News
·
22 Oktober 2020 17:46

Mengembangkan Vaksin Corona Itu Rumit, Prof Wiku Beberkan Alurnya

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Mengembangkan Vaksin Corona Itu Rumit, Prof Wiku Beberkan Alurnya (397157)
Prof Wiku Adisasmito. Foto: BNPB
Para pakar Indonesia yang berasal dari disiplin ilmu masih bekerja keras mengembangkan vaksin corona. Jubir pemerintah soal penanganan corona Prof Wiku Adisasmito pun menjelaskan betapa rumitnya proses sebelum vaksin diberikan ke masyarakat luas.
ADVERTISEMENT
Dalam alur vaksin, proses awal yang harus dilakukan, adalah penelitian dasar. Pada saat ini sebetulnya kita menelusuri mekanisme potensial berdasarkan ilmu yang biasanya dipakai, yaitu ilmu science dan biomedis
"Di dalam penelitian dasar ini, biasanya kita meneliti tentang virusnya, sel-sel terkait virus tersebut, sel-sel yang diinfeksi virus ini, kemudian diperbanyak," kata Prof Wiku dalam jumpa pers virtual dari BNPB, Kamis (22/10).
Peneliti ingin melihat sel sel yang diperbanyak ini bagaimana reaksinya. Baru kemudian diekstraksi virusnya dalam jumlah yang lebih banyak. Proses ini biasanya sudah mulai dilakukan vaksin dalam jumlah terbatas
Setelah penelitian dasar ini, dilakukan uji preklinis sebelum uji klinis. Apa itu uji preklinis?
Prof Wiku menjelaskan, uji preklinis itu memastikan bahwa vaksin yang dibuat diuji dulu di dalam sel. Dan nanti dilanjutkan pada hewan percobaan, studi invitro dan in vivo.
ADVERTISEMENT
"Dan dalam uji ini, untuk mengetahui keamanan bila nanti diujikan kepada manusia. Uji pre klinis untuk memastikan bahwa vaksin aman apabila diujikan ke manusia, diujikan dulu ke hewan," ungkapnya.
Dalam proses ini peneliti ingin pastikan sel dan badan sel yang dimatikan dari virus ini, diambil dan dimodifikasi agar bisa menjadi bahan vaksin yang tepat. Sebelum diuji pada uji preklinis tersebut.
Setelah proses uji preklinis tuntas dan hasilnya aman, maka baru dilanjutkan dengan uji klinis. Uji klinis 3 fase.
Mengembangkan Vaksin Corona Itu Rumit, Prof Wiku Beberkan Alurnya (397158)
Ilustrasi vaksin corona. Foto: Shutterstock
Fase I:
Memastikan uji ini pada manusia dengan jumlah sampel minimal 100, untuk menilai dan memastikan keamanan pada manusia serta menilai farmakokinetik dan farmakodinamik
"Jadi bagaimana proses vaksin tersebut masuk ke manusia, melalui proses farmakokinetik dan farmakodinamik," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Di dalam uji klinis fase I ini, peneliti menentukan rentang dosis aman. Jadi pertama sudah diuji pre klinis pada hewan percobaan, untuk memastikan aman untuk manusia, kemudian berikutnya uji klinis fase I untuk memastikan keamanan dosis pada manusia.
Fase II:
Biasanya jumlah sampel yang dipakai dalam fase ini antara 100-500 orang. Peneliti ingin memastikan dan menilai keamanan manusia tercapai, dan menilai efektivitasnya, serta menentukan rentang dosis optimalnya.
"Juga menentukan frekuensi pemberian dosis yang paling optimal serta menilai efek samping jangka pendek," tuturnya.
Mengembangkan Vaksin Corona Itu Rumit, Prof Wiku Beberkan Alurnya (397159)
Ilustrasi vaksin corona. Foto: Shutterstock
Fase III:
Uji klinis fase ini biasanya dilakukan pada jumlah sampel minimal 1000-5000 orang. Hal ini dilakukan untuk menilai dan memastikan keamanan, efektivitas, keuntungan yang melebihi risiko penggunaan pada populasi yang lebih besar
ADVERTISEMENT
"Apabila uji klinis fase 3 tuntas dan memuaskan, akan masuk ke fase berikutnya, fase persetujuan," katanya.
Fase Persetujuan:
Di fase ini, peneliti harus pastikan dapat persetujuan dari lembaga pengawas obat dan makanan serta kesehatan. Apabila semua berjalan baik, bisa masuk ke dalam proses persetujuan yang dilanjutkan dengan pembuatan vaksin dalam jumlah besar.
"Ini adalah rentetan alur penelitian vaksin mulai dari penelitian dasar, uji preklinis, uji klinis fase I, fase II, fase III, kemudian persetujuan, baru produksinya," tutup dia.