Pandu Riono: Terawan Boleh Cuci Otak Meski Dipecat, Kecuali Pemerintah Larang

4 April 2022 14:37
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Pandu Riono: Terawan Boleh Cuci Otak Meski Dipecat, Kecuali Pemerintah Larang (13784)
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto di Istana Merdeka, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
ADVERTISEMENT
Setelah diberhentikan dari keanggotaan IDI, masih ada kemungkinan Terawan untuk melakukan praktik. Namun tidak untuk melanjutkan praktik ‘Digital Subtraction Angiography (DSA) atau 'Cuci Otak’-nya. Melainkan sesuai dengan spesialisasinya yaitu Radiologi.
ADVERTISEMENT
Anggota IDI dan Epidemiologi UI, Pandu Riono, menyatakan bahwa Terawan masih memiliki izin praktik untuk 2 tahun ke depan, namun praktiknya dapat dihentikan apabila dilarang oleh pemerintah.
“Dia boleh praktik, masih berlaku sampai izin praktiknya yaitu 2 tahun lagi. Izin praktik yang mengeluarkan itu pemerintah. Setiap beberapa tahun harus diperpanjang, kecuali pemerintah menganggap bahwa Terawan ini dilarang praktik,” kata Pandu ketika dihubungi kumparan, Senin (4/4).
Meskipun demikian, pemerintah seharusnya segera menghentikan praktik ‘Cuci Otak’ Terawan. Sedangkan terkait dengan izin praktik Terawan, ini menjadi keputusan dari Menteri Kesehatan.
“Tapi yang penting, terapi DSA nya yang harus dihentikan oleh pemerintah. Kalau Terawan mau praktik itu tergantung pemerintah juga, tergantung Menkes,” jelas Pandu yang juga mantan pengurus PB IDI itu.
ADVERTISEMENT
Namun, Pandu menjelaskan bahwa untuk saat ini masih belum ada diskusi lebih lanjut terkait dengan izin praktik ‘Cuci Otak’.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
“Sekarang belum ada yang mendiskusikan apakah terapi DSA nya boleh dilanjutkan,” ujarnya.
Sebelumnya, pada tahun 2018 Nila Moeloek menjabat menjadi Menteri Kesehatan dan membentuk Satgas Kajian Ilmiah DSA. Kemudian Nila Moeloek mengizinkan terapi ‘Cuci Otak’ hanya untuk riset.
“Di dalam Satgas yang dibentuk oleh Menkes Nila Moeloek, dianjurkan dan direkomendasikan untuk dihentikan. Itu waktu zamannya menkes Nila Moeloek, tapi Nila Moeloek masih mengizinkan hanya untuk riset bukan untuk pelayanan,” ungkap Pandu.
Dari situ dapat dikeluarkanlah Laporan Satgas Kemenkes 2018 yang menyimpulkan bahwa belum ada bukti ilmiah terkait dengan keamanan dan manfaat dari terapi ‘Cuci Otak’ tersebut.
ADVERTISEMENT
Meskipun hanya diizinkan untuk riset, Terawan malah melanggar hal tersebut dan tetap melakukan praktik ‘Cuci Otak’ kepada pasiennya. Pandu berpendapat bahwa Kemenkes perlu mengevaluasi dan melanjutkan keputusan dari Menkes Nila Moeloek.
“Hal Itu dilanggar oleh Terawan. Kemenkes harus mengevaluasi dan menghentikannya, melanjutkan keputusan Menkes yang sebelumnya,” kata Pandu.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020