News
·
29 Juli 2021 12:09
·
waktu baca 2 menit

Megawati Puji BMKG China dan Jepang: Kita Bisa, Asal Ada Niat

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Megawati Puji BMKG China dan Jepang: Kita Bisa, Asal Ada Niat (184481)
searchPerbesar
Ketua umum PDIP, Megawati Soekarno Putri di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Rabu (19/2). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memberikan sejumlah saran kepada BMKG terkait penanganan dan pencegahan bencana. Megawati bahkan secara spesifik memuji BMKG China dan Jepang yang dia nilai sangat baik dalam menangani bencana.
ADVERTISEMENT
"Coba hubungi BMKG RRC dan Jepang. Saya sudah pergi ke tempat itu dua-duanya dan di RRC luar biasa," kata Megawati dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Nasional BMKG secara virtual, Kamis (29/7).
Megawati menyoroti alarm tanda bahaya bencana di China yang bahkan ada sampai di tingkat desa. Ia pun optimistis Indonesia dapat melakukan hal yang sama.
"Alarm tanda bahaya sudah sampai.... saya diberitahu, diperlihatkan [alarm tanda bahaya] sampai ke tingkat desa-desa. Bagaimana kemungkinan kita melakukan hal itu? Bisa, asal ada niat," tegasnya.
Megawati juga meminta BMKG berkomunikasi dengan BMKG Jepang. Sebagaimana diketahui, Jepang terkenal dengan penanggulangan dan pencegahan bencananya.
Megawati menyoroti bagaimana Jepang telah memberikan pendidikan menghadapi bencana sejak dini. Sehingga ketika ada bencana, masyarakat sudah siap menghadapinya.
ADVERTISEMENT
"Mereka sudah membuat warganya dari anak-anak melalui pendidikan, pengajaran menghadapi bencana, lalu setelah itu cara melarikan diri, apa saja yang harus dibawa," ungkapnya.
Ia menjelaskan, masyarakat di Jepang sudah diajarkan harus membawa tas atau backpack yang berisi baju hingga handuk kecil setidaknya untuk tiga hari.
Megawati Puji BMKG China dan Jepang: Kita Bisa, Asal Ada Niat (184482)
searchPerbesar
Bencana Banjir di Jepang Foto: Reuters
"Yang dilakukan adalah membawa baju yang sangat ringan paling tidak [untuk] tiga hari, obat-obatan pribadi, makanan yang ada gizinya, handuk kecil yang tidak memberatkan isi backpack untuk berlari," jelasnya.
Selain itu, Megawati mengungkapkan masyarakat Jepang sudah diajarkan untuk lari melalui pintu terdekat. Ketika berlari menuju tempat shelter, bahkan sudah disiapkan tiang di sisi jalan yang dapat memandu mereka menuju shelter.
"Kalau di Jepang enggak boleh pakai kendaraan karena menutup akses lari dan jalan atau apa pun yang akan jadi tempat lari menuju shelter yang teah disiapkan. Jadi yang namanya tiang-tiang itu [ada tanda] merah. Begitu [tanda] kuning boleh larinya enggak terlalu cepat, tapi terus lari," pungkasnya.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020