kumparan
9 Maret 2019 13:00

Q&A: Pengaruh Lirik Berbau Seks Terhadap Psikologi Anak

Ilustrasi, KPI, Lirik Lagu, Seks
Ilustrasi efek lirik musik terhadap otak. Foto: Putri Sarah Arifira/kumparan
Dunia musik kembali terusik. Awal Februari 2019, musisi Indonesia harus berdebat panjang mengenai RUU Permusikan. Wacana itu kemudian diakhiri dengan penarikan oleh anggota DPR sekaligus musisi, Anang Hermansyah.
Masih di bulan yang sama, insan musik dikejutkan dengan surat edaran Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jawa Barat (KPID Jabar). Lembaga tersebut membatasi 17 lagu berbahasa Inggris. Alasannya, lagu-lagu tersebut dinilai mengandung unsur seks dan cabul.
Salah satu dasar KPID Jabar melakukan pembatasan adalah perlindungan terhadap anak-anak dari lagu berkonten dewasa. Hal ini sesuai dengan aturan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Penyiaran (P3SPS).
“Pasal 14 dalam Peraturan KPI lembaga wajib melindungi anak, memperhatikan penggolongan program siaran, penyiaran juga wajib memperhatikan anak dalam setiap aspek produk siaran,” tegas Ketum KPID Jabar Dedeh Fardiah kepada kumparan, di kantornya di Bandung (26/2).
Lalu bagaimana sebenarnya pengaruh lirik lagu berbau seks terhadap anak-anak? Berikut wawancara kumparan bersama psikolog anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo.
Vera Itabiliana Hadiwidjojo
Vera Itabiliana Hadiwidjojo. Foto: Tamara Anastasia Wijaya/kumparan
Bagaimana pengaruh lirik lagu terhadap otak dan perilaku anak-anak?
Lirik memicu munculnya bayangan visual di dalam otak sesuai yang digambarkan lirik (theatre of mind). Jika lirik didengarkan berulang, maka bayangan visual menetap dan kata-kata dalam lirik menjadi terinternalisasi ke dalam pikiran sehingga bisa mempengaruhi perilaku seseorang. Ini bisa terjadi jika tidak terjadi pendampingan atau diskusi saat mendengarkan lagu tersebut.
Apakah berlaku sama dengan lagu berisi seks?
Sama saja pengaruhnya.
Apakah ada batasan umur bagi seseorang dalam mendengarkan lirik berbau seks?
Pengaruh ditentukan oleh pemahaman si pendengar. Pemahaman tentu bergantung pada usianya. Untuk anak yang masih belum paham liriknya, mungkin hanya sebatas menyanyikan saja tanpa paham maknanya.
Tapi tetap saja terlihat kurang pantas seorang anak usia 5 tahun menyanyikan lagu 'Versace on the Floor' (Bruno Mars) misalnya.
Versace On The Floor
Cuplikan video dari Versace On The Floor. Foto: YouTube/@Bruno Mars
Bukannya semakin dibatasi, seseorang malah semakin melawan?
Asal jelas alasan mengapa dibatasi, tidak masalah. Untuk pendengar usia remaja, tentu perlu diskusi tentang hal ini. Karena ada sebagian dari mereka tahu batasan perilaku mereka, meskipun mereka paham dan suka lagu-lagu yang dilarang tersebut.
Di era digital, bagaimana pendampingan orang tua terhadap anak agar tidak terpapar lagu-lagu berbau seks?
Untuk tidak terpapar semakin sulit ya sekarang-sekarang. Ini karena anak mungkin bisa dengar lagu dimana saja, bisa lewat radio saat di mobil atau lewat gadget mereka sendiri.
Musik memengaruhi pergaulan anak
Musik memengaruhi pergaulan anak Foto: Thinkstock
Pendampingan lebih banyak ambil peran dalam diskusi dengan anak ketika orang tua kedapatan mendengar anak mendengarkan lagu-lagu tersebut. Bicarakan apa maksudnya dari lagu tersebut, diskusikan dengan anak apa yang dia suka dari lagu tersebut.
Tren mendengarkan musik di anak-anak sekarang itu seperti apa gambarannya?
Khususnya remaja banyak mendengarkan melalui platform seperti Spotify, YouTube dan lain-lain untuk lihat video klipnya. Intinya, musik masih menjadi bagian dalam hidup mereka, dan sebenarnya yang perlu diperhatikan bukan hanya lirik tapi juga tren gaya yang diciptakan penyanyinya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan