News
·
4 Oktober 2019 9:22

Pelaku Penikaman di Kantor Polisi Paris Tuli dan Pendiam

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Pelaku Penikaman di Kantor Polisi Paris Tuli dan Pendiam (91436)
Polisi Prancis mengamankan area di depan markas besar Kepolisian Paris di Paris, Prancis, Kamis (3/10/2019). Foto: REUTERS/Philippe Wojazer
Pelaku penikaman di kantor polisi Paris, Prancis, telah bekerja lama sebagai staf IT di tempat tersebut. Pada Kamis (3/10), dia tiba-tiba menikam empat orang hingga tewas sebelum akhirnya ditembak mati.
ADVERTISEMENT
Peristiwa ini memicu kepanikan baru di Paris yang masih terguncang dengan kasus terorisme beberapa tahun terakhir. Perdana Menteri Prancis Emmanuel Macron dan Menteri Dalam Negeri Christophe Castaner sampai datang ke lokasi untuk memantau situasi.
Tidak disebutkan nama pelaku, namun menurut sumber AFP dia berusia 45 tahun dan bekerja sebagai staf IT di departemen intelijen. Pelaku baru masuk Islam 18 bulan yang lalu, kata sumber.
Pelaku Penikaman di Kantor Polisi Paris Tuli dan Pendiam (91437)
Polisi Prancis mengamankan area di depan markas besar Kepolisian Paris di Paris, Prancis, Kamis (3/10/2019). Foto: REUTERS/Philippe Wojazer
Dia membunuh tiga polisi pria dan seorang polisi wanita dengan pisau dapur sebelum ditembak kepalanya oleh aparat. Satu korban lainnya saat ini dalam kondisi kritis. Peristiwa ini memicu kepanikan di kantor polisi dan lingkungan sekitarnya. Stasiun kereta bawah tanah dan katedral Notre Dame terpaksa ditutup demi keamanan.
ADVERTISEMENT
Menurut sumber, pelaku lahir di Martinique, wilayah Prancis di Karibia. Dia telah bekerja di kantor polisi sejak 2003. Pelaku diketahui menderita penyakit tuli.
Polisi telah memeriksa kediamannya di Gonesse, utara Paris, dan membawa istri pelaku untuk diinterogasi. Pelaku memiliki dua anak berusia 9 dan 3 tahun.
Pelaku Penikaman di Kantor Polisi Paris Tuli dan Pendiam (91438)
Polisi Prancis mengamankan area di depan markas besar Kepolisian Paris di Paris, Prancis, Kamis (3/10/2019). Foto: REUTERS/Philippe Wojazer
Berdasarkan penyelidikan, Castaner mengatakan pelaku tidak menunjukkan perilaku yang aneh selama bekerja. Tetangga pelaku juga mengatakan demikian. Menurut mereka, tidak ada kecenderungan radikalisme dari pelaku setelah masuk Islam.
"Dia orang yang pendiam. Saya sering melihat dia ke masjid, tapi dia mempraktikkan (agamanya) dengan normal," kata seorang tetangga yang menolak disebut namanya kepada AFP.
Hingga saat ini motif tindakan pelaku masih ditelusuri oleh aparat.