kumparan
18 April 2018 19:10

Mondok di Gontor Jadi Bekal Diplomat Jelaskan Islam ke Berbagai Negara

Menjadi diplomat membuat seseorang kerap kali dihadapkan dengan urusan negosiasi dengan masyarakat luar negeri. Mengusung perjuangan dan demi kemajuan bangsa, itulah tujuan seorang diplomat berada.
ADVERTISEMENT
Namun, bagaimana bila jadinya diplomat tersebut justru ditugaskan untuk mondok di salah satu pesantren terbesar di Indonesia? Mereka harus hidup layaknya seorang santri, mengaji, mengikuti kultum, dan saling tukar pikiran serta pengalaman.
Ya, itu bukan hal yang mustahil. Selama 12-16 April kemarin, 36 diplomat muda dari Kementerian Luar Negeri Indonesia mondok di Pondok Modern Gontor. Mereka datang dari berbagai macam latar belakang dan juga tugas diplomasi yang berbeda.
Di antara para diplomat yang mondok, beberapa di antara mereka adalah Nasrani. Sebagai contoh, Antie Kurniadi dan juga Yulius Mada Kaka.
Antie Kurniadi dan santri Gontor (Foto: Nesia Qurrota A'yuni/kumparan)
Selama mondok, Gontor nyatanya telah memberi kesan tersendiri bagi mereka. Antie, diplomat perempuan yang pernah ditempatkan di India ini mengaku begitu terkesan dengan kehidupan para santri Gontor.
ADVERTISEMENT
"Di sini, pertama kali bagi saya melihat kehidupan para santri dari mereka bangun tidur sampai mereka tidur lagi kembali jam 10 malam. Benar-benar kegiatan yang saya pikir hampir di seluruh kegiatan mereka itu terisi. Di sini kalau dilihat memang sangat keren. Mereka bisa survive selama satu hari penuh," cerita Antie kepada kumparan (kumparan.com), Minggu (15/4).
Sementara itu, bagi Yulius yang pernah ditempatkan di Madagaskar, mondok di Gontor adalah hal baru baginya.
"Dengan belajar di sini saya justru banyak belajar hal-hal yang belum saya paham mengenai dunia Islam," terang Yulius.
Terlepas dari itu, baik Antie dan Yulius mereka kini punya bekal untuk menjelaskan Islam di Indonesia ke telinga dunia. Memang, selama bertugas di luar negeri, kadang masyarakat di sana bertanya tentang Islam di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Kenapa? karena realitas Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar menjadi perhatian menarik masyarakat dunia.
"Kita sampaikan bahwa Islam di Indonesia adalah Islam yang bersahabat dan itu tercermin di Indonesia. Meski kita memiliki suku bangsa yang berbeda agama yang berbeda tidak pernah ada konflik yang begitu berarti," ungkap Antie.
Diplomat mengabdi di Gontor (Foto: Nesia Qurrota A'yuni/kumparan)
Di sisi lain, menurut Yulius, identitasnya sebagai seorang Kristen membuatnya menemukan tantangan ketika harus menjelaskan Islam di mata dunia, terutama di negara yang bukan mayoritas dihuni umat muslim, seperti halnya negara-negara di Amerika Utara.
"Tapi, kami sebagai diplomat ada pelatihan-pelatihan dan tuntutannya adalah general. Kami diharuskan memahami Indonesia secara utuh. Keberagaman adalah keniscayaan di Indonesia, itulah yang harus kita jelaskan ke masyarakat dunia," ujar Yulius.
ADVERTISEMENT
Setelah memiliki bekal yang cukup dengan mondok di Gontor, Antie dan Yulius kini bisa menjelaskan kepada masyarakat dunia tentang Islam berdasarkan pengalamannya langsung belajar di pesantren.
"Saya akan menceritakan pendidikan di Gontor itu salah satu pesantren terbesar di Indonesia itu anak-anaknya untuk dapat menumbuhkan rasa toleransi. Islam yang rahmatan lil alamin itu bisa saya menceritakan kondisi Gontor bagaimana sebenarnya kehidupan santri dan bagaimana mereka diajari," pungkas Antie.
Diplomat mengabdi di Gontor (Foto: Nesia Qurrota A'yuni/kumparan)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan