kumparan
25 Juni 2018 10:32

Menang Pemilu, Erdogan Berjanji Bebaskan Tanah Suriah

Recep Tayyip Erdogan (Foto: Lefteris Pitarakis/AP)
Recep Tayyip Erdogan menegaskan tidak akan mundur dari langkahnya dalam membantu terciptanya perdamaian di Suriah. Pernyataan ini disampaikan Erdogan setelah dia dinyatakan menang dalam pemilu presiden Turki, Minggu (24/6).
ADVERTISEMENT
Berbicara di hadapan ribuan pendukungnya di Ankara seperti dikutip Reuters, Erdogan pada Senin dini hari (25/6) mengatakan tentara Turki akan melanjutkan untuk "membebaskan tanah Suriah".
Jika tanah Suriah berhasil dibebaskan, kata dia, 3,5 juta pengungsi Suriah di Turki dalam pulang ke negara mereka dengan selamat.
Sejak perang saudara pecah di Suriah pada 2011, Erdogan telah melancarkan kecamannya terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad yang dituduh membantai rakyatnya sendiri. Turki di bawah Erdogan adalah satu dari banyak negara yang meminta Assad turun.
Presiden Turki, Tayyip Erdogan. (Foto: Kayhan Ozer/Presidential Palace/Handout via Reuters)
Dalam konflik Suriah, Turki berada di kubu anti-Assad, terlibat dengan memberikan pelatihan perang bagi milisi oposisi.
Turki adalah salah satu negara yang paling terdampak konflik Suriah. Pasalnya, Turki kini menjadi negara terbesar penampung pengungsi Suriah. Erdogan beberapa tahun lalu mengatakan negaranya telah keluar kocek hingga USD 25 miliar untuk memenuhi kebutuhan pengungsi.
ADVERTISEMENT
Perseteruan Turki dengan Suriah tidak hanya soal pengungsi dan konflik, melainkan oposisi Kurdi. Tahun ini Turki melancarkan serangan ke kota Afrin di Suriah yang diyakini bercokol milisi Kurdi. Serangan ini dikecam Assad yang menganggap Erdogan melanggar batas kedaulatan mereka.
Erdogan memenangi pemilu Presiden Turki dengan total raihan 52,5 persen suara dalam penghitungan suara yang telah mencapai 99 persen. Sementara saingan utamanya Muharrem Ince, dari Partai Rakyat Republik (CHP) memperoleh suara sebesar 31,7 persen suara.
Erdogan akan memimpin Turki dengan sistem pemerintahan yang baru yang disepakati pada referendum April 2017. Sistem negara parlementer Turki akan berubah menjadi presidensial.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan