kumparan
26 Des 2018 18:37 WIB

Rentetan Bencana di Selat Sunda, Bantuan Logistik Masih Dibutuhkan

Banjir di Labuan, Pandeglang. (Foto: Dok. Istimewa)
Belum selesai dengan tsunami yang terjadi pada Sabtu (22/12), kawasan pesisir Selat Sunda kembali dilanda bencana. Kali ini delapan kecamatan di Kabupaten Pandeglang, Banten, terendam banjir hingga 1,5 meter.
ADVERTISEMENT
Delapan kecamatan tersebut yakni Labuan, Sukaresmi, Munjul, Angsana, Bojong, Patia, Pagelaran dan Panimbang. Kawasan ini sebelumnya juga terdampak tsunami.
Berdasarkan data dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) Pandeglang, sebanyak 1.014 warga mengungsi akibat banjir tersebut. Desa Teluk dan Desa Kalanganyar, Kecamatan Labuan, merupakan kawasan yang paling parah terdampak banjir akibat meluapnya Sungai Cipunten.
"Rumah yang masih berdiri sekarang direndam banjir. Tidak ada korban karena warga masih berada di pengungsian," ujar Ketua Tagana Pandeglang, Ade Mulyana, Rabu (26/12).
Kondisi di Jalan Raya Carita, Labuan km 12,Pandeglang, Banten setelah di hantam tsunami. (Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan)
Pascatsunami, warga Kecamatan Labuan mengungsi ke Kecamatan Jiput, dan sampai saat ini masih bertahan di pengungsian karena khawatir terjadi tsunami susulan. Akses jalan menunju kecamatan yang terdampak banjir terputus, karena semua badan jalan digenang air cukup dalam.
ADVERTISEMENT
BNPB mencatat, data terakhir hingga pukul 13.00 WIB, Rabu (26/12), korban tewas akibat tsunami Selat Sunda berjumlah 430 orang. Sebanyak 1.495 orang luka-luka, 159 orang hilang, dan 21.991 orang masih mengungsi.
Korban meninggal, hilang, dan mengungsi paling banyak berasal dari Kabupaten Pandeglang. Data ini masih akan berubah karena tim masih berada di lapangan untuk evakuasi korban.
Suasana kerusakan pasar malam dampak Tsunami Selat Sunda di Desa Sumber Jaya, Kecamatan Sumur,Kabupaten Pandeglang. (Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan)
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho meminta para warga untuk tetap bertahan di pengungsian. Sebab berdasarkan informasi dari BMKG masih ada potensi untuk longsor bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Warga juga diimbau untuk menjauhi bibir pantai sejauh 500 meter-1 km dari bibir pantai. Sedangkan radius berbahaya menurut PVMBG adalah 2 km dari Gunung Anak Krakatau.
ADVERTISEMENT
Sementara itu kawasan paling parah akibat tsunami adalah Kecamatan Sumur dengan jumlah korban tewas sementara 43 orang. Sejauh ini dari 7 desa yang ada, baru 2 desa yang baru bisa dijangkau, yaitu Desa Taman Jaya dan Desa Tanggung Jaya.
Oleh karena itu saat ini tim gabungan TNI, Polri, Basarnas, dan BNPB sedang mengupayakan agar bantuan sampai di kecamatan paling ujung Pulau Jawa tersebut. “Hari ini tentu 5 desa yang lain segera kita jangkau. Personel ditambah alat berat juga ditambah untuk membantu Desa Cigorondong, Kertajaya, Ujungjaya, Sumberjaya dan Kertamukti,” tutur Sutopo.
Sutopo menyebut, bantuan logistik masih dibutuhkan untuk disalurkan ke titik pengungsian di wilayah Banten dan Lampung.
Logo Prambors. (Foto: Dok. Prambors)
Untuk membantu meringankan beban para korban tsunami Selat Sunda, kumparan bekerja sama dengan Radio Prambors menggalang dana secara online di platform Kitabisa. Mari salurkan bantuan Anda melalui tautan berikut:
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan