Rekam Jejak Kontroversi Rasmus Paludan, Politikus Swedia Pembakar Al-Quran

16 April 2022 13:43
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Rasmus Paludan. Foto: Instagram/@lawlordofdenmark
zoom-in-whitePerbesar
Rasmus Paludan. Foto: Instagram/@lawlordofdenmark
ADVERTISEMENT
Pada Kamis (14/4/2022), pemimpin partai sayap kanan Denmark dari kelompok Stram Kurs, Rasmus Paludan, memicu bentrok antara pihak aparat dan warga setempat di Swedia. Hal itu dipicu pembakaran Al-Quran yang dilakukan Rasmus Paludan.
ADVERTISEMENT
Penistaan ini dilakukannya di wilayah berpenduduk mayoritas Muslim di Linkoping. Kejadian itu memicu 200 demonstran melempar batu kepada polisi yang mendampingi Paludan pada saat pembakaran. Massa lalu membakar kendaraan aparat.
Ini bukan kontroversi pertama yang dimulai Rasmus Paludan. Politisi sayap kanan garis keras tersebut sudah berulang kali melakukan aksi tak senonoh, yang bahkan pernah membawanya ke dalam penjara.
Berikut adalah profil Rasmus Paludan, mantan pengacara yang terkenal atas reputasi menggelisahkannya.
Demonstran membakar bus polisi saat menentang politisi anti-Muslim Denmark Rasmus Paludan dan partai Stram Kurs-nya, di taman Sveaparken di Orebro, Swedia, Jumat (15/4/2022). Foto: Kicki Nilsson/ TT News Agency/via Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Demonstran membakar bus polisi saat menentang politisi anti-Muslim Denmark Rasmus Paludan dan partai Stram Kurs-nya, di taman Sveaparken di Orebro, Swedia, Jumat (15/4/2022). Foto: Kicki Nilsson/ TT News Agency/via Reuters

Stram Kurs

Stram Kurs, partai yang dibentuk dan dipimpin oleh Paludan ini pertama kali muncul di radar Swedia pada tahun 2017. Sejak awal terbentuk, Paludan dan partainya telah dikenal dengan sikap anti-Islam blak-blakan. Sebelum membentuk partai yang namanya bermakna 'Garis Keras' ini, Paludan bekerja sebagai pengacara.
ADVERTISEMENT
Di tahun Stram Kurs dibentuk, Paludan telah menarik perhatian publik Swedia ketika ia mulai mengunggah sejumlah video anti-muslim di YouTube, demikian dilansir Reuters. Ia bahkan pernah membakar Al-Quran yang dibungkus daging asap beberapa kali.
Selain pandangan ekstrem terkait etnis, imigrasi, dan kewarganegaraan, Stram Kurs juga mendukung larangan adanya Islam dan masyarakat muslim di Denmark. Tidak diketahui berapa banyak anggota yang dimiliki partai tersebut.
"Satu-satunya agenda Stram Kurs adalah menjadi oposisi keras terhadap pengungsi, imigran, dan Muslim pada khususnya. Itu menarik sekelompok kecil pemilih yang berpikir kebijakan anti-imigrasi seharusnya dikeraskan dan lebih radikal," ucap Spesialis Pemilu dan Profesor Ilmu Politik Universitas Kopenhagen, Kasper Møller Hansen, pada Euronews (30/5/2019).

Hukuman Penjara

Pada April 2019, Paludan dijatuhkan hukuman penjara karena telah membuat pernyataan rasis. Pria yang waktu itu berumur 37 tahun tersebut mencoba untuk banding, tapi ditolak. Ia dijatuhi hukuman 14 hari penjara bersyarat akibat kelakuannya.
Rasmus Paludan. Foto: Instagram/@lawlordofdenmark
zoom-in-whitePerbesar
Rasmus Paludan. Foto: Instagram/@lawlordofdenmark
Pada Juni 2020, ia menjalani hukuman percobaan tiga bulan dalam kasus yang melibatkan 14 dakwaan berbeda, di mana ia dinyatakan bersalah atas semuanya. Dakwaan-dakwaan tersebut termasuk akun rasisme, pencemaran nama baik, dan mengemudi dengan berbahaya.
ADVERTISEMENT
Laporan berita lokal Denmark waktu itu melansir bahwa Paludan bahkan dinyatakan bersalah atas penabrakan seorang pria menggunakan kendaraannya. Ia juga terbukti bersalah atas pernyataan rasis. Pengadilan Swedia mencabut izin pengacaranya selama tiga tahun, serta SIM-nya selama satu tahun.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020

Penistaan Al-Quran

Aksi pembakaran Al-Quran yang dilakukan oleh Paludan pada Kamis bukan untuk yang pertama kalinya. Di tahun 2020, Paludan mengunggah sebuah video di mana ia menunjukkan seorang pria membakar kitab suci Muslim di Rinkeby. Beberapa hari sebelumnya, insiden serupa terjadi di selatan kota Malmo, demikian dilansir Al Jazeera.
"Hari ini, Stram Kurs membakar Al-Quran di lubang kotoran dan ghetto Swedia, Rinkenby," tulis Rasmus Paludan di akun Facebooknya waktu itu. Rinkenby merupakan wilayah di ibu kota Stockholm yang memiliki populasi Muslim yang tinggi.
Demonstran membakar bus polisi saat menentang politisi anti-Muslim Denmark Rasmus Paludan dan partai Stram Kurs-nya, di taman Sveaparken di Orebro, Swedia, Jumat (15/4/2022). Foto: Kicki Nilsson/ TT News Agency/via Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Demonstran membakar bus polisi saat menentang politisi anti-Muslim Denmark Rasmus Paludan dan partai Stram Kurs-nya, di taman Sveaparken di Orebro, Swedia, Jumat (15/4/2022). Foto: Kicki Nilsson/ TT News Agency/via Reuters
Sebelum membakar Al-Quran di Rinkenby, Paludan telah meminta izin kepada polisi setempat untuk melakukan aksinya. Permintaan itu ditolak, tapi dihiraukan Paludan.
ADVERTISEMENT
"Banyak penjahat mengatakan bahwa kami tidak bisa melakukan ini. Tapi kami melakukannya," ucap Paludan waktu itu. "Islam adalah agama yang jahat dan primitif, yang tidak memiliki tempat di Denmark, Swedia, atau masyarakat beradab lainnya."
Karena aksi pembakaran di Malmo tersebut, Paludan dilarang masuk ke Swedia selama dua tahun. Namun, ia akhirnya membuat permintaan untuk menjadi warga negara Swedia, dan diterima.

Tuduhan Pelecehan Seksual Terhadap Anak di Bawah Umur

Pada Agustus 2021, koran Swedia Ekstra Bladet mengumbar bahwa Paludan telah menggunakan situs Discord untuk berbicara tentang hal-hal sangat vulgar kepada sejumlah anak laki-laki di bawah umur.
Diketahui, banyak dari suporter Stram Kurs adalah remaja-remaja tanggung.
Pada 'forum politik'-nya di Discord, Paludan dituduh sering berbicara soal seks kepada anak-anak di bawah umur, termasuk mengirimkan foto alat seks. Beberapa dari anak-anak tersebut semuda 13 tahun. Ekstra Bladet menegaskan bahwa mereka memilki bukti untuk tuduhan ini.
ADVERTISEMENT
"Ekstra Bladet dapat membuat ungkapan ini berdasarkan bukti rekaman video dan audio dari Discord, tempat Paludan mengumpulkan anak-anak muda, yang dalam beberapa kasus sendiri telah menyatakan bahwa mereka berusia di bawah 13 tahun," bunyi artikel yang menggegerkan Swedia tersebut.
Rasmus Paludan membantah tuduhan ini pada kolom komentar Ekstra Bladet. Ia menampik telah berlaku tidak senonoh terhadap anak-anak di bawah umur. Paludan berdalih melakukannya tanpa mengetahui umur mereka.
"Jika saya telah menyatakan konten seksual, itu terjadi di saluran yang ditujukan untuk orang yang berusia 15 tahun ke atas," tegas Paludan.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020