kumparan
20 Agu 2018 9:09 WIB

Mengenal Ratoh Jaroe, Tarian Asal Aceh Pembuka Asian Games 2018

Tari Saman di Opening Ceremony Asian Games 2018 (Foto: REUTERS/Athit Perawongmetha)
Aksi 1600 penari sukses mencuri perhatian dalam gelaran malam pembukaan Asian Games 2018. Aksi heroik yang ditampilkan para penari menjadi klimaks pembukaan perhelatan olah raga terbesar di Benua Asia.
ADVERTISEMENT
“Salamualaikum kami ucapkan para undangan yang baru teuka. Karena saleum Nabi keun Sunnah, jaro ta meumat tanda mulia,” syair pembuka ini sontak membuat seluruh penonton di GBK berteriak tepuk tangan.
Mulai dari kekompakan, keindahan, hingga formasi tarian membuat penonton terkagum-kagum. Tidak hanya heran dengan kekompakan dan formasi yang ditampilkan, banyak masyarakat yang heran dengan cepatnya para penari berganti baju sebanyak 4 kali saat tampil.
Putih, merah, oranye, dan ungu ketiga warna itu muncul bergantian dalam waktu hampir bersamaan. Penonton disuguhkan dengan formasi warna baju yang berubah-ubah tempat.
Meski gaung kemeriahan pembukaan Asian Games menggema hingga di mata dunia, namun penyebutan nama tarian itu sendiri menjadi perbincangan, khususnya di Aceh. Di satu sisi mereka memuji penampilan tersebut, di sisi lain merasa kecewa lantaran tarian yang dimainkan disebut tarian Saman.
ADVERTISEMENT
Tarian yang dibawakan para siswi dari sejumlah SMA gabungan di DKI Jakarta itu merupakan tari Ratoh Jaroe. Di mana tarian ini adalah kreasi dari gabungan tarian yang ada di Aceh. Tarian ini dijadikan sebagai penampilan pembuka oleh sang koreografer Denny Malik. Meski demikian, tarian ini bukanlah tari Saman melainkan Ratoh Jaroe. Karena sejatinya Saman dimainkan oleh para lelaki.
Tari Saman berasal dari negeri 1.000 bukit yaitu Kabupaten Gayo Lues. Sebutan itu disematkan karena letak geografis daerahnya berada di wilayah bagian tengah Provinsi Aceh. Jika berkunjung ke sana, hamparan bukit barisan diselimuti awan akan memanjakan mata.
Nah, di Gayo Lues sendiri Saman menjadi tabu dibicarakan jika tarian itu dimainkan oleh wanita. Karena sesungguhnya Saman hanya ada pada tubuh lelaki.
ADVERTISEMENT
Perbedaan Ratoh Jaro dan Tarian Saman
Peserta tarian Saman massal yang diikuti 12.262 penari di stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Gayo Lues, 13 Agustus 2017. Berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
Ratoh Jaroe merupakan tari kreasi gabungan dari tarian yang ada di Aceh. Tarian ini pertama sekali dipopulerkan oleh salah seorang seniman Aceh yang berkarir di Jakarta. Tarian ini sendiri dimainkan penari perempuan dengan jumlah genap.
Gerakan di dalam tubuh tarian Ratoh Jaroe, berangkat dari unsur kebersamaan, kekompakan, dan mengangkat dari tarian-tarian yang ada di Aceh seperti tarian Ratep Meuseukat, Likok Pulo, Rapai Geleng, Ratoh Duk, Ratoh Dong, dan lainnya.
Selain itu, dalam penampilannya Ratoh Jaroe diiringi oleh tabuhan musik rapai, salah satu alat musik tradisional Aceh, dan dikendalikan oleh seorang syeh (vokalis) yang membawakan syair-syair berupa pesan dalam bahasa Aceh. Mereka tidak masuk dalam barisan penari, biasanya berada di sisi kanan atau kiri penari.
ADVERTISEMENT
Penamaan Ratoh Jaro berasal dari kata Ratoh (berzikir) dan Jaro (tangan) yang artinya berzikir atau bernyayi sambil memainkan gerak tangan.
“Yang jelas penampilan semalam itu bukan tarian Saman. Tetapi Ratoh Jaroe, jumlah pemainnya paling sedikit 10 orang. Syair di dalam berbahasa Aceh, gerakannya juga gerakan Ratoh Jaroe yang diambil dari beberapa gerakan tarian di Aceh. Kalau ada yang bilang itu Saman salah,” ujar Yusri, salah seorang seniman Aceh, dihubungi kumparan pada Senin (20/8).
Sementara tarian Saman dimainkan oleh para lelaki dengan jumlah ganjil. Dalam penampilannya Saman dikendalikan seorang penangkat atau syeh yang berada di tengah penari. Syair-syair yang dimainkan di dalamnya menggunakan bahasa Gayo.
Penangkat Saman atau syeh, Syarifuddin, mengatakan syair di dalam Saman menceritakan tentang alam, budaya, adat di dataran tinggi Gayo termasuk pesan-pesan ibadah. Saman itu sendiri terdapat beberapa gerakan, ia mencontohkan salah satunya seperti gerakan selang-seling yang mengambarkan tentang kehidupan masyarakat meski berbeda pendapat tapi tetap satu tujuan.
ADVERTISEMENT
“Saman ini hanya dimainkan oleh laki-laki di masyarakat Gayo. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa,” ujarnya saat ditemui kumparan pada perhelatan tari Saman 10001, yang berlangsung di stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Gayo Lues, 13 Agustus 2017 lalu.
Syarifuddin menyebutkan, meski Saman itu berasal dari Gayo Lues tetapi perempuan di sana tidak pernah memainkannya. Bahkan Saman itu sendiri menjadi tabu jika dibawakan oleh penari perempuan. Karena gerakan Saman bersifat energik di mana terdapat gerakan yang memukul dada dengan keras.
“Perempuan kan tidak boleh memukul dadanya, dan Saman perempuan itu memang tidak ada,” katanya.
Di Gayo Lues sendiri, ucap Syarifuddin, kesenian yang dimainkan oleh perempuan disebut dengan tari bines. Pakaian yang digunakan sopan serta lirik syair di dalamnya tidak menyinggung orang lain.
ADVERTISEMENT
“Walaupun berkesenian tetapi syariat dan agama tetap paling utama. Intinya tidak boleh bertentangan dengan agama. Perempuan kami di sini bisa bermain bines. Tetapi kalau Saman itu tidak boleh,” pungkasnya.
Peserta tarian Saman massal yang diikuti 12.262 penari di stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Gayo Lues, 13 Agustus 2017. Berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
Di sisi lain, seorang seniman di Banda Aceh, Imam Juhaini berpendapat, dalam kesenian kata Saman bersifat umum masyarakat di Aceh baik pesisir maupun pedalaman memiliki ciri khas Saman tersendiri. Ia mencontohkan, seperti di daerah pesisir di sebut dengan Meusaman atau populernya Seudati. Sedangkan di wilayah Barat Selatan Aceh mengenalnya dengan Rapai Saman.
“Jadi kata-kata Saman itu identik dengan pernyataan bahasa tari,” ucapnya.
Dikatakan Imam, tarian Ratoeh Jaroe merupakan tari yang dikembangkan di pusat kota Jakarta oleh seniman Aceh yang ada di sana. Mereka ingin memperkenalkan Aceh melalui Ratoh Jaro yang mana di dalamnya terdapat bentuk-bentuk tari yang ada di Aceh.
ADVERTISEMENT
“Secara kreativitas kita memberikan apresiasi besar terhadap seniman-seniman Aceh di Jakarta. Akan tetapi ada hal-hal yang mereka tidak boleh lupakan Aceh itu kaya sekali akan keseniannya. Begitu juga teman-teman atau masyarakat di Aceh, jangan latah ketika mendengar kata-kata Saman disebut oleh orang luar Aceh. Karena berbicara Saman itu sangat umum. Jadi beda bahasa, letak geografis, dan adat setempat memberikan warna tersendiri terhadap tari Saman yang dimunculkan,” tuturnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan