News
·
12 Mei 2018 14:59

Polisi Harus Bisa Pilih Napi Teroris yang Bisa Diajak 'Kerjasama'

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Polisi Harus Bisa Pilih Napi Teroris yang Bisa Diajak 'Kerjasama' (163191)
Penggeledahan napi teroris di Mako Brimob. (Foto: Dok. Istimewa)
Densus 88 disebut sebagai satuan polisi terbaik di dunia dalam menangani terorisme, bahkan lebih baik dibanding FBI dan CIA. Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Setyo Wasisto, menyebut soft approach adalah kunci keberhasilan Densus 88 menaklukan teroris.
ADVERTISEMENT
Setyo menjelaskan, Polri memilih langkah soft approach misalnya dengan membuat kesepakatan, sebab para teroris meyakini melanggar janji tak dibenarkan dalam agama. Sehingga polisi yakin, mereka tak akan ingkar terhadap janji yang telah disepakati.
"Kuncinya adalah soft approach kepada sejumlah napiter. Memilah dan kemudian mengidentifikasi siapa saja yang masih bisa dijangkau dan kooperatif," ujar Setyo, Sabtu (12/5).
"Aparat menaruh kepercayaan tinggi sebab mereka rata-rata adalah orang yang memegang nilai agama dengan sangat tinggi. Artinya, mereka itu satu kata dan perbuatan, Sehingga begitu perjanjian disepakati, mereka tak akan khianat," imbuh dia.
Selain beragam upaya soft approach oleh polisi, faktor lain yang berperan penting dalam keberhasilan Densus 88 menaklukan teroris adalah inisisasi para kombatan (petempur). Dalam hal ini, adalah orang-orang yang pernah terlibat praktik terorisme (ikhwan jihadi).
ADVERTISEMENT
"Faktor utama berhasilnya deradikalisasi adalah dari inisiasi ikhwan jihadi itu sendiri. Sebut saja Ali Fauzi (eks teroris), dia berhasil merangkul banyak napiter dan menjadi pendiri Yayasan Lingkar Perdamaian," papar Setyo.
Polisi Harus Bisa Pilih Napi Teroris yang Bisa Diajak 'Kerjasama' (163192)
Irjen Pol Setyo Wasisto (Foto: Rizal/kumparan)
Yayasan Lingkar Perdamaian didirikan Ali bersama mantan teroris lainnya, sebagai satu-satunya yayasan yang bergerak di bidang Control Flow Integrity (CFI), untuk menjauhkan sifat-sifat destruktif termasuk pengeboman. Yayasan ini mendidik anak-anak, janda, serta para istri yang suaminya masih dipenjara karena kasus terorisme.
"Siapa lagi yang bisa efektif untuk menyosialisasikan deradikalisasi selain ikhwan jihadi itu sendiri? Analoginya, sosialisasi ke pecandu narkoba lebih efektif jika dilakukan oleh bekas pecandu itu sendiri," papar Setyo.
"Jadi, sebaiknya tak perlu buru-buru minta semua napiter dihukum mati atau minta negara mengambil tindakan lebih keras lagi. Sebab, jika salah dosis dan salah tempat, maka jangka panjangnya malah merugikan. Terorisme akan selalu ada. Pertarungan ideologi akan selalu ada," pungkasnya.
ADVERTISEMENT