kumparan
18 Maret 2019 14:38

Memahami Dalil dan Bahasa Arab yang Dipakai Ma'ruf Amin dalam Debat

Cawapres no urut 01, Ma'ruf Amin menyampaikan pendapatnya saat Debat Ketiga Calon Wakil Presiden (Cawapres) Pemilu 2019 di Hotel Sultan, Minggu, (17/3). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Sebagai Ketua Umum MUI, cawapres Ma'ruf Amin menyisipkan beberapa dalil dalam Al-Qur'an dan Hadis, juga ungkapan bahasa Arab saat debat melawan Sandiaga Uno, Minggu (17/3). Apa saja dalil-dalil itu?
ADVERTISEMENT
Sepanjang debat yang berlangsung 2 jam, ungkapan bahasa Arab itu terdiri dari penggalan dalam Al-Quran dan Hadits, juga kaidah fiqih (ketentuan dalam hukum Islam).
Berikut dirangkum kumparan, Senin (18/3):
1. Tasharruful imam ‘alarra’iyyah manutun bilmaslahah
تَصَرُّفُ الْأِمَاِم عَلَى الرَّاعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصْلَحَةِ
"Kami Jokowi-Ma’ruf akan melanjutkan ikhtiar itu untuk membangun dan melindungi segenap bangsa Indonesia untuk menjadikan kehidupan mereka lebih sejahtera dan lebih maslahat sesuai dengan prinsip Tasharruful imam ‘alarra’iyyah manutun bilmaslahah."
Ungkapan itu adalah kaidah fiqih, artinya: Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya bergantung pada kemaslahatan.
2. La takhaf wa la tahzan
"Orang tua tidak perlu khawatir akan masa depan anaknya la takhaf wa la tahzan. Kalian jangan takut dan jangan sedih karena sekarang negara telah hadir dan negara akan terus hadir membantu kalian."
ADVERTISEMENT
Bahasa Arab, la takhaf artinya jangan takut, la tahzan artinya jangan bersedih.
Penggalan dalam Al-Quran Surat At-Taubah ayat 40:
لَا تَحزَن إنَّ الَلهَ مَعَنَا
Artinya: "Janganlah kamu bersedih/berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita."
3. Innama bu'istu liutammima makarimal akhlak
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
"Bangsa kami juga harus dibangun dengan yang akhlak mulia sesuai dengan hadits nabi innama bu'istu liutammima makarimal akhlak. Saya hanya diutus untuk menyempurnakan budi pekerti. Oleh karena itu, pada yang terakhir kami Jokowi Ma’ruf siap mengemban amanah untuk memimpin bangsa ini menuju Indonesia maju."
Ungkapan itu adalah hadis (ucapan/perilaku/ketetapan Nabi Muhammad) yang artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”
4. Ta'dzim, takmil, dan ziadah
ADVERTISEMENT
"Sesuai dengan prinsip kami untuk terus melakukan maximize utility, memanfaatkan memaksimalkan manfaat atau takzim memperbesar, wa takmilah menyempurnakan, dan juga wazziadah menambah maslahat yang sudah ada. Maka kami akan terus meningkatkan pelayanannya dengan memberikan yaitu pusat-pusat kesehatan yang dapat dijangkau oleh masyarakat."
Bahasa Arab: Ta'dzim (asal kata: 'adzama) artinya memperbesar, takmil (asal kata: kamala) artinya menyempurnakan, dan ziadah (asal kata: zada) artinya menambah.
5. Jalbul mashalih, daf'ul mafasid
"Kita melakukan perlindungan kepada tenaga kerja kita di luar negeri karena undang undang kita sekarang yang terakhir telah bergeser dari upaya penempatan kepada upaya perlindungan daripada jalbul mashalih mengambil kemaslahatan semata kepada daf'ul mafasid menolak kerusakan."
Berasal dari kaidah fiqih:
دَرْءُ المَفَاسِدُ مُقَدَّمُ عَلَى جَلْبِ المَصَالِحِ
ADVERTISEMENT
Artinya: Menolak atau mencegah kerusakan didahulukan daripada melakukan kebaikan.
6. Alluba
اللبأ
"Ketika susu ibu itu keluar pada saat melahirkan dan oleh dunia kedokteran disebut sebagai kolostrum dan dalam fiqh alluba adalah air susu ibu yang keluar waktu melahirkan dan hukumnya wajib untuk diberikan menurut ahli fiqh."
Bahasa Arab yang berarti kolostrum.
7. Wal waalidaatu yurdi'na aulaa dahunna haulaini kaamilaini
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ
"Apabila diberikan susu setelah 2 tahun Wal waalidaatu yurdi'na aulaa dahunna haulaini kaamilaini, 2 tahun sempurna, maka tidak lagi berpengaruh untuk mencegah stunting. Maka stunting sudah tidak bisa diatasi setelah 2 tahun disusukan anaknya."
Berasal dari Surat Al-Baqarah ayat 233:
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
ADVERTISEMENT
Artinya:
"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan