Pendeta Gilbert Lumoindong Datangi MUI Minta Maaf ke Umat Islam soal Khotbah

16 April 2024 17:35 WIB
·
waktu baca 2 menit
Pendeta Gilbert menemui MUI dan meminta maaf. Foto: Dok. MUI
zoom-in-whitePerbesar
Pendeta Gilbert menemui MUI dan meminta maaf. Foto: Dok. MUI
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Pendeta Gilbert Lumoindong mendatangi MUI dan memberi klarifikasinya soal khotbahnya mengenai zakat 2,5 persen umat Islam.
ADVERTISEMENT
Khotbah Pendeta Gilbert yang viral di media sosial menyebut, umat Islam berzakat 2,5 persen dan dikenakan kewajiban salat. Di khotbah itu dia juga menirukan adegan salat.
Khawatir menjadi gaduh karena khotbahnya, Pendeta Gilbert memberikan klarifikasi karena khotbahnya yang beredar luas telah dipenggal-penggal.
"Ia menyatakan tak ada niatan untuk menghina ajaran Islam apalagi untuk menciptakan perpecahan. Pendeta Gilbert datang ke MUI untuk meminta maaf kepada umat Islam dan umat beragama atas tindakannya yang kurang berkenan," kata Ketua Komisi Dakwah MUI KH Cholil Nafis dalam keterangannya, Selasa (16/4).
Pendeta Gilbert menemui MUI dan meminta maaf. Foto: Dok. MUI
Berikut pernyataan lengkap MUI:
Siang hari ini, 16 April 2024 kami pimpinan Majelis Ulama Indonesia menerima kehadiran Pendeta Gilbert Lumoindong dalam rangka klarifikasi atas kegaduhan dari isi khotbahnya yang viral.
ADVERTISEMENT
Pendeta Gilbert, yang hadir atas inisiatifnya sendiri, karena menyadari MUI adalah rumah besar umat Islam, bercerita soal kronologi dan isi lengkap khotbahnya.
Ia menyatakan tak ada niatan untuk menghina ajaran Islam apa lagi untuk menciptakan perpecahan. Pendeta Gilbert datang ke MUI untuk meminta maaf kepada umat Islam dan umat beragama atas tindakannya yang kurang berkenan dan menyinggung perasaan umat Islam dan umat beragama.
Setelah mendengar penjelasan kami, pengurus MUI mengambil kesimpulan bahwa kegaduhan juga semakin meruncing akibat adanya khotbah yang dipenggal-penggal dalam edit-edit, sehingga makna penyampaian, dapat berpotensi terjadinya kesalahpahaman di masyarakat.
Kami sebagai umat beragama tentu menerima permohonan maafnya. Kami semua memaafkan seraya kami meminta agar kejadian ini menjadi pelajaran baginya dan bagi kita semua.
ADVERTISEMENT
Bahwa saat khotbah atau ceramah tak perlu membandingkan keyakinan dan ritual agama lain apalagi merendahkan demi menjaga terjadinya kesalahpahaman.
Ke depan mari kita rajut keutuhan, persaudaraan dan persatuan antar umat beragama serta saling menghormati keyakinan masing-masing kita demi menjaga kerukunan
Ttd
KH Cholil Nafis, Ph D
Ketua MUI