kumparan
18 Mei 2018 14:23 WIB

Mantan Teroris: Jihad Sekarang adalah Cari Makan untuk Anak dan Istri

Yusuf bersama teman-teman (Foto: Dok. Yusuf)
Dulu teroris kini pebisnis. Begitulah hidup Machmudi Haryono alias Yusuf Adirima (42). Lepas dari jerat terorisme, mantan terpidana bom Semarang 2003 itu saat ini membuka lembaran hidup baru sebagai pebisnis makanan dan rental mobil.
ADVERTISEMENT
Bagi pria yang akrab disapa Yusuf itu, bentuk dari jihadnya kini telah berubah dari paradigmanya di masa lalu. Jihad bukan lagi soal tembak menembak atau berjibaku membunuh mereka yang tidak sepaham.
“Jihad utama saya ya jihad keluarga mencari nafkah dan mendidik anak istri,” kata Yusuf kepada kumparan, Kamis (17/5).
Pada 2009, selepas dia bebas dari jeruji besi, Yusuf mantap untuk tak lagi terlibat dalam kelompoknya. Dia mengaku keluarga adalah alasan terbesarnya untuk memulai hidup baru.
“Tapi bentuk kepuasan batin dari bapak, ibu, adik itu pasti kecewa sudah ditinggal 2 tahun ke Filipina, dipenjara 5 tahun, selalu was-was dicurigai,” ungkap dia.
Yusuf, mantan teroris yang pilih berbisnis (Foto: Dok. Yusuf)
Saat itu ambisi Yusuf begitu kuat untuk keluar dari zona terorisme. Dia ingin menunjukkan kepada keluarga dan juga masyarakat bahwa dia bisa tidak menyusahkan orang lain. Pria yang kini memiliki 3 anak itu juga bertekad menghapus stigma “bahaya” yang melekat pada dirinya.
ADVERTISEMENT
Hati Yusuf pun sempat gamang. Kalau dia tetap berada dalam jaringannya terdahulu, akan ada ketakutan pada pribadi, keluarga, dan sebagainya.
Yusuf lalu mantap memulai kariernya sebagai pebisnis kuliner. Bertemu Noor Huda Ismail adalah titik awal baginya memulai langkah baru. Huda adalah pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP), sebuah yayasan penelitian tentang terorisme. Alumnus Pondok Ngruki itu mendirikan YPP untuk membantu para mantan teroris kembali berintegrasi dengan ke masyarakat.
Usaha Dapoer Bistik Yusuf (Foto: Instagram @foodforpeace_)
Huda menyarankan agar Yusuf merintis usaha dan YPP akan membantu mencarikan pinjaman modal. Yusuf lalu menghubungi 3 teman lamanya (bukan mantan napi teroris) untuk bergabung merintis usaha Dapoer Bistik di Semarang.
“Saya melihat usaha itu normal yah, orang habis dari penjara ingin beraktivitas ekonomi memberi nafkah keluarga, normallah orang bekerja itu,” ungkap Yusuf.
ADVERTISEMENT
Pada usahanya itu, Yusuf turut mempekerjakan para mantan napi terorisme. "Saya memberikan wacana alternatif agar mereka 'bisa kok kita mandiri secara normal tidak menjadi beban orang lain jauh dari intimidasi', misalnya," pikir dia.
Usaha Dapoer Bistik Yusuf (Foto: Instagram @foodforpeace_)
Rumah makan rintisan Yusuf pun terbilang berkembang pesat. Di tempatnya itu, seringkali dipakai untuk diskusi oleh para mantan teroris. Selain itu warga sekitar juga sering mengadakan acara kumpul-kumpul atau arisan. Mereka semua tahu, kafe ini dibangun oleh mantan teroris.
"Semua orang tahu ini resto dari napiter. Mereka tetap enjoy, kumpul RT, mengadakan arisan, karena mereka menganggap ini sebagai salah satu solusi untuk integrasi dengan masyarakat," katanya.
Meski begitu, kadang kala dalam setiap ada kejadian, identitasnya diungkit kembali. Tetapi, Yusuf menyebut itu merupakan bagian hidupnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan