kumparan
News26 Februari 2020 18:13

RS Kariadi Semarang: Pasien Suspect Corona Meninggal karena Bronkopneumonia

Konten Redaksi kumparan
Konpers Pasien Meninggal di Semarang
Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) RSUP dr Kariadi, dr Fathur Nur Kholis saat memberikan keterangan pers. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan
Pasien yang meninggal dalam perawatan di ruang isolasi RSUP dr Kariadi Semarang, Minggu (23/2), dinyatakan negatif virus corona atau COVID 19. Pasien tersebut meninggal dengan diagnosa penyakit bronkopneumonia.
ADVERTISEMENT
Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) RSUP dr Kariadi, dr Fathur Nur Kholis, menjelaskan pasien pria berusia 37 tahun itu meninggal dengan keadaan paru-paru mengalami kerusakan karena infeksi di paru-paru dan saluran pernafasan.
"Jadi pasien itu meninggal karena paru-paru mengalami kerusakan, yang jelas bukan virus corona. Penyebab infeksi di paru-paru banyak sekali, bisa virus, bakteri, jamur atau makhluk hidup yang lain. Kasus yang kemarin meninggal bisa terjadi dengan sebab apa pun, termasuk bakteri. Ini bronkopneumonia, tingkat kematiannya memang tinggi," tutur Fathur di Semarang, Rabu (26/2).
Konpers Pasien Meninggal di Semarang
Direktur Medik dan Keperawatan RSUP dr. kariadi Semarang, dr. Agoes Poerwoko (tengah) saat memberikan keterangan pers. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan
Bronkopneumonia, kata Fathur, merupakan infeksi yang mengakibatkan terjadinya peradangan pada paru-paru yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur.
Fathur menjelaskan, seseorang dengan bronkopneumonia mengalami peradangan di saluran napas. Orang ini mengalami gangguan dalam bernapas, sehingga tidak bisa mengambil oksigen dan tidak bisa keluarkan Co2.
ADVERTISEMENT
"Bapak yang kemarin meninggal tingkat bronkopneumonia itu sangat berat, tingkat kerusakan paru-parunya cukup berat, kemungkinan penyebabnya bakteri," jelasnya.
Terkait perlakuan isolasi terhadap pasien tersebut, dilakukan terkait keamanan karena pasien sempat keluar negeri. Pasien itu baru pulang dari Spanyol transit di Dubai lalu tiba di Indonesia.
Direktur Medik dan Keperawatan RSUP dr. Kariadi Semarang, dr. Agoes Poerwoko, SpOG(K), MARS menambahkan, pasien secara klinis memang kategori pasien dalam pengawasan karena ada riwayat perjalanan luar negeri.
"Dan ada gejala-gejala demam, batuk, sesak napas hingga gangguan pernapasan berat. Pasien dalam pengawasan dilakukan pemeriksaan sesuai arahan Kementerian Kesehatan dan pemeriksaan penunjang untuk cari penyebab adakah infeksi virus corona," kata Agoes.
Hasil medis dari Puslitbangkes di Jakarta menyatakan pasien itu negatif virus corona atau COVID-19. Namun ketika hasil belum keluar, pasien sudah meninggal sehingga perlakuan dilakukan seolah korban positif.
ADVERTISEMENT
"Sampai pasien ini meninggal perlakuan sama seperti positif. Begitu negatif (corona), yang melakukan penanganan lega, tidak harus ada yang dikhwatirkan," ujarnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan