kumparan
15 Mar 2019 12:15 WIB

Mari Bantu Cindy Hidup Layak Bersama Kakek- Neneknya

Cindy dibonceng kakeknya, Cokro Utomo Parimin, saat berangkat ke sekolah dengan sepeda onthel. Mereka harus menempuh jarak 2 kilometer setiap hari. Foto: Tugu Jogja/ Galih Wijaya
Sejak balita, Cindy Uristiyanti (7), bocah asal Desa Kledung Karangdalem, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, ini tak banyak merasakan kasih sayang orang tua kandungnya. Sang ayah, Usman (39), merantau ke Jakarta sejak umurnya masih 3 bulan dan tanpa kabar hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
Sedangkan ibu Cindy, Rismiyati (37), mengalami gangguan jiwa dan harus dirawat di panti rehabilitasi jiwa. Cindy kini tinggal di rumah tak layak huni bersama kakeknya, Cokro Utomo Parimin (72), dan neneknya, Tukiyem (70).
Bau tak sedap langsung menyeruak kala masuk ke rumah berlantai semen yang telah pecah itu. Rumah bak gubuk itu bisa dibilang tak layak huni, karena kondisinya yang kumuh, bahkan ada kotoran manusia di lantai.
Video
Parimin bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama istri dan cucunya. Dia mendapat jatah raskin dari pemerintah dan sering menerima bantuan tetangga.
Sementara, Cindy yang kini duduk di bangku TK, awalnya minder dan jarang bergaul dengan teman-temannya. Saat pertama datang ke sekolah, bau badan Cindy tak sedap, pakaiannya lusuh, serta rambut panjangnya tak terawat dan banyak kutu.
ADVERTISEMENT
Oleh guru-guru TK-nya, rambut Cindy dipotong pendek agar lebih rapi. Dia juga diberi 3 potong seragam gratis.
Karena perbedaan kondisi psikis, Cindy harus didampingi salah satu guru selama berkegiatan di sekolah. Tak hanya itu, kemampuan Cindy untuk menangkap pelajaran di kelas juga lebih lambat dari pada teman-teman seusianya. Meski begitu, semangatnya tak kalah dengan teman-temannya.
Melihat kondisi keluarga ini, kumparan berinisiatif menggalang dana untuk membantu keluarga Parimin dan Cindy. Mari salurkan bantuan Anda di sini atau melalui tautan berikut:
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan