News
·
21 November 2020 14:23

Satgas COVID-19: Belum Ada Klaster Corona Selama Pilkada 2020

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Satgas COVID-19: Belum Ada Klaster Corona Selama Pilkada 2020 (44492)
Ilustrasi pilkada Foto: Embong Salampessy/Antara
Tahapan kampanye pelaksanaan Pilkada 2020 masih berlangsung meskipun di tengah pandemi corona. Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas COVID-19, Sonny Harry B. Harmadi mengatakan sejauh ini pihaknya belum mendapat laporan adanya klaster corona selama pelaksanaan Pilkada 2020.
ADVERTISEMENT
"Alhamdulillah memang tidak ada, belum ada terdengar juga munculnya klaster pada tahapan Pilkada. Kita bergembira karena kita juga secara terus menerus kepada seluruh paslon mengingatkan tentang risiko-risiko tadi," kata Sonny dalam diskusi bertajuk 'Evaluasi Kampanye Pilkada 2020', Sabtu (21/11).
Meski begitu, Sonny tak menampik adanya kemungkinan munculnya kasus positif corona di sejumlah daerah saat masa kampanye pilkada. Namun, ia tak mengetahui apakah mereka yang positif corona tertular saat kegiatan kampanye atau bukan.
"Kami belum mendapat detailnya apakah dia itu tertular pada saat kampanye atau sedang kegiatan terkait dengan pilkada atau tertularnya di luar. Karena sebetulnya itu ada datanya ditracing. Dia bisa tahu apakah tertular pada saat tahapan pilkada atau tertular dalam kegiatan yang lain," ujarnya.
ADVERTISEMENT
"Sejauh ini kami belum memperoleh informasi bahwa ada satu klaster atau super klaster positif di mana dia tertular pada saat melaksanakan kegiatan pilkada, itu belum ada," imbuh Sonny.
Satgas COVID-19: Belum Ada Klaster Corona Selama Pilkada 2020 (44493)
Ilustrasi vaksin corona. Foto: Shutterstock
Sonny pun mengatakan Satgas terus mengingatkan agar setiap tahapan pilkada memperhatikan protokol kesehatan dengan baik, termasuk saat pemungutan suara. Dia berharap tak ada kerumunan yang menambah risiko penularan corona.
"Karena pada saat pemungutan suara, jumlah orang yang hadir mungkin akan jauh lebih banyak. Berkali-kali kami mewanti-wanti agar di dalam pemungutan suara itu betul-betul diperhatikan protokol kesehatannya," ujarnya.
"Kegiatan apa pun kalau dia berkerumun itu berbahaya. Nah, kadang-kadang ada pengerahan massa yang kami khawatirkan pada saat pemungutan suara, dan itu tentu sangat berbahaya," tandas Sonny.
ADVERTISEMENT