News
·
1 Mei 2018 17:29

Pria yang Bakar Kitab Suci di Sleman Pernah Bicara dengan Tembok

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Pria yang Bakar Kitab Suci di Sleman Pernah Bicara dengan Tembok (498470)
searchPerbesar
Ilustrasi orang depresi. (Foto: Thinkstock)
Bonaji (46), pria yang mengamuk di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, diduga mengalami gangguan jiwa. Pada saat mengamuk itu, Bonaji sempat membakar sejumlah barang, termasuk kitab suci Al-Quran.
ADVERTISEMENT
Salah seorang pengajar TPA di ponpes tersebut, Wiwin Winarti, membenarkan mengenai peristiwa itu. Ia menyebut bahwa hal itu terjadi pada sekitar pukul 23.00 WIB, Senin (30/4).
Bonaji disebut merupakan tukang bangunan yang juga terkadang bekerja di sawah dan mencari makan kambing. Diakui Wiwin, Bonaji pernah menjadi santri di ponpes tersebut. Namun ia kemudian pergi dan baru tiga bulan belakangan kembali ke ponpes tersebut.
Wiwin mengaku bahwa sebelumnya ia sempat mendapat laporan dari beberapa santri mengenai Bonaji, Menurut dia, beberapa santri sempat memergoki Bonaji sedang berbicara dengan tembok.
"Anak-anak (santri) kemarin sempat mengintip dari jendela bilang Kang Aji edan gitu karena tembok diajak ngobrol," kata Wiwin, Selasa (1/5).
Saat ini, Bonaji sudah diamankan dan sedang menjalani pemeriksaan oleh polisi. Kapolsek Cangkringan AKP Sutarman menyebut pihaknya belum bisa memberikan banyak keterangan atas peristiwa tersebut.
ADVERTISEMENT
Ia hanya membenarkan bahwa petugas menemukan barang-barang klenik dari Bonaji. "Kasus ditangani Polres Sleman. Tapi kami temukan benda seperti jimat dan akik dari pelaku," ujar dia.
Sementara Kasat Reskrim Polres Sleman, AKP Anggaito Hadi Prabowo, menambahkan, kejadian tersebut berawal ketika warga mendengar letupan di lokasi kejadian. Saat mencari tahu soal letupan itu, warga kemudian menemukan Bonaji membakar kertas dan kasur di belakang ponpes.
"Setelah ada yang mengingatkan itu, disuruh pergi malah bakar bambu, kasur dan ada kitab suci," ujar Anggaito.
Polisi saat ini tengah mendalami motif pelaku. Meski begitu, saat dimintai keterangan pelaku justru tidak konsisten menjawab. Keterangan yang pelaku berikan pun berubah-ubah. Sementara untuk mengetahui kondisi kejiwaan pelaku, polisi terus melakukan pemeriksaan.
ADVERTISEMENT
"Kayaknya gara-gara ditegur atau apa (penyebab pelaku marah). Tapi selama pemeriksaan keterangannya berubah-ubah. Kami masih pemeriksaan kesehatan cek urine dan darah. Kronologi saja dia enggak bisa menceritakan," bebernya.