Parlemen Prancis Tunjuk Pemimpin Majelis Nasional Perempuan Pertama

29 Juni 2022 14:36
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Anggota parlemen Prancis, Yael Braun-Pivet (tengah). Foto: Christophe ARCHAMBAULT/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Anggota parlemen Prancis, Yael Braun-Pivet (tengah). Foto: Christophe ARCHAMBAULT/AFP
ADVERTISEMENT
Parlemen Prancis pertama kalinya memilih seorang politikus perempuan untuk menjabat sebagai Ketua Majelis Nasional pada Selasa (28/6).
ADVERTISEMENT
Ketua terpilih, Yael Braun-Pivet, membela hak untuk aborsi di hadapan Majelis Nasional dalam pidato inaugurasinya.
Menyinggung pencabutan hak aborsi di Amerika Serikat (AS), ia meminta majelis rendah parlemen untuk melindungi hak-hak terkait agar tidak menemui nasib serupa.
Mahkamah Agung AS menghapus perlindungan konstitusional perempuan untuk melakukan aborsi pekan lalu. Keputusan itu membuka jalan bagi negara bagian untuk membatasi atau melarang aborsi.
Anggota parlemen Prancis, Yael Braun-Pivet. Foto: Christophe ARCHAMBAULT/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Anggota parlemen Prancis, Yael Braun-Pivet. Foto: Christophe ARCHAMBAULT/AFP
"Keputusan brutal yang dijatuhkan Jumat lalu oleh Mahkamah Agung AS untuk membalikkan komitmennya sangat mengejutkan kami, ini adalah pengingat yang jelas untuk waspada," tegas Braun-Pivet, dikutip dari Associated Press, Rabu (29/6).
"Sejarah dibuat dengan kemajuan besar, tetapi selalu terancam diputarbalikkan," tambahnya.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Prancis mengesahkan hak aborsi pada 1975. Keputusan itu telah mendapat dukungan politik yang luas. Saat ini, Majelis Nasional juga sedang bersiap untuk membahas proposal terkait pengabadian hak aborsi itu dalam Konstitusi Prancis.
Anggota parlemen Prancis, Yael Braun-Pivet. Foto: Christophe ARCHAMBAULT/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Anggota parlemen Prancis, Yael Braun-Pivet. Foto: Christophe ARCHAMBAULT/AFP

Profil Yael Braun-Pivet

Braun-Pivet adalah mantan anggota Partai Sosialis yang bergabung dengan Partai Renaissance pada 2016. Salah satu pendatang baru dalam dunia politik Prancis itu kemudian terpilih sebagai anggota parlemen pada 2017.
ADVERTISEMENT

Sebelum terjun ke politik, Braun-Pivet membangun karier dalam bidang hukum di wilayah Paris.

Ia sempat berhenti di pertengahan usia 30-an untuk mengikuti suaminya, seorang eksekutif perusahaan kosmetik Prancis L'Oréal, ke Taiwan dan Jepang.
Perdana Menteri Prancis Elisabeth Borne memberikan pidato setelah hasil pertama pemilihan parlemen di Matignon di Paris pada Minggu (19/6/2022). Foto: Ludovic Marin/POOL / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Perdana Menteri Prancis Elisabeth Borne memberikan pidato setelah hasil pertama pemilihan parlemen di Matignon di Paris pada Minggu (19/6/2022). Foto: Ludovic Marin/POOL / AFP
Pada 2012, ia kembali ke Prancis bersama keluarganya setelah tujuh tahun tinggal di luar negeri. Braun-Pivet lalu beralih ke pekerjaan nirlaba. Dia membuka dapur umum Resto du Coeur dan memberikan bantuan hukum gratis untuk melawan pengucilan sosial di pinggiran kota Paris.
Terpilihnya Braun-Pivet sebagai ketua Majelis Nasional menyusul penunjukan Élisabeth Borne sebagai perdana menteri bulan lalu. Borne adalah wanita kedua yang memegang jabatan perdana menteri Prancis dan yang pertama dalam tiga dekade terakhir.
Perubahan ini mengundang tepuk tangan meriah untuk Prancis. Negara ini masih tertinggal dalam isu kesetaraan gender di bangku parlemen meskipun telah memiliki undang-undang yang dimaksudkan untuk memperbaiki kesenjangan ini.
ADVERTISEMENT
Penulis: Airin Sukono.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020