News
·
19 September 2020 14:55

Pengelola Bandara Soetta Investigasi Kasus Rapid Test dan Pelecehan Seksual

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Pengelola Bandara Soetta Investigasi Kasus Rapid Test dan Pelecehan Seksual (17983)
Petugas kesehatan mengambil sampel darah seorang anggota TNI untuk test virus corona, di Bogor, Selasa (7/4). Foto: REUTERS/Willy Kurniawan
PT Angkasa Pura II (AP II) selaku pengelola bandara dan PT Kimia Farma Diagnostika sebagai penyedia layanan rapid test di Terminal 3 bandara Soekarno Hatta memberikan perhatian serius terhadap aduan soal rapid test palsu dan pelecehan seksual.
ADVERTISEMENT
Dalam press release yang diterima kumparan, kedua pihak telah melakukan investigasi internal. Korban yang membagikan ceritanya melalui twitter juga telah dihubungi guna penyelidikan.
"PT Kimia Farma Diagnostika telah menghubungi korban atas kejadian yang dilakukan oleh oknum tersebut," kata Direktur Utama PT Kimia Farma Diagnostika Adil Fadilah Bulqini dalam keterangan tersebut, Sabtu (19/9).
Perusahaannya tidak tinggal diam dengan perbuatan tercela itu. Ia memastikan akan membawa kasus pelecehan tersebut ke jalur hukum.
"PT Kimia Farma Diagnostika akan membawa peristiwa ini ke ranah hukum atas tindakan oknum tersebut yang diduga melakukan pemalsuan dokumen hasil uji rapid test, pemerasan, tindakan asusila dan intimidasi,” kata Adil Fadilah Bulqini.
Sementara itu, Executive General Manager Bandara Soekarno-Hatta Agus Haryadi menyesali adanya perbuatan tersebut.
ADVERTISEMENT
Ia memastikan akan mendukung semua kebutuhan penyelidikan seperti rekaman CCTV dan lain sebagainya untuk mengungkap kasus tersebut.
Pengelola Bandara Soetta Investigasi Kasus Rapid Test dan Pelecehan Seksual (17984)
Petugas berpakaian lengkap dengan APD melakukan desinfeksi di Bandara Soekarno-Hatta Foto: Dok. Angkasa Pura II
"Kami sangat memberikan perhatian penuh terhadap adanya informasi ini. Kami siap bekerja sama dengan seluruh pihak termasuk sudah berkoordinasi dengan Polres Bandara Soekarno-Hatta yang saat ini tengah melakukan penyelidikan mengenai hal ini," kata Agus.
"PT Angkasa Pura II sangat berharap hal ini tidak berulang kembali. Angkasa Pura II dan stakeholder harus menjaga reputasi Bandara Soekarno-Hatta," tambahnya.
Kasus ini bermula dari cerita seorang perempuan di akun Twitter @listongs. Ia mengatakan mendapat tawaran dari seseorang petugas rapid test di Bandara Soekarno Hatta untuk dapat mengakali hasil rapid tes diakali agar negatif.
Hasil tesnya diakali agar bisa terbang, dan dimintai uang jutaan rupiah. Korban sendiri mengaku sebelumnya dia pernah swab test dan hasilnya negatif.
ADVERTISEMENT
Tapi ketika hendak pergi ke Nias, dia mencoba rapid test di Bandara Soekarno-Hatta. Tapi entah kenapa hasilnya reaktif, lalu muncul tawaran mengakali rapid test dengan biaya jutaan rupiah.
Tak hanya itu saja, oknum petugas medis yang melakukan rapid test itu bahkan mencium dan memegang tubuh korban.
Saat ini Polres Bandara Soekarno Hatta tengah melakukan penyelidikan kasus tersebut.