kumparan
9 Oktober 2018 10:24

Sederet Prestasi Pejudo Miftah yang Didiskualifikasi Asian Para Games

Miftahul Jannah, atlet judo, asian para games
Pejudo putri Indonesia Miftahul Jannah meninggalkan arena usai didiskualifikasi dari pertandingan kelas 52 kg blind judo Asian Para Games 2018 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Senin (8/10). (Foto: ANTARA FOTO/BOLA.COM/M Iqbal Ichsan)
Langkah Miftahul Jannah untuk bertarung medali di cabang judo Asian Para Games 2018 harus terhenti. Atlet asal Aceh itu didiskualifikasi karena tak mau melepas hijabnya saat pertandingan.
ADVERTISEMENT
Miftah, sapaan Miftahul Jannah, merupakan gadis kelahiran Aceh Besar yang tumbuh dan besar di Abdya. Perempuan berusia 21 tahun itu memulai pendidikan di Sekolah Dasar Luar Biasa Negeri (SDLBN) Kecamatan Susoh. Lalu lanjut ke SMPLB Aneuk Meutuah di Kota Jantho Aceh Besar.
Tamat dari sana, Miftah melanjutkan pendidikannya ke Pulau Jawa, tepatnya di SLBNA (SMA) Kota Bandung, Jawa Barat. Dengan keterbatasan yang dimiliki, sejak masih duduk di bangku sekolah Miftah sudah memiliki sederet prestasi, terutama bidang olahraga.
Miftahul Jannah, atlet judo, asian para games
Pejudo putri Indonesia Miftahul Jannah (tengah) berunding dengan perangkat pertandingan sebelum bertanding di kelas kelas 52 kg blind judo Asian Para Games 2018 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Senin (8/10). (Foto: ANTARA FOTO/BOLA.COM/M Iqbal Ichsan)
Tak hanya judo, Miftah juga mencatatkan prestasi di cabang olahraga lainnya. Segudang prestasi itu di antaranya, juara ajang lari 100 dan 200 meter, lompat jauh, dan juara satu Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tingkat nasional tahun 2013.
ADVERTISEMENT
Di cabang olahraga Judo, Miftah pernah meraih juara I Pekan Olah Raga Nasional (PON) 2016 di Jawa Barat. Kemudian di Asean Para Games 2017 Malaysia, meraih peringkat 8 lari 400 meter. Bahkan ia juga pernah menjuarai perlombaan catur di 2017.
Kemudian Miftah juga pernah mengikuti pelatihan Program Kecakapan Hidup (PKH) yang diselenggarakan oleh Lembaga Indonesia Prancis (LIPI) pada tahun 2015, pembuatan aplikasi game aksesibel penyandang tunanetra di Singapura dan Malaysia tahun 2016.
Di Asian Para Games 2018, Miftah menyimpan kesedihan karena harus kalah sebelum bertanding. Namun itu sudah menjadi keputusan bulat Miftah. Ia memilih untuk tetap mempertahan hijab daripada melepasnya untuk ikut bertanding.
Wakil Ketua KONI Abdya, Alamsyah, mengatakan sebelumnya Miftah telah masuk ke pelatnas dan latihan selama 10 bulan untuk mempersiapkan Asian Para Games 2018. Atas insiden diskualifikasi itu, kata dia, Miftah juga menyampaikan keinginan untuk berhenti menjadi atlet judo.
ADVERTISEMENT
"Miftah menerima atas keputusan juri meski dia tetap merasa sedih. Cuma dia menyampaikan bahwa ini yang terakhir kalinya ia ikut judo," kata Alamsyah kepada kumparan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan