News
·
31 Maret 2021 14:45

Polisi New York Tangkap Pelaku Penganiayaan Perempuan Filipina di Manhattan

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Polisi New York Tangkap Pelaku Penganiayaan Perempuan Filipina di Manhattan (17126)
Poster buronan Departemen Kepolisian Kota New York dari pelaku dalam serangan penyerangan terhadap seorang wanita Asia pada 29 Maret 2021. Foto: Mike Segar/REUTERS
Pria pelaku penganiayaan perempuan Filipina berusia 65 tahun ditangkap oleh Kepolisian New York (NYPD) pada Selasa (30/3) waktu setempat.
ADVERTISEMENT
Penangkapan tersebut diumumkan oleh akun Twitter resmi NYPD. Dalam cuitan tersebut, pelaku akan dituntut dengan pasal Kejahatan Kebencian.
"Berkat bantuan dari publik dan investigasi yang sangat baik oleh detektif @NYPDHateCrimes, pelaku kekerasan terhadap perempuan Asia berusia 65 tahun pada hari Senin, di 360 West 43rd St, ditangkap dan dituntut dengan pasal Kejahatan Kekerasan Besar sebagai Kejahatan Kebencian," tulis NYPD Hate Crimes.
Perempuan Filipina itu berusia 65 tahun dianiaya oleh seorang pria di Midtown Manhattan, Senin (29/3) waktu setempat. Dilansir New York Times, korban bernama Vilma Kari.
Video penganiayaan keji tersebut diunggah dalam akun Twitter resmi NYPD. Mereka turut meminta bantuan untuk mencari si pelaku dan melaporkannya ke nomor hotline yang tercantum.
ADVERTISEMENT
Dalam keterangan NYPD, di siang hari korban tiba-tiba dihampiri oleh pria tersebut, kemudian dipukuli dan ditendang di bagian perut. Selain itu, pelaku juga meneriakkan ujaran kebencian anti-Asia kepada korban.
Dari laporan Reuters, ketika korban dianiaya, orang-orang di sekitarnya tidak tergerak untuk membantu ataupun melindunginya.
Korban ditendang dan diinjak sebanyak tiga kali, namun salah satu pria di sekitar lokasi kejadian hanya menutup pintu tanpa menghampiri korban.
Dilansir New York Times, pelaku meneriakkan hinaan kepada lansia tersebut dan mengatakan, "Tempatmu bukan di sini."
Dibandingkan dengan 2019, kejahatan bermotif kebencian terhadap warga Asia Amerika meningkat tajam sebesar 149 persen di tahun 2020 di 16 kota besar, menurut Pusat Studi Kebencian dan Ekstremisme.
ADVERTISEMENT
Melonjaknya kekerasan berdasarkan kebencian dan xenophobia terhadap warga Asia di Amerika diduga diawali dengan ujaran Donald Trump pada tahun 2020 yang menyebut virus corona sebagai "virus China".
Sebagai reaksi dari banyaknya tindakan kekerasan terhadap warga minoritas Asia di Amerika, gerakan #StopAsianHate digalakkan demi mengentas diskriminasi bermotif rasialisme.