Pemda DIY soal Klaster Hajatan dan Takziah di Gunungkidul: Perlu Batasi Tamu

20 April 2021 17:40
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Pemda DIY soal Klaster Hajatan dan Takziah di Gunungkidul: Perlu Batasi Tamu (73467)
zoom-in-whitePerbesar
Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
ADVERTISEMENT
Klaster takziah dan hajatan ditemukan di Kabupaten Gunungkidul beberapa waktu ini. Tercatat puluhan kasus positif terjadi di dua klaster tersebut. Terkait hal ini, Pemda DIY meminta ada pembatasan tamu terutama di hajatan.
ADVERTISEMENT
"Saya kira akan kita pertimbangkan itu ya. Hajatan itu tidak kita larang. Tetapi pembatasan jumlah tamu dan model penyelenggaraannya yang harus kita atur," ujar Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji di Kepatihan Pemda DIY, Selasa (20/4).
Dia mencontohkan misalnya dalam hajatan apa pun makanan bisa menggunakan model take away.
"Lalu yang diundang tidak banyak. Kalau yang diundang agak banyak ya dalam waktu panjang. Ini nanti akan kita rumuskan lebih detail lagi," ujarnya.
Untuk takziah, Aji menyadari bahwa itu sudah menjadi budaya. Untuk itu yang bisa dilakukan adalah dengan terus melakukan sosialiasi soal protokol kesehatan.
"Namanya orang meninggal apalagi orang tetangga. Itu orang ya pada takziah. Tetapi, pada saat takziah, itu yang kita sosialisasikan," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Kasus corona belakangan ini juga terjadi di dua ponpes di Kabupaten Kulon Progo. Terkait hal ini Aji mengaku memang sulit mengatur kerumunan di ponpes.
"Karena, dari satu tempat yang sangat terbatas luasnya, penghuninya banyak, dan interaksinya sangat ketat. Karena, ada makan bareng, salat bareng, main bareng, sekolah bareng," ujarnya.
Aji pun meminta kepada seluruh masyarakat untuk terus sadar bahwa penggunaan masker, cuci tangan, dan jaga jarak sangat penting.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, Dewi Irawaty menjelaskan klaster takziah terjadi di Girisuko, Kecamatan Panggang. Dia tidak merinci bagaimana penularan itu terjadi tetapi didapati 34 orang positif corona.
"Klaster layatan (takziah) di Panggang kasus di-tracing yang positif COVID-19 ada 34 orang," ujar Dewi dalam pesan tertulisnya, Senin (19/4).
ADVERTISEMENT
Dewi menyebut dari jumlah tersebut, 2 orang di antaranya bahkan meninggal dunia.
"Di antaranya (jumlah tersebut) ada 2 orang yang meninggal," ujarnya.
Sementara klaster hajatan terjadi di Getas, Kecamatan Playen. Di situ didapati 32 orang positif corona
"Sudah diswab 44, hasil 32 positif," ucapnya.
Kemudian, sebanyak 44 kasus corona ditemukan di dua pondok pesantren di Kulon Progo. Masing-masing di Darul Karim di Bumirejo, Kecamatan Lendah dan Nurul Quran di Hargorejo, Kecamatan Kokap.
Juru Bicara Penanganan COVID-19 Kabupaten Kulonprogo, Baning Rahayujati menjelaskan di Darul Qarim tercatat ada 33 kasus positif.
"Dari kelompok Darul Qarim, Bumirejo, Lendah. Dari 48 anggota dari Darul Karim ini, 33 dinyatakan terkonfirmasi COVID-19. 16 adalah dengan test PCR dan 17 lainnya melalui test antigen," ujar Baning dalam keterangannya, Senin (19/4).
ADVERTISEMENT
Dia menjelaskan 33 kasus ini terdiri dari santri maupun pengasuh ponpes. Kasus berawal dari salah satu anak yang mengalami sakit dan gejala anosmia. Setelah dites antigen ternyata positif.
Di Nurul Quran, dilaporkan beberapa santri sakit. Beberapa bahkan mengalami anosmia. Petugas Puskesmas Kokap I pada 15 April 2021 lantas melakukan PCR dan rapid tes antigen. Di sana diketahui 11 orang positif.
"5 orang dilakukan tes PCR, hasilnya 3 di antaranya positif. Lalu 13 lainnya dilakukan rapid tes antigen, hasilnya 8 di antaranya positif antigen," ujarnya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020