kumparan
26 Maret 2020 16:49

Mengukur Kesiapan Indonesia Menghadapi Puncak Wabah Corona

Ruang Perawatan RS Darurat COVID-19 Wisma Atlet
Petugas medis memeriksa alat kesehatan di IGD RS Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3). Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak A
Kasus positif virus corona yang bertambah setiap harinya di Indonesia semakin dikhawatirkan sejumlah pihak. Para peneliti kesehatan dalam dan luar negeri turut menyoroti kesiapan Indonesia menangani wabah yang ditetapkan PBB sebagai pandemi ini.
Prakiraan ambruknya fasilitas kesehatan (faskes) pun mencuat kala pemerintah terus menekankan upaya kuratif (penyembuhan) ketimbang antisipatif. Salah satunya dari Peneliti epidemiologi klinis FKUI-RSCM, dokter Tifauzia Tyassuma.
“Membangun rumah sakit darurat, membeli APD (alat pelindung diri), membeli obat yang belum ketahuan efektivitasnya, itu upaya kuratif. Sementara peningkatan kesadaran masyarakat atas COVID-19 sangat terbatas. Kalau begitu terus, faskes bisa ambruk pada kasus ke-1.000. Saya perkirakan paling lambat 10 hari dari sekarang,” kata Tifauzia kepada kumparan (25/3).
Hingga Kamis (26/3), pemerintah melaporkan kasus positif virus corona di Indonesia mencapai 893 orang. Menurut estimasi studi Center for Mathematical Modelling of Infectious Diseases yang berbasis di London, Inggris, jumlah itu hanya 2 persen dari total kasus yang berhasil dikonfirmasi.
Sementara itu, peneliti ITB memprediksi kasus corona di Indonesia akan mencapai puncaknya pada pertengahan April dan baru berakhir pada awal Juni 2020. Di akhir periode wabah, diperkirakan ada 60 ribu kasus positif COVID-19 dari total 269,6 juta jiwa penduduk RI.
Bagaimana kesiapan RI untuk menghadapi masa-masa sulit tersebut? Salah satu cara mengukurnya adalah dengan melihat rasio jumlah fasilitas dan sumber daya kesehatan yang tersedia di suatu negara.
Untuk fasilitas kesehatan, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), World Bank, hingga WHO kerap menilik data rasio jumlah ranjang di rumah sakit per 1.000 penduduk.
"Indikator ini memberikan ukuran sumber daya yang tersedia untuk memberikan layanan kepada pasien rawat inap di rumah sakit dalam hal jumlah tempat tidur yang dirawat, dikelola, dan segera tersedia untuk digunakan," tulis OECD dalam situs resminya.
Dari 43 negara yang diriset OECD, Indonesia berada di peringkat 41 dalam hal ketersediaan ranjang per 1.000 penduduk. Posisi itu hanya menempatkan Indonesia di atas India dan Kosta Rika.
Data Profil Kesehatan Indonesia 2018 yang dirilis Kemenkes, menunjukkan Indonesia punya 1,2 ranjang tiap 1.000 penduduk. Menurut rujukan tersebut, standar WHO adalah 1 tempat tidur untuk 1.000 penduduk.
Dengan demikian, meskipun masih kalah jauh rasionya dibandingkan negara lain, Indonesia sudah memenuhi standar secara umum. Masalahnya, persebaran tempat tidur yang tersedia tidak merata diseluruh provinsi.
Provinsi DKI Jakarta dan Sulawesi punya rasio tertinggi. Kedua provinsi tersebut memiliki lebih dari dua ranjang RS per 1.000 penduduknya. Perbandingan itu berada di atas standar WHO.
Sementara, ada 8 provinsi yang rasionya berada di bawah standar WHO yakni Riau (0,98), Kalimantan Tengah (0,91), Sulawesi Barat (0,91), Lampung (0,91), Banten (0,87), Jawa Barat (0,85), NTT (0,81) dan NTB (0,71). Tiap 1.000 penduduk di provinsi-provinsi tadi tak satu pun bisa mendapat akses ranjang RS menurut perbandingan tersebut.
Lalu, bagaimana dengan fasilitas dan sumber daya kesehatan di Indonesia? Apabila dibandingkan dengan 5 negara lain yang kasus coronanya paling tinggi, Indonesia juga masih berada di peringkat paling bawah.
China, Italia, Amerika Serikat, Spanyol setidaknya memiliki lebih dari 1 ranjang RS untuk tiap 1.000 penduduk. Bahkan, Jerman yang dihantam 31.554 kasus corona per 25 Maret 2020, punya 8 ranjang.
Rasio dokter dan perawat Indonesia yang berjibaku di garis depan penanganan corona juga paling minim di antara 5 negara dengan jumlah pasien positif terbanyak.
Italia, Spanyol, dan Jerman setidaknya punya 4 dokter untuk 1.000 penduduk. Sementara perawat di Italia, AS, Spanyol, dan Jerman berada di rentang 5-13.
Adapun rasio dokter di Indonesia tak mencapai 1 untuk setiap 1.000 penduduk. Sementara itu, jumlah perawat masih lebih baik, yakni 2 untuk setiap 1.000 penduduk.
Dengan kondisi semacam itu, menurut ahli epidemiologi Universitas Indonesia, Budi Haryanto, Indonesia tak siap dengan kemungkinan lonjakan kasus di masa yang akan datang.
"Rumah sakit (di Indonesia) tak siap untuk mendukung kasus yang akan terjadi. Penanganan akan terbatas," kata Budi seperti dilansir Reuters, Rabu (25/3).
***
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!
SQR - Cover Story - Ilustrasi Corona
Bersiap menghadapi puncak epidemi. Ilustrator: Maulana Saputra/kumpara
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan