kumparan
17 Januari 2019 18:45

Massa BEM SI Gelar Demonstrasi di Depan Hotel Bidakara

BEM SI gelar aksi unjuk rasa di depan arena debat di Hotel Bidakara
BEM SI gelar aksi unjuk rasa di depan arena debat di Hotel Bidakara. (Foto: Maulana Ramadhan/kumparan)
Puluhan massa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar unjuk rasa di depan arena debat di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (17/1). Unjuk rasa dilakukan sejak pukul 17.30 WIB, hanya beberapa jam menjelang pelaksanaan debat yang akan dimulai pada pukul 19.30 WIB.
ADVERTISEMENT
Koordinator lapangan demonstrasi Erfan Kurniawan mengatakan, unjuk rasa tersebut menuntut agar debat kelima capres-cawapres dilaksanakan di kampus.
"Karena kampus adalah dunia akademik tempat berkumpulnya para intelektual. Tapi empat dari lima debat yang diselenggarakan KPU semuanya dilaksanakan di hotel," ujar Erfan, Kamis (17/1).
BEM SI gelar aksi unjuk rasa di depan arena debat di Hotel Bidakara
BEM SI gelar aksi unjuk rasa di depan arena debat di Hotel Bidakara. (Foto: Maulana Ramadhan/kumparan)
Menurutnya, penyelanggaraan debat di kampus menunjukkan, pemimpin Indonesia ke depan lahir dari proses akademis.
"Dari kami ada satu perwakilan yang dipersilakan masuk ke dalam. Intinya kami menginginkan debat kelima dilaksanakan di kampus," katanya.
Erfan mengungkapkan, terkait tuntutan tersebut, pihaknya sudah mengirimkan surat ke KPU untuk meminta audiensi, tapi hasilnya nihil.
"Kami sudah kirim surat dua kali tapi yang ditolak, surat ketiga kami kirim Senin (14/1) lalu. Besok kami akan menggelar aksi di KPU sebagai bentuk ultimatum sekaligus memastikan jawaban surat itu dari KPU," jelasnya.
BEM SI gelar aksi unjuk rasa di depan arena debat di Hotel Bidakara
BEM SI gelar aksi unjuk rasa di depan arena debat di Hotel Bidakara. (Foto: Maulana Ramadhan/kumparan)
Dalam unjuk rasa tersebut, para peserta aksi juga melakukan aksi simbolis menutup kepala dengan plastik hitam.
ADVERTISEMENT
"Plastik ini artinya kami diberi penglihatan namun apa, itu gelap. Sama artinya dengan demokrasi kita. Kami bisa melihat demokrasi kita, tapi tidak dirasakan oleh masyarakat luas," pungkasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan