Menkes: Satu Pasien Anak Suspek Gagal Ginjal Akut di Jakarta Dinyatakan Negatif

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Ginjal. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ginjal. Foto: Shutterstock

Satu pasien suspek Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA) di DKI Jakarta dinyatakan negatif. Saat ini pasien berusia 7 tahun itu masih dirawat di RSCM.

Sedangkan satu pasien lainnya positif GGAPA. Setelah mendapat perawatan di RSCM, pasien berusia 1 tahun itu meninggal dunia.

"Kita mengindentifikasi bulan ini ada 2 (kasus) setelah sekian lama (tidak ada). Satu sudah confirm bukan gagal ginjal akut. Satu confirm gagal ginjal akut," kata Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin saat rapat kerja dengan Komisi IX DPR, Rabu (8/2).

"Setelah sampai di RSCM kita kasih Fomepizole (antidot untuk mengobati GGAPA) sudah terlambat dan meninggal di hari yang sama," ucap Budi.

Suasana rapat kerja Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dengan Komisi IX DPR, Rabu (8/2/2023). Foto: Youtube/Komisi IX DPR RI

Kemenkes sudah mengirimkan sampel obat sirop yang diminum kedua anak tersebut ke Labkesda DKI dan BPOM untuk mengetahui ada tidaknya cemaran EG/DEG. Namun hasil ambang batasnya berbeda. "Labkesda positif, BPOM negatif," kata Budi.

Karena ada perbedaan hasil ini, Kemenkes kemudian mengirimkan sampel tersebut ke empat lab lainnya untuk diuji. Bila hasilnya sudah keluar akan diumumkan secara bersamaan.

"Dalam minggu ini kalau empat lab sudah formal keluar keluar hasilnya kita minta diumumkan. Apakah di bawah ambang batas atau di atas ambang batas," kata Budi.

Suasana rapat kerja Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dengan Komisi IX DPR, Rabu (8/2/2023). Foto: Youtube/Komisi IX DPR RI

Soal obat Praxion produksi Pharos yang diminum pasien meninggal, Budi mengatakan Kemenkes tidak menyebutkan obat tersebut Tidak Memenuhi Syarat (TMS). Kemenkes hanya menyebutkan nama obatnya. Sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut soal kandungan obat tersebut.

"Di media seakan menjadi polemik. Dari kemenkes kita tidak pernah menyatakan bahwa ini TMS , kita menyebutkan nama obatnya," ucap Budi.

Budi mengatakan sudah berkomunikasi dengan Kepala BPOM Penny Lukito untuk menyelidiki masalah ini. "Kami minta BPOM untuk bisa segera menyelesaikan masalah ini agar tidak merisaukan masyarakat," katanya.

Obat Praxion Memenuhi Syarat

BPOM melakukan uji lab terhadap tujuh sampel obat sirop Praxion yang diminum seorang anak di Jakarta yang meninggal akibat Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA) pada anak. Obat sirop tersebut adalah Praxion, produksi PT Pharos Indonesia.

Hasil uji sampel, obat sirop Praxion memenuhi syarat.

"Dari hasil pengujian 7 sampel hasil semua pengujian tersebut adalah memenuhi syarat. Artinya memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan atau standar yang ada di Farmakope Indonesia," kata Plt Deputi Bidang Pengawasan Obat Narkotika, Psikotropika BPOM, Togi Junice Hutadjulu, dalam konferensi pers, Rabu (8/2).

Berikut kronologi dua pasien anak tersebut:

Pasien pertama, anak usia 1 tahun

25 Januari 2023

-Anak demam dan diberikan obat sirop penurun demam yang dibeli di apotek dengan merek Praxion.

28 Januari 2023

-Anak mengalami batuk, demam, pilek, dan tidak bisa buang air kecil (Anuria) kemudian dibawa ke Puskesmas Pasar Rebo, Jakarta Timur, untuk mendapatkan pemeriksaan.

31 Januari 2023

-Pasien dirujuk ke Rumah Sakit Adhyaksa. Dikarenakan ada gejala GGAPA, maka direncanakan untuk dirujuk ke RSCM, tetapi keluarga menolak dan pulang paksa.

1 Februari 2023

-Orang tua membawa pasien ke RS Polri, Jakarta Timur, dan mendapatkan perawatan di ruang IGD. Pasien sudah mulai buang air kecil.

-Pasien kemudian dirujuk ke RSCM untuk mendapatkan perawatan intensif sekaligus terapi Fomepizole (antidot untuk mengobati GGAPA), namun 3 jam setelah di RSCM pada pukul 23.00 WIB pasien dinyatakan meninggal dunia.

Pasien kedua, anak usia 7 tahun

26 Januari 2023

-Pasien demam dan minum obat penurun panas sirop yang dibeli secara mandiri di apotek. Tidak diinfokan merek obat tersebut.

30 Januari 2023

-Mendapatkan pengobatan penurun demam tablet dari puskesmas.

1 Februari 2023

-Pasien berobat ke klinik dan diberikan obat racikan.

2 Februari 2023

-Pasien dirawat di RSUD Kembangan, Jakarta Barat, kemudian dirujuk ke RSCM.

2 Februari 2023

-Pasien menjalani perawatan di RSCM Jakarta.

8 Februari 2023

-Menkes Budi Sadikin menyatakan pasien negatif gagal ginjal akut.