Melihat Euforia Garebeg Besar Idul Adha di Yogyakarta
ยทwaktu baca 2 menit

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar tradisi Garebeg Besar atau Grebeg Besar memperingati Idul Adha 1445 Hijriah atau tahun Jimawal 1957, Selasa (18/6).
Pantauan kumparan, masyarakat antusias berkumpul di halaman Masjid Gedhe Kauman sejak pukul 09.00 WIB. Sebanyak lima gunungan dibagikan kepada masyarakat.
Salah satu yang ikut merasakan euforia ini adalah Hamid asal Pati, Jawa Tengah. Dia yang sedang berwisata di Museum Sonobudoyo penasaran ketika mendapat informasi akan ada Garebeg Besar.
"Tadi bilangnya kan dibagikan, tapi ternyata keroyokan akhirnya ikut ramai-ramai," kata Hamid.
Hamid mengaku mendapat sayuran kacang panjang dan entho-entho.
"Disimpan ini, katanya kan dapat barokah dari keraton," katanya.
Sementara itu Agung, pemuda asal Sleman merasakan euforia dengan hunting foto.
"Melihat tradisi sembari hunting foto ini," katanya.
Makna Garebeg Besar
Sementara itu, Penghageng II KHP Widyabudaya, KRT Rintaiswara, menjelaskan Garebeg Besar adalah hajad dalem.
"(Yaitu) sebuah upacara budaya yang diselenggarakan oleh Keraton dalam rangka memperingati hari besar agama Islam yakni Idul Fitri, Idul Adha, dan Maulid Nabi Muhammad SAW," kata KRT Rintaiswara dalam keterangannya, Selasa (18/6).
Garebeg sendiri berasal dari kata gumbrebeg yang mengacu pada deru angin atau keramaian yang timbul saat upacara dilangsungkan.
"Gunungan merupakan perwujudan kemakmuran Keraton atau pemberian dari raja kepada rakyatnya. Jadi makna Garebeg Besar secara singkatnya adalah perwujudan rasa syukur, mangayubagya Idul Adha, yang diwujudkan dengan memberikan rezeki pada masyarakat melalui ubarampe gunungan yang berupa hasil bumi dari tanah Mataram," katanya.
Tak Lagi Dirayah
Gunungan ini tak lagi dirayah (diperebutkan) tapi dikembalikan seperti dahulu yakni dibagikan oleh abdi dalem kepada masyarakat.
"Ini merupakan perlambangan kesabaran manusia. Berbeda dengan merayah, karena kesannya yang kuat pasti yang akan mendapatkan dahulu," ujar Carik Kawedanan Widya Budaya, KRT Widyacandra Ismayaningrat.
