anak pertama Jeihan, Atasi Amin. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
Ketika kondisinya menurun, Jeihan masuk ke RS Borromeus dan menjalani perawatan. Atasi mengatakan, Jeihan merupakan sosok sentral di keluarga yang dikenal perhatian dan dijadikan panutan oleh keluarganya.
"Jelas lah bapak figur atau sentral jadi banyaklah kebaikan bapak tuh. Yang jelas sebagaimana orang tua ke keluarga pasti perhatian," ungkap dia.
Jeihan : Hari-hari di Cicadas
Jeihan Sukmantoro di pameran lukisannya di Museum Macan Foto: Museum Macan
Sebelum meninggal dunia, kata Atasi, Jeihan berpesan kepada anak-anaknya untuk merawat studio serta menghargai waktu dengan bekerja keras. Menurut dia, Jeihan sudah tak memiliki ambisi lagi dalam hidupnya karena merasa telah selesai menuntaskan kewajiban selaku seniman maupun seorang ayah.
ADVERTISEMENT
"Dia berpesan untuk kita merawat studio ini. Kayanya engga sih (ambisi) bapak kayanya sudah selesai menuntaskan kewajibannya," tandas dia.
Jenazah Jeihan rencananya akan dimakamkan di kompleks sekitar studionya pada Sabtu (30/11) pagi. Jeihan meninggalkan 6 anak dan 11 cucu. Karya Jeihan masih tersimpan dengan rapi hingga sekarang di studionya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan