Malaysia Negara Nomor Satu Penyumbang Sampah Plastik

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi sampah plastik di pantai. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sampah plastik di pantai. Foto: Shutter Stock

WWF merilis negara yang menjadi penyumbang pencemaran laut terburuk. Malaysia ada di nomor wahid.

Dalam laporan yang dirilis pada Senin (17/2), WWF mengamati enam negara yaitu China, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Keenam negara ini menyumbang 60 persen dari 8 juta ton sampah plastik di lautan dunia setiap tahunnya.

Sampah plastik yang mencemari lingkungan mayoritas berasal dari konsumsi rumah tangga.

Ilustrasi sampah plastik di pantai. Foto: Pixabay

Analisa WWF, Malaysia menempati ranking satu dengan konsumsi kemasan plastik per kapita per tahun sebanyak 16,8 kilogram per orang. Di peringkat kedua terdapat Thailand 15,5 kilogram per orang per tahun.

Koordinator WWF urusan sebaran plastik, Thomas Schuldt, mengatakan orang Malaysia mengkonsumsi lebih banyak plastik lantaran mereka termasuk warga paling kaya dibanding negara-negara lain yang diamati.

Ilustrasi sampah plastik di pantai. Foto: Shutter Stock

"Ada banyak pengiriman makanan, yang memakai kemasan plastik, setiap harinya ada banyak produk yang dibeli di swalayan," sebut Schuldt seperti dikutip dari Reuters.

Ia menambahkan, negara Asia memang memiliki pertumbuhan ekonomi dan populasi yang tinggi, garis pantai panjang, dan permukiman yang padat, namun tidak punya infrastruktur pengolahan sampah yang baik.

Pengunjung berlibur sambil mandi di pantai wisata yang tercemar sampah kayu bercampur plastik bekas di Kampung Jawa, Banda Aceh, Aceh. Foto: ANTARA FOTO/Ampelsa

Oleh karena itu, Schuldt mendesak agar Malaysia dan pemerintah Asia lainnya untuk memberlakukan aturan membatasi plastik sekali pakai.

Sebab, jika Malaysia dan pemerintah negara lain tidak bertindak cepat maka dapat berimbas pada sektor pariwisata, industri perikanan, dan kehidupan laut.

Sampai saat ini, Kementerian Lingkungan Malaysia menolak berkomentar terkait data WWF tersebut.