Menteri LHK: Alhamdulillah Fase Kritis I Karhutla Terlewati

15 Juni 2020 14:39
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Menteri LHK: Alhamdulillah Fase Kritis I Karhutla Terlewati (30380)
zoom-in-whitePerbesar
Petugas berusaha memadamkan api yang membakar semak belukar saat terjadi kebakaran lahan di Pekanbaru, Riau, Rabu (26/2/2020). Foto: ANTARA/Rony Muharrman
Berbekal analisis dan rekomendasi BMKG, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengupayakan pencegahan dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
ADVERTISEMENT
Upaya tersebut dilakukan dengan merekayasa jumlah hari hujan untuk pembasahan gambut yang rentan terbakar melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di provinsi rawan karhutla.
Modifikasi cuaca ini juga dimaksudkan untuk mengisi embung dan kanal, dengan memanfaatkan potensi awan hujan. Berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau 2020 telah dimulai sejak memasuki Juni dan akan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.
Menteri LHK: Alhamdulillah Fase Kritis I Karhutla Terlewati (30381)
zoom-in-whitePerbesar
Pemantauan potensi karhutla dan pelaksanaan TMC di Talang Betutu, Palembang, Sumatera Selatan. Foto: KLHK
Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar mengatakan, rekayasa ini terbukti secara scientific atau berbasis ilmu pengetahuan menambah volume air yang dijatuhkan ke daerah-daerah rawan karhutla, sehingga potensi karhutla dapat diantisipasi dengan baik.
''Alhamdulillah upaya pencegahan melalui teknologi berbasis science, daerah rawan seperti Provinsi Riau, Sumsel, dan Jambi dapat melewati fase kritis I karhutla tahun ini. Kita memang harus sedikit lebih berkorban dengan melakukan rekayasa hari hujan lebih awal guna membasahi gambut, juga untuk mengisi embung dan kanal,'' jelas Siti dalam keterangan resmi KLHK, Senin (15/6).
ADVERTISEMENT
'Tahun ini kita lakukan lebih cepat karena sangat penting menjaga masyarakat terhindar dari ancaman karhutla, terlebih lagi di masa pandemi Corona,'' imbuhnya.
Menteri LHK: Alhamdulillah Fase Kritis I Karhutla Terlewati (30382)
zoom-in-whitePerbesar
Menteri LHK, Siti Nurbaya. Foto: KLHK
Periode I TMC telah dilaksanakan sejak 11 Maret-2 April 2020 di Provinsi Riau. Dilaksanakan sebanyak 27 sorti atau penerbangan, dengan bahan semai 21,6 ton NaCL. Menghasilkan 97.8 juta meter kubik air hujan.
Sedangkan untuk periode II TMC, dilaksanakan di Provinsi Riau dari tanggal 13-31 Mei 2020, Dengan menggunakan pesawat Cassa 212 C TNI AU, ada 16 sortie DAN jumlah bahan semai (NaCL) mencapai 12,8 ton. Adapun volume hujan yang dihasilkan mencapai 44,1 juta meter kubik.
Sedangkan untuk wilayah Provinsi Sumsel dan Jambi dilaksanakan TMC sejak tanggal 2-13 Juni dan telah dilakukan 11 sorti penerbangan dengan total bahan semai garam NaCl sebanyak 8.8 ton. Adapun total volume air hujan secara kumulatif dari hasil TMC diperkirakan mencapai 23,71 juta meter kubik.
Menteri LHK: Alhamdulillah Fase Kritis I Karhutla Terlewati (30383)
zoom-in-whitePerbesar
Pemantauan potensi karhutla di Talang Betutu, Palembang, Sumatera Selatan. Foto: KLHK
Rekayasa ini juga melibatkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), berdasarkan Instruksi Presiden nomor 3 tahun 2020 tentang penanggulangan karhutla sebagai satu-satunya institusi negara yang memiliki tugas dan fungsi untuk melakukan TMC.
ADVERTISEMENT
Ada beberapa Provinsi rawan yang menjadi fokus penanggulangan Karhutla yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Namun Siti merasa lega, pada fase kali ini cukup baik.
''Kita biasanya di bulan Juni atau lebaran, agak khawatir dengan perkembangan cuaca. Sekarang sementara agak lega, namun tetap waspada untuk fase kritis tahap dua di puncak musim kemarau bulan Agustus mendatang. Seluruh pihak terkait harus benar-benar meningkatkan kewaspadaan,'' kata Siti.
Menteri LHK: Alhamdulillah Fase Kritis I Karhutla Terlewati (30384)
zoom-in-whitePerbesar
Helikoter milik BNPB melakukan water bombing pada kebakaran lahan di Kawasan Handil Bakti, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Minggu (22/9/2019). Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Sementara itu, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, saat rapat bersama KLHK menyampaikan kondisi cuaca dan iklim harus menjadi pertimbangan dalam melakukan operasional TMC. Menurutnya, hingga ke penghujung Juni dan memasuki Juli, potensi pertumbuhan awan hujan di Riau dan Sumatera Selatan akan semakin menurun.
ADVERTISEMENT
Begitu pula dengan faktor kelembapan udara. Untuk wilayah Sumatera, secara umum mulai mengalami penurunan sehingga akan cukup menghambat pertumbuhan awan-awan konvektif. Sedangkan untuk potensi pertumbuhan awan di wilayah Kalimantan akan bertambah.
''Pada bulan Juni Dasarian III dan Juli Dasarian I untuk wilayah Riau, Jambi dan Sumsel hampir tidak mempunyai peluang mendapatkan curah hujan. Karena itu rekomendasi kami pada bulan Juli sangat kecil peluang TMC dilakukan, sehingga pencegahan Karhutla diprioritaskan dengan non TMC,'' jelas Dwikorita.
Menteri LHK: Alhamdulillah Fase Kritis I Karhutla Terlewati (30385)
zoom-in-whitePerbesar
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Sedangkan pada Agustus di saat terjadi puncak musim kemarau, peluang TMC dapat dilakukan di sebagian wilayah Riau dan perbatasan dengan Jambi. Sedangkan pada September, peluang TMC dapat dilakukan di sebagian wilayah Jambi dan perbatasan wilayah Sumatera Selatan.
ADVERTISEMENT
Kepala BPPT, Hammam Riza, menjelaskan selama pelaksanaan TMC selama periode Maret-Mei, berhasil mencegah adanya hotspot atau titik api, serta dapat meningkatkan Tinggi Muka Air (TMA) pada lahan gambut.
''TMC mampu menghasilkan air dalam jumlah yang sangat banyak sampai jutaan meter kubik per hari jika dilakukan pada saat yang tepat. Operasi ini sangat tergantung dari ketersediaan awan dan memperhatikan level air gambut,'' kata Hammam.

Jumlah Titik Api Menurun

Menteri LHK: Alhamdulillah Fase Kritis I Karhutla Terlewati (30386)
zoom-in-whitePerbesar
Foto udara kebakaran lahan gambut di Kumpeh Ulu, Muarojambi, Jambi, Kamis (1/8). Foto: ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan
Perbandingan total jumlah hotspot pada 2019 dan 2020 per tanggal 1 Januari–9 Juni, berdasarkan Satelit Terra/Aqua (NASA) dengan Level kepercayaan =80 persen sebanyak 837 titik. Sementara pada periode yang sama 2019 jumlah hotspot sebanyak 1.381 titik. Artinya terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 544 titik atau 39,39 persen.
ADVERTISEMENT
Untuk semakin menurunkan jumlah hotspot dan mencegah karhutla, KLHK terus melakukan intervensi kebijakan agar para pemegang izin konsensi khususnya di kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) terus meningkatkan kewaspadaan melalui pemulihan ekosistem gambut yang rawan terbakar.
Menteri LHK: Alhamdulillah Fase Kritis I Karhutla Terlewati (30387)
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pewarta memotret api yang membakar semak belukar dan pepohonan ketika terjadi kebakaran lahan di Pekanbaru, Riau, Senin (18/3). Foto: ANTARA FOTO/Rony Muharrman
Salah satunya, telah dilakukan pembangunan infrastruktur 376 Titik Penataan-TMAT Manual, TMAT otomatis 106 unit, stasiun curah hujan 7 unit, dan 321 unit sekat kanal.
Hasilnya tidak terjadi Karhutla signifikan pada 2019 di areal gambut yang telah diintervensi pembasahan ataupun pada areal gambut yang dipulihkan.
Namun tantangan terbesar berada di areal masyarakat yang mengalami alih fungsi lahan dan tidak memiliki perangkat pengawasan yang kuat. Ini menjadi tantangan bagi semua pihak.
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona
ADVERTISEMENT
————-----------------------
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020