kumparan
6 Jun 2018 16:18 WIB

Pembangun Sahur di Yerusalem Ditangkap Polisi Israel

Musaharati Palestina (Foto: AP Photo/Mahmoud Illean)
Polisi Israel di Kota Tua Yerusalem menangkap sejumlah pria Palestina yang bertugas membangunkan sahur selama Ramadhan. Penangkapan ini dilakukan setelah warga sekitar mengeluhkan suara mereka mengganggu di malam hari.
ADVERTISEMENT
Diberitakan Associated Press, Rabu (6/6), para pria yang disebut Musaharati itu tak terima dengan perlakuan tidak adil dari polisi Israel. Menurut mereka, apa yang dilakukan hanyalah bagian dari budaya Palestina.
"Mereka tuduh kami mengganggu, tapi itu tidak benar. Mereka ingin menghapus warisan yang ada di Yerusalem, Palestina," kata Mohamed Hagej.
Ini merupakan kejadian pertama yang pernah menimpa Hagej selama tiga tahun menjadi Musaharati. Sebelumnya, ia mengaku tak pernah ada masalah dengan polisi.
Sedangkan tahun ini Hagej mengatakan telah empat kali ditangkap, sampai diserang dengan gas air mata oleh paramiliter Israel. Tak hanya itu, pria 26 tahun itu juga harus membayar denda senilai Rp 1,7 juta pada penangkapannya yang pertama.
ADVERTISEMENT
Hagej menyebut, jumlah denda meningkat tiap kali ia ditangkap. Ia juga menduga bahwa keluhan itu datang dari warga Yahudi.
Walau begitu, Hagej dan Musaharati lainnya mengaku tak jera meski ditangkap oleh polisi Israel.
"Apa yang kami lakukan ini menorehkan senyum di wajah anak-anak, perempuan, orang tua, dan semua orang di Yerusalem," tutur Hagej.
"Bila tidak ada Musaharati, maka tidak ada Ramadhan," ucapnya.
Sementara menurut keterangan dari juru bicara polisi Israel, Micky Rosenfeld, pihaknya hanya menanggapi keluhan warga yang merasa terganggu.
"Setelah adanya keluhan-keluhan oleh warga yang merasa suara itu terlalu berisik, kami bertindak sesuai dengan laporan," terang Rosenfeld.
Ia pun menyangkal adanya penyerangan dengan gas air mata, dan memilih bungkam apakah pelapornya penduduk Yahudi atau Palestina.
ADVERTISEMENT
Di Kota Tua Yerusalem yang dihuni oleh Muslim, Yahudi, Kristen, dan Armenia, wilayah penduduknya dibagi berdasarkan keyakinan. Namun belakangan ini jumlah penduduk Yahudi di wilayah Muslim tercatat terus meningkat. Hal ini menyulut emosi penduduk Palestina yang tak terima dengan keberadaan mereka.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan