kumparan
22 Jun 2018 15:19 WIB

Mengenang Brigadir Anumerta Fandi yang Gugur Saat Rusuh di Mako Brimob

AKBP Jumiati (57) menunjukkan foto putranya (Foto: Arfiansyah Panji Ournandaru/kumparan)
Mata AKBP Jumiati (57) berkaca-kaca. Ibunda Brigadir Pol Anumerta Fandi Setyo Nugroho yang gugur dalam insiden kerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok tersebut begitu terharu saat menerima santunan sebesar Rp40.300.000 dari Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama), Jumat (22/6).
ADVERTISEMENT
Jauh sebelum bertugas dan gugur di Densus 88, Fandi memang pernah menjadi bagian dari kampus rakyat tersebut. Fandi diterima sebagai mahasiswa D3 Hukum Sekolah Vokasi UGM pada 2007 dan lulus pada 2010.
"Dengan kehadiran saya di sini saya mengucapkan terima kasih kepada Kagama yang telah membantu saya supaya tetap tabah atas gugurnya anak saya," ujar perwira yang bertugas di Polres Magelang tersebut.
Santunan insiden kerusuhan di Mako Brimob (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)
Jumiati menjelaskan bahwa sejak kecil, cita-cita Fandi memang menjadi seorang polisi. Setelah lulus SMA, anak bungsu dari dua bersaudara itu sempat mendaftar sebagai polisi namun gagal. Baru pada 2011 kesempatan itu datang, setelah meraih gelar sarjana Fandi diterima masuk pendidikan Sekolah Calon Bintara (Secaba) di Lido pada 2011. Fandi menjadi salah satu lulusan terbaik di angkatannya.
ADVERTISEMENT
"Dia memang senang jadi polisi. Saya polwan, mungkin mulai dari kecil anak saya pingin meniru saya," kenang Jumiati.
Menurut Jumiati, saat di Lido anak laki-lakinya itu menempuh pendidikan Pembinaan Masyarakat (Binmas). Fandi ditempa untuk menjadi Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas).
Ilustrasi Densus 88 (Foto: MN Kanwa/ANTARA)
Namun setelah lulus, kata dia, Fandi justru ditugaskan di Mabes Polri, tepatnya di Densus 88. Di sana, sejumlah tugas diemban Fandi. Mulai dati tugas ke Amerika Serikat hingga Thailand.
"Waktu pendidikan Secaba dia dapat rangking kebetulan. Mungkin fisiknya bagus atau gimana dia masuk di Den 88. Mulai 2011 di Mabes," cerita Polwan yang tinggal di Magelang Selatan ini.
Bagi Jumiati, anaknya itu merupakan seorang yang gigih dan menjalankan tugas dengan senang hati. Fandi, lanjut dia, tak pernah sedikit pun mengeluh kepada ibunya. Berkali-kali Jumiati selalu menekankan pada anaknya bahwa risiko menjadi polisi memang berat.
ADVERTISEMENT
"Risiko polisi memang berat mau di Lantas, Serse tetap berat," ucap dia.
Suasana rumah Briptu Fandi (Foto: Marissa Krestanti)
Kerusuhan di Makob Brimob yang terjadi pada 9 Mei lalu memang mengakibatkan Jumiati tak lagi dapat bertemu anaknya. Fandi gugur meninggalkan seorang istri bernama Geha Solichah dan seorang putri yang berusia 9 bulan, Shanum Sheeza. Kendati demikian, Jumiati selalu bersikap tegar dan ikhlas dalam menerima kenyataan tersebut.
"Harapan saya, ya saya yang penting tetap ikhlas menerima cobaan ini. Tetapi saya berpesan kepada rekan-rekan Densus 88 (agar tetap) berjuang melawan teroris ini, jangan berhenti. Berjuang terus," pungkasnya.
Sementara itu, Rektor UGM, Panut Mulyono menjelaskan bahwa bantuan tersebut dihimpun dari rekan-rekan Kagama sebagai wujud kepedulian serta simpati kepada keluarga Fandi. "Jangan dilihat dari jumlahnya tapi ini sebagai wujud kepdulian kami, dukungan moril agar keluarga tetap bersemangat," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Panut menjelaskan, Fandi merupakan sosok yang aktif semasa berkuliah di UGM. Fandi terkenal sebagai mahasiswa yang militan mengikuti sejumlah kegiatan seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan sejumlah ektrakulikuler yang ada di kampus.
"Pak Dekan menyampaikan bahwa beliau (Fandi) aktivis kemahasiswaan dan militan dalam hal positif. Mengikuti kegiatan kemahasiswaan, kegiatan kemahasiswaan seperti BEM dan di kampus banyak kegiatan ekstrakulikuler dan almarhum termasuk yang sangat aktif," tutup dia.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan