Paus Fransiskus Akan Kunjungi Kanada, Temui Penyintas Genosida Penduduk Asli

22 Juli 2022 15:48
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Paus Fransiskus melambai dari balkon yang menghadap ke Lapangan Santo Petrus setelah menyampaikan pesan "Urbi et Orbi" saat perayaan Paskah di Vatikan pada Minggu (17/4/2022).
 Foto: Yara Nardi/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Paus Fransiskus melambai dari balkon yang menghadap ke Lapangan Santo Petrus setelah menyampaikan pesan "Urbi et Orbi" saat perayaan Paskah di Vatikan pada Minggu (17/4/2022). Foto: Yara Nardi/REUTERS
ADVERTISEMENT
Paus Fransiskus akan berangkat untuk kunjungan enam hari ke Kanada pada Minggu (24/7/2022). Dia menggambarkan perjalanan itu sebagai ziarah penitensi atau pertobatan.
ADVERTISEMENT
Agenda tersebut bertujuan mengatasi skandal pelecehan seksual rohaniwan terhadap anak-anak. Kasus semacam itu telah ditutupi selama beberapa dekade.
Komunitas penduduk asli Kanada menantikan permintaan maaf pula. Paus Fransiskus tampaknya akan meminta pengampunan atas kasus pelecehan di sekolah asrama bagi masyarakat adat di Kanada. Gereja Katolik menjalankan sekolah-sekolah itu sejak 1800-an.
Paus Fransiskus akan memulai perjalanannya ke Maskwacis pada Senin (25/7/2022). Kota itu menaungi salah satu sekolah asrama terbesar di Kanada.
Dia akan berpidato di hadapan kerumunan sekitar 15.000 orang. Mantan murid dari sekolah-sekolah di seluruh negara itu akan turut menghadiri pidatonya.
Lokasi penemuan jasad 215 anak di sekolah pribumi kanada. Foto: Jennifer Gauthier/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Lokasi penemuan jasad 215 anak di sekolah pribumi kanada. Foto: Jennifer Gauthier/Reuters
Pada Selasa (26/7/2022), pemimpin 1,3 miliar umat Katolik itu akan merayakan Misa di Edmonton. Dia kemudian akan singgah di tempat ziarah tahunan utama di Kanada, Lac Sainte Anne.
ADVERTISEMENT
Paus Fransiskus lalu akan menemui Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, di Kota Quebec. Dia juga akan merayakan Misa di Basilika of Sainte-Anne-de-Beaupre. Basilika nasional itu menerima hingga lebih dari satu juta peziarah setiap tahunnya.
Paus Fransiskus lalu mengakhiri perjalanannya di Iqaluit pada Jumat (29/7/2022). Kota itu merupakan rumah bagi populasi Inuit terbesar di Kanada.
Paus Fransiskus akan menemui para mantan murid sekolah-sekolah tersebut di Iqaluit. Setelahnya, dia akan kembali ke Roma.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
PM Kanada Justin Trudeau. Foto: Dave Chan / AFP
zoom-in-whitePerbesar
PM Kanada Justin Trudeau. Foto: Dave Chan / AFP
Paus Fransiskus sebelumnya menyampaikan permintaan maaf kepada para delegasi Kanada. Mereka melawat ke Vatikan pada April. Paus Fransiskus mengharapkan, tindakannya dapat mendorong pemulihan.
Sebagian penduduk mengungkap antusiasme mereka atas kesediaan Paus Fransiskus. Namun, sebagian lainnya bertanya-tanya apabila pertemuannya dengan penyintas dapat menyembuhkan luka mereka.
ADVERTISEMENT
"Banyak orang akan kecewa dengan waktu yang diberikan kepada mereka karena ini menyangkut trauma bertahun-tahun," ujar Ketua Ermineskin Cree Nation, Randy Ermineskin. Dikutip dari AFP, Jumat (22/7/2022).
"Karena dia akan meminta maaf lalu dia pergi, dan Anda ditinggalkan untuk memikul tanggung jawabnya. Siapa yang akan mengurus orang-orang ini?" tanya dia.
Orang-orang mengunjungi halaman bekas Sekolah Perumahan India Kamloops, lokasi penemuan jasad 215 anak di sekolah pribumi kanada. Foto: Jennifer Gauthier/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Orang-orang mengunjungi halaman bekas Sekolah Perumahan India Kamloops, lokasi penemuan jasad 215 anak di sekolah pribumi kanada. Foto: Jennifer Gauthier/Reuters
Kanada mendapati lebih dari 1.300 kuburan tak bertanda di lokasi-lokasi bekas sekolah asrama sejak Mei 2021. Ratusan mayat anak-anak penduduk asli berada dalam kuburan massal tersebut.
Penemuan itu mengungkap kebijakan asimilasi paksa dan sejarah kolonial di negara tersebut. Tragedi itu turut menyoroti peran Gereja Katolik dalam genosida budaya di Kanada.
Sekitar 150.000 anak-anak First Nations, Metis dan Inuit terdaftar dalam 139 sekolah asrama sejak akhir 1800-an hingga 1990-an.
ADVERTISEMENT
Anak-anak itu menghabiskan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun terisolasi dari keluarga, bahasa, dan budaya mereka.
Sebagian besar dari mereka turut mengalami pelecehan fisik dan seksual oleh kepala sekolah dan guru. Ribuan korban diyakini tewas akibat penyakit, kekurangan gizi, atau penelantaran.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020