kumparan
16 Mei 2019 17:42

Pekan Depan, RI Pimpin Dua Pertemuan DK PBB

Dewan Keamanan PBB
Dewan Keamanan PBB Foto: Reuters/Adrees Latif
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi akan memimpin dua konferensi yang akan dihelat di Dewan Keamanan PBB. Pada Mei 2019, RI adalah Presiden DK PBB.
ADVERTISEMENT
Dua pertemuan yang akan dipimpin Retno adalah open debate dengan tema perlindungan warga sipil dalam konflik bersenjata dan briefing pertemuan membahas situasi perdamaian Timur Tengah.
Ketua Satuan Tugas Dewan Keamanan PBB Heri Prabowo mengatakan, dua pertemuan itu akan dilaksanakan pada 23 Mei mendatang. Pertemuan pertama yang akan dipimpin Indonesia adalah debat terbuka.
"Salah satu pertimbangan utama (mengangkat tema konflik bersenjata) adalah bertepatan dengan 20 tahun disahkan resolusi perlindungan sipil dalam konflik bersenjata di PBB dan anniversary 70 tahun Jenewa mengenai hak humaniter," sebut Heri dalam pers Kemlu, Kamis (16/5).
Heri menegaskan, debat terbuka yang dipimpin Indonesia nantinya akan sangat istimewa dan berbeda dengan pertemuan lainnya. Sebab, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memastikan diri untuk hadir.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Najwa Shihab, Pemimpin Redaksi kumparan Arifin Asyhdad,  Chief Storyteller kumparan Yusuf Arifin di XI Plaza Indonesia, Inspiring Discussion, Long Shot, Plaza Indonesia XXI, Movie Screening
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Sementara, acara kedua yang dipimpin Indonesia adalah briefing isu perdamaian Timur Tengah terutama di Palestina, Yaman, dan Suriah.
ADVERTISEMENT
"Yang akan dibahas adalah laporan special envoy Sekjen PBB mengenai middle east peace process dan laporan UNRWA," kata Heri. UNRWA merupakan United Nations Relief and Works Agency/UNWRA (Badan Pemulihan dan Pekerjaan PBB) yang dibentuk untuk membantu para pengungsi Palestina bidang pangan, pendidikan, dan kesehatan.
"Yang mau dituju dalam pembahasan mengenai kondisi humaniter di wilayah kependudukan Palestina dan wilayah konflik lainnya seperti Yaman yang semakin buruk," papar dia.
Indonesia berharap briefing ini menghasilkan aksi nyata yang bisa menyelesaikan dan mencegah konflik di terjadi Timur Tengah.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan