kumparan
20 Juni 2019 2:10

Saksi 02: Moeldoko Pernah Menyebut Kecurangan Bagian dari Demokrasi

Mahkamah Konstitusi, Sidang Kedua MK, Hakim Mahkamah Konstitusi
Hakim Mahkamah Konstitusi saat sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (19/6). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Sidang pemeriksaan saksi gugatan Pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK) berlanjut hingga Kamis (20/6) dini hari. Saksi kelimabelas yang dihadirkan pihak 02 adalah, Hairul Anas Suaidi yang merupakan caleg Partai Bulan Bintang (PBB).
ADVERTISEMENT
Dalam persidangan, saksi Anas mengaku tak mendukung paslon 01 Jokowi-Ma'ruf meski partainya PBB mendukung paslon tersebut. Di persidangan, Anas mengaku mengikuti training of trainer (TOT) yang digelar oleh TKN Jokowi-Ma'ruf.
"Saya adalah caleg dari PBB yang mendukung paslon 01. Saya diminta hadir di training saksi tanggal 20-21 Februari di Kelapa Gading dan saya diutus oleh PBB di hotel di Kelapa Gading," kata Anas dalam persidangan.
Hairul Anas
Hairul Anas. Foto: Dok Istimewa
Dari keterangan Anas di persidangan, ia mengaku mendapat pelatihan mengenai pemenangan pasangan Jokowi-Ma'ruf. Di salah satu materinya, lanjut dia, ada yang menerangkan mengenai kecurangan merupakan bagian dari demokrasi.
"Saya mendapatkan materi di dalam pelatihan dua hari itu, di mana dalam catatan dan ingatan saya, juga ada slidenya, pertama adalah ada satu slide yang mengatakan kecurangan adalah bagian dari demokrasi," terang Anas.
ADVERTISEMENT
"Materi ini diunggah di satu drive, dan ini ditayangkan saat kalau enggak salah Pak Moeldoko," ujarnya.
Di kesempatan lain, giliran tim kuasa hukum Jokowi-Ma' ruf memberi pertanyaan kepada saksi. Pertanyaan disampaikan angota tim hukum Jokowi-Ma'ruf, Teguh Samudra. Ia bertanya apakah benar di dalam training yang Anas ikuti ada instruksi untuk berbuat kecurangan.
"Kecurangan adalah bagian demokrasi. Apakah Saudara saksi dijelaskan, kecurangan ini harus dilakukan atau orang lain juga bisa lakukan kecurangan?" tanya Teguh.
"Dua-duanya tidak kena (tidak ada)," jawab saksi Anas.
"Apa Saudara mendengar dan mengalami karena alam demokrasi bisa mengatakan curang ke semuanya?" tanya Teguh.
"Banyak yang menyatakan curang," jawab Anas.