kumparan
30 Mei 2018 9:18 WIB

PBB Minta Rusia Bertanggung Jawab Atas Jatuhnya MH17

Malaysia Airlines MH17 Jatuh (Foto: AFP/ALEXANDER KHUDOTEPLY)
Rusia menolak seruan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk bertanggung jawab atas jatuhya Malaysia Airlines MH17. Dalam investigasinya PBB menyebut, burung besi itu jatuh akibat rudal milik tentara Rusia.
ADVERTISEMENT
Seruan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Belanda Stef Blok saat pertemuan Dewan Keamanan PBB di New York. Dia menyebut, bukti digunakannya rudal BUK buatan Rusia tak bisa terbantahkan lagi.
Menanggapi seruan tersebut Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia langsung membela diri. Menurutnya, permintaan agar Rusia bertanggung jawab adalah mengada-ada.
"Bahasa ultimatum adalah hal yang tak boleh dilakukan siapa pun saat berbicara dengan Rusia," sebut Nebenzia, Rabu (30/5).
"Kami tidak akan menerima kesimpulan yang tak berdasar dari (Tim Invesitagasi MH17 yang dipimpin Belanda) JIT," sambung dia.
Pembelaan Nebenzia ditanggapi dengan keras oleh Blok. Argumen Rusia dianggapnya bukan merupakan hal baru dan tetap mendesak Rusia bekerja sama dengan negaranya dan Australia untuk mengidentifikasi penyebab kejadian.
ADVERTISEMENT
MH17 terbang dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur pada 9 September 2014. Pesawat itu jatuh karena hantaman rudal di wilayah Ukraina yang tengah dikuasai pemberontak Rusia.
Saat itu, MH17 membawa 298 penumpang. Keseluruhan penumpang pesawat tersebut kehilangan nyawanya.
Pesawat Malaysia Airlines MH17 yang jatuh. (Foto: REUTERS/Michael Kooren)
Atas temuan terbaru serta desakan dari Belanda, Dubes AS untuk PBB Nikki Haley meminta Rusia mematuhi seruan untuk bertanggung jawab.
"Meski ada penolakan, tak diragukan lagi Rusia yang telah menggerakkan konflik di Ukraina," papar Haley.
Pernyataan Belanda dan AS diamini Menlu Ukraina Pavlo Klimkin. Penolakan Rusia dianggapnya sebagai tindakan yang sudah bisa diperkirakan. Namun, tanggung jawab Rusia atas jatuhnya MH17 tak bisa terelakan.
"Tak ada keraguan, jatuhnya MH17 akibat tindakan terorisme. Ukraina akan memberikan dokumen ke Pengadilan Internasional bulan depan yang menunjukkan Rusia melanggar perjanjian anti-terorisme," pungkas Klimkin.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan