Prof Habibie, Gempa di Selat Sunda, dan Komputer Kecil

Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie biasa disapa punya banyak kenangan di mata setiap warga Indonesia. Tak terkecuali bagi peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Hery Harjono.
Di mata Hery, BJ Habibie seorang yang banyak memberikan sumbangsih bagi ilmu pengetahuan di Indonesia. Selama melakukan penelitian di bidang geoteknologi, bantuan Habibie begitu terasa.
"Saya tentu bukan siapa-siapa. Profesor (Prof) Habibie tak mengenal saya. Tetapi saya tak pernah melupakan beliau. Tahun 1984 saat saya mulai riset di Selat Sunda dana riset untuk memonitor gempa di sekitar selat dengan 10 portable seismograph dengan beberapa teknisi LIPI selama 4 bulan perlu dana besar," kata Hery mengawali ceritanya kepada kumparan, Kamis (12/9).
Hery menjelaskan, dana dari LIPI tak cukup ketika itu. Riset ini merupakan bagian kerjasama Indonesia -Prancis dalam Oceanology.
"Untuk mencari dana tambahan itu Pak Habibie menyempatkan membuat surat. Masya Allah sempat-sempatnya dengan urusan remeh temeh itu. Kopi surat itu masih saya simpan (mudah-mudahan tidak ketelisut). Betapa beliau begitu peduli dengan kesulitan kami," jelas Hery.
Karena surat dari Habibie itu, penelitian bersama Prancis mengenai gempa di Selat Sunda bisa dilakukan. Penelitian ini membuka informasi terkait sesar dan potensi gempa di Selat Sunda.
Hery kembali melanjutkan ceritanya, dia pertama kali bertemu Habibie pada 1985 di atas Kapal Riset (R/V) Prancis Jean Charcot yang saat itu adalah salah satu kapal riset tercanggih di dunia.
"Selepas berlayar di Selat Sunda dan Lautan Hindia R/V Charcot berlabuh di Tanjung Priok untuk menurunkan para peneliti. Pada kesempatan itu Prof Habibie dan Prof Zen (orang dekat Habibie di BPPT) naik ke R/V J. Charcot. Saya bertemu beliau di anjungan dan ditanya tentang kapal tersebut," jelas Hery.
Hery menjelaskan, karena peran Habibie juga, Indonesia kemudian mulai merencanakan untuk memiliki kapal riset sebanyak 12 kapal. Enam akan dikelola BPPT dan sisanya di LIPI.
Di penghujung tahun 1989, lanjut Hery, 4 kapal riset yang dipesan dari Prancis mulai berdatangan. Kapal itu diberi nama Baruna Jaya atau lebih dikenal dengan sebutan BJ I, BJ II, BJ III, dan BJ IV.
"Khusus untuk geologi dan geofisika adalah BJ III di mana saya sempat menjadi Co-Chief Scientists bersama Dr Michel Diament dari IPG Paris. Pelayaran dengan nama Ekspedisi Mentawai ini menemukan Sesar Mentawai yang sejajar dengan Sesar Sumatra," tegas dia.
Di samping itu, tambah Hery, LIPI mendapat dua kapal riset. BJ VII buatan PT PAL dan BJ VIII buatan Norwegia.
"Pada era Prof Habibie-lah Indonesia sebagai negeri bahari mempunyai kapal riset modern. Tentu di sana juga ada Prof Zen," terang dia.
Pertemuan Hery dengan Habibie untuk kedua kalinya terjadi di Paris sekitar tahun 1987. Saat Habibie dan rombongan melakukan kunjungan. Saat itu kerja sama Indonesia-Prancis dalam teknologi kelautan sangat erat. Banyak doktor baru dihasilkan selama kerjasama itu.
"Prof Zen ikut dalam delegasi itu. Bersama Prof Bagyo (UGM) saya berkunjung ke hotel untuk bertemu Prof Zen. Di sana kami dikenalkan kepada Prof Habibie. Beliau saat itu bersama stafnya sedang menimang-nimang seperti "komputer kecil" mirip laptop sekarang. Dan tampak beliau sangat antusias. Mata beliau selalu berbinar jika bicara tentang teknologi," beber Hery.
"Hanya sedikit saya mengenal beliau dan pasti tak sebanding dengan yang lain. Tapi bagaimanapun disertasi saya, juga teman-teman yang lain seperti Prof Subagyo Pramumijoyo, Dr Darharta Dahrin, Dr MT Zen Jr, Dr Badrul dan lain-lain tak lepas dari rintisan beliau dan Prof. Zen dalam pengembangan Teknologi Kelautan di Indonesia," ungkap dia.
Hery menilai, betapa banyak sumbangsih Prof Habibie bagi Indonesia dan bahkan bagi dunia.
"Semoga itu semua menjadi saksi di Yaumil Akhir kelak akan peran kekhalifahan Pak Habibie di muka bumi ini. Pak Habibie, boleh jadi Bapak lupa, tapi surat itu tak pernah saya lupakan. Bapak begitu peduli dengan wong cilik. Semoga Allah menempatkan Bapak ke derajat yang terpuji. Aamiin. Selamat jalan, Bapak Teknologi Indonesia," tutup Hery.

