News
·
8 Desember 2020 12:53

Menristek: Tak Hanya Alkes, Bahan Baku Obat di Indonesia 95% Impor

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Menristek: Tak Hanya Alkes, Bahan Baku Obat di Indonesia 95% Impor (423879)
Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro usai melakukan pertemuan di gedung KPK, Jakarta, Selasa (16/6). Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, tak hanya alat kesehatan saja yang diimpor oleh Indonesia tapi juga bahan baku pembuatan obat. Menurut dia, 95 persen bahan baku obat diimpor. Akan tetapi, dia tak menyebutkan secara rinci asal negara pengimpor bahan baku obat di Indonesia.
ADVERTISEMENT
"Di sisi alkes (alat kesehatan) 94 persen impor, bahan baku obat 95 persen impor," kata dia dalam keterangannya di video conference di Gedung Sate Bandung, Selasa (8/12).
Bambang lalu mencontohkan vitamin C. Meski pabrik obatnya ada di Indonesia, tetapi bahan yang terkandung di dalam vitamin itu merupakan impor. Dia mengetahui perihal diimpornya bahan baku obat setelah terjadinya kelangkaan di pasar ketika masyarakat marak membeli vitamin C demi meningkatkan daya tahan tubuh.
"Semua tahunya vitamin C adalah vitamin yang penting untuk memperkuat imun akhirnya semua membeli lalu terjadi kelangkaan di pasar dan ketika saya pelajari kenapa langka? Karena bahan bakunya yang belum datang, jadi bukan pabriknya yang enggak siap, tapi karena bahan bakunya yang belum siap karena harus diimpor tadi," papar dia.
ADVERTISEMENT
Adapun bahan baku yang terkandung dalam vitamin C, kata Bambang, merupakan bahan kimia. Untuk dapat membuat bahan kimia, diperlukan investasi dengan jumlah besar dan waktu lama bagi Indonesia. Sebagai upaya menyiasatinya, Indonesia pun berinovasi dengan memanfaatkan keanekaragaman hayati hingga dapat memiliki kandidat bahan baku obat dari herbal.
"Inovasi apa di bidang obat? Bahannya ada di depan kita semua yaitu keanekaragaman hayati ya, tapi selama ini kita mempelajari keanekaragaman hayati sebagai ilmu saja bahwa Indonesia punya keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia kalau untuk daratan, untuk nomor dua setelah Brazil," ucap dia.
Inovasi tersebut menjadi prioritas research nasional yang diberi nama Obat Modern Asli Indonesia (OMAI). Tak hanya Indonesia, sejumlah industri di Eropa pun sudah beralih untuk menggunakan bahan baku herbal setelah melihat efek samping dari obat berbahan baku kimia.
ADVERTISEMENT
"Kenapa ada kata modern? Karena kalau orang melihat obat herbal itu seolah obat tradisional kadang hanya sebatas minuman jamu atau OHT, padahal kalau dilakukan penelitian, kita bisa melahirkan inovasi obat bahannya herbal tapi untuk menyembuhkan penyakit diabetes dan penyakit tekanan darah tinggi atau ginjal," pungkas dia.